
Orang pertama yang Bian curigai adalah Dani Prananda,dosen Kia.Tangannya sudah mengepal kuat saat mobil sudah berhenti di parkiran apartemen di mana pria itu tinggal.
Kalau sampai istrinya disembunyikan olehnya,Bian benar-benar tidak akan mengampuninya.Bian melangkahkan kakinya setengah berlari agar secepatnya sampai pada unit tempat Pak Dani tinggali.
Jangan tanya dari mana Bian tahu tempat tinggal pria yang menyukai istrinya itu,bahkan pria-pria yang sempat bertegur sapa dengannya di kampus pun Bian mengetahuinya.
Ting......tong......Ting.....tong.....
Bian terus memencet bel dengan kasar.Rama yang mengikutinya pun tidak menghentikannya ataupun memperingatkan kalau malam sudah larut,mungkin saja orang lain akan terganggu.
Bugh....
Pukulan keras Bian layangkan saat Pak Dani menampakkan wajahnya dari balik pintu.Dia pun terjatuh karena tidak siap juga terkejut dengan serangan Bian padanya.
"Di mana istriku?"Bian menarik baju Pak Dani.
"Kau tidak salah mencari istrimu di tempatku?"
"Tidak usah banyak bicara!Katakan saja,kau sembunyikan di mana istriku?"bentak Bian mendorong tubuh Pak Dani ke dinding.
Dengan emosi yang meluap-luap,Bian kembali memukul Pak Dani tepat di perutnya sampai Pak Dani terbatuk dan meringis,jatuh berlutut di bawahnya.
Bian melihat ke sekeliling ruangan.Langkahnya terus mengajaknya untuk menyusuri setiap bagian ruangan apartemen Pak Dani.Rama pun ikut mencari keberadaan Kia di sana.
Setelah puas memeriksa seluruh ruangan,keberadaan Kia tak juga ditemukannya.
"Kia.....!Kia.......!"panggil Bian.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada Kia?Dia sedang hamil,kan?"tanya Pak Dani mulai khawatir juga.
Walaupun Kia sudah tidak mungkin menjadi miliknya,tapi tetap saja rasa itu tidak mungkin begitu cepatnya menghilang dari hatinya.
"Apa Kia pergi?"tanya Pak Dani lagi.
"Kalau sampai aku tahu kau yang berada di balik menghilangnya istriku dan kau berpura-pura tidak tahu,aku tidak akan pernah mengampuni mu!"
Bukan jawaban yang Bian berikan untuk pertanyaan Pak Dani,melainkan sebuah ancaman yang dia ucapkan dan pergi begitu saja meninggalkannya dengan raut khawatir dan kebingungan.
* * *
"Tuan,sebaiknya Tuan istirahat dulu!"kata Rama melihat Bian yang sudah terlihat lelah.
"Istirahat?Kau pikir istri dan calon bayi ku akan bertahan selagi menungguku beristirahat?"bentak Bian emosi.
"Aku akan mencarinya sendiri!"Bian merebut kunci mobil dari tangan Rama.
Takut terjadi sesuatu kalau Tuannya yang menyetir dalam keadaan seperti itu,Rama merebut kembali kunci mobil dan segera masuk,duduk di balik kemudi untuk melanjutkan pencarian mereka ke mansion Daddy nya.
Tak sedetikpun mata lelah Bian terpejam.Mata itu terus melihat foto calon bayinya dan juga istri kecilnya.Malam pun sudah hampir berganti pagi.
* * *
Sampai di kediaman orang tuanya,Bian langsung menemui Mommynya yang sedang sarapan bersama dengan yang lainnya.Mommynya itu pernah melabrak dan menampar istrinya,wajar kan kalau Bian menaruh rasa curiga pada orang tuanya itu.
"Sayang,kamu pulang?"Nyonya Sofia menyambut putranya yang menghampirinya di meja makan.
__ADS_1
"Tidak usah berbasa-basi,di mana istriku?"tanya Bian langsung.
"Itu sedang makan bersama kami di meja makan!"tunjuk Nyonya Sofia pada Seline yang sejak lama menginap di mansion nya.
"Mom!!!Mommy sangat tahu siapa yang aku maksud!"Bian masih mencoba menahan amarahnya.
"Mommy tidak tahu siapa yang kamu maksud.Yang Mommy tahu,menantu Mommy cuma satu yaitu Seline."
"Mom!"teriak Bian.
Wajahnya sudah benar-benar memerah menahan rasa frustasinya.Sungguh Bian tidak ingin menyakiti hati Mommynya.Apalagi sampai membuatnya menangis.Tapi,Mommy nya sudah sangat mematik emosinya.
Plakk.....
Daddy David menampar anak sulungnya itu begitu keras.
"Begini sikapmu pada wanita yang sudah melahirkan mu?Kau bahkan berteriak padanya cuma demi satu wanita yang baru saja hadir di dalam kehidupanmu,hah!"ucap Daddy David yang juga tersulut emosi.
"Ha....ha....ha......"Bian tertawa miris.
"Cuma demi wanita yang baru hadir?Kia memang baru hadir di dalam hidupku,tapi Dia sudah mampu membuatku merasa kalau hidupku lebih berarti,"lanjut Bian tersenyum kecil.
Semuanya terdiam.Key tidak tega melihat kehancuran di mata kakaknya itu.Kakaknya itu sangat mencintai Kia,tidakkah mereka melihat itu?
"Tuan,"Rama membisikkan sesuatu di telinga Bian.
Bian dan Rama pun pergi dari mansion mewah itu dengan buru-buru tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada anggota keluarga lainnya yang melihat bingung dengan kepergian mereka.
__ADS_1