
"Tuan,sepertinya mobil Nona Kia berjalan menuju ke desanya."
Rama menunjukkan history perjalanan mobil yang dikendarai oleh Pak Ali lewat GPS yang terpasang pada mobil itu.Bian menghembuskan nafas lega dan segera menyuruh Rama melajukan mobilnya menuju desa.
Saat perjalanan menuju desa,hujan turun sangat lebat dan diiringi suara petir.Rama memelankan laju mobilnya karena jalan desa yang becek dan berlubang.Tak lama setelah itu,akhirnya mobil Bian sampai di depan rumah Kia yang sudah disita Bank beberapa bulan yang lalu.Bian melihat mobil Kia terparkir di depan rumah tetangga sebelah rumah Kia.
Bian keluar tanpa memperdulikan hujan deras yang mengguyur tubuhnya.Rama yang baru saja akan memberikan payung yang tersedia di mobil melongo melihat Tuannya yang menerobos hujan ke arah mobil yang biasa Kia pakai.Rama pun menyusul membawa payung untuk Bian.
Tok...tok....tok.....
Bian mengetuk pintu rumah tetangga Kia dengan keras agar terdengar oleh pemilik rumah.
Ceklek.....
Pintu terbuka dan muncullah wajah yang membuatnya merasa khawatir sekaligus kesal sejak siang tadi.
"Siapa,Nak?"teriak bude Reni dari belakang.
"Entahlah,bude!"teriak Kia juga menatap Bian dengan wajah yang datar.
Bian terdiam mendengar ucapan Kia yang sama persis seperti yang diucapkannya saat ditanya oleh Sania saat di resto.
"Siapa,yah?"tanya bude mendekat.
"Tuan!Ada yang bisa dibantu?"bude Reni menyadarkan Bian yang memaku.
"Saya mau menjemput istri saya!"Bian menatap Kia.
"Istri?istri Tuan siapa?"tanya bude kembali dengan raut wajah bingung.
Kia masih diam memandang Bian.Bian menarik tangan Kia mendekat padanya.
__ADS_1
"Ayo,pulang!"
"Eh...eh.....kenapa malah maksa anak ibu?"bude menghentikan Bian.
"Dia istri saya!"seru Bian.
"Bener,Kia?"tanya bude memastikan.
Kia tidak mengangguk ataupun menggeleng. Bian yang tidak sabar menunggu jawaban Kia lagi-lagi menggendong Kia di bahunya.Rama yang akan memayungi mereka jadi bingung.Seperti apapun Rama memayungi, mereka akan basah juga.Akhirnya Rama membiarkan mereka hujan-hujanan.
"Apa Tuan itu benar suaminya Kia?"tanya bude pada Rama.
Rama hanya menjawabnya dengan mengangguk dan pergi ke mobilnya.
Bian menyuruh Kia berhenti berontak karena jalan yang licin.Bian membawa Kia ke rumahnya yang dulu.Dengan masih menggendong Kia di bahunya,Bian membuka kunci pintu rumah itu dan menurunkan Kia saat sudah berada di dalam dan mengunci pintu.
"Hey...kenapa malah masuk ke sini?"
"Dulu sih iya,ini rumah ayah.Tapi sudah disita oleh Bank.Dulu rumah ini nggak sebesar ini.Sekarang sudah dibangun dua tingkat,"Kia mengedarkan pandangannya melihat rumah yang dulu menjadi tempat ternyaman nya.
Rumah itu masih dalam tahap pembangunan.Masih banyak yang belum selesai dibangun.
"Rumah ini sudah jadi milikmu lagi!"beritahu Bian memeluk Kia dari belakang.
Kia melepaskan diri dari pelukan Bian,"Kenapa?"
"Karena aku sudah menebusnya kembali dan sertifikatnya sudah atas nama kamu,"Bian menangkup wajah Kia dengan tangannya yang sudah dingin.
"Benarkah?"Kia terlihat sangat senang walau badannya kedinginan.
"Hem...!"
__ADS_1
Kia memeluk Bian.Tubuh keduanya masih basah dan mereka tidak mempedulikan itu. Tiba-tiba Kia teringat kejadian di resto tadi siang dan langsung mendorong tubuh Bian.Kekesalannya kembali mengambil alih.
"Nggak usah deket-deket!Saya kan bukan siapa-siapanya Tuan Abian Abraham!sarkas Kia.
Bian memegang kedua bahu Kia,"Maaf!"
Kia memalingkan wajahnya,Dia masih sakit hati dengan ucapan Bian.Bian mendekat dan memeluk Kia erat saat Kia memberontak, memukulinya.
"Maafkan aku!Aku tidak bermaksud mengucapkan kata itu.Wanita itu Sania,sepupuku.Aku akan memperkenalkan kamu pada seluruh keluargaku disaat yang tepat,"jelas Bian.
"Oh,ya!Kapan itu?Kapan saat yang tepat itu akan datang?"cecar Kia kesal.
Bian melepaskan pelukannya karena Kia sudah mulai tenang.Bian kembali menangkup wajah Kia agar menatapnya.
"Beri aku waktu untuk menjelaskan kepada orang tuaku tentang pernikahan kita,hum!"
"Apa orang tuamu akan menerimaku?"
Bian memeluk Kia tanpa menjawab pertanyaan dari Kia.Bian sangat tahu bagaimana Daddy-nya itu.Dia tidak akan menerima perpisahannya dengan Seline. Apalagi,pernikahannya dengan Kia.Belum lagi Mommynya yang sangat menyayangi Seline.Bian takut Kia akan diperlakukan tidak baik oleh mereka.
"I just need you to hold my hand and tell me everything's gonna be okay,"Bian mempererat pelukannya.
"Aku janji akan menyelesaikannya secepat mungkin,"ucap Bian dalam hati.
"Hatchimmm........"Bian melepaskan pelukannya dan menjauh.
"Sebaiknya kita pulang atau mencari hotel.Nggak mungkin juga mau tidur di sini dengan baju yang basah seperti ini.Rumah ini juga belum selesai dan belum ada perabotannya juga,"ujar Bian.
"Tapi hujan masih deras!"
"Tidak apa-apa,pelan-pelan aja jalannya nanti."Bian menggandeng Kia keluar untuk pergi.
__ADS_1
Tapi sebelum pergi,Kia pamitan terlebih dahulu dengan bude Reni.Setelah berpamitan, mereka pun pergi dari desa tempat Kia dilahirkan.