Istri Simpanan Pak Tua

Istri Simpanan Pak Tua
Akhir dari Sebuah Kisah


__ADS_3

Kia ...!!!"teriak Key saat Kia menjatuhkan dirinya dengan posisi menekuk lututnya.


Bian yang melihat itu seakan menjadi beku tak dapat bergerak.Sedangkan Biyan yang tadinya sudah terlelap seketika membuka matanya karena terkejut dengan suara tembakan juga riuh para tamu undangan yang berteriak menyelematkan diri masing-masing.


Saat suami dari adik iparnya itu belum tersadar dari keterkejutannya,Rama segera menggiring keluarganya juga keluarga istrinya untuk masuk ke lingkaran penjagaan.


Keadaan semakin tak terkendali karena semua orang berlari tak tentu arah.Biyan yang terkejut pun akhirnya menangis sampai menyadarkan papanya.Segera Bian menyerahkan putranya pada Daddy-nya dan menggendong tubuh istrinya yang sudah hampir kehilangan kesadarannya.


Semua orang pun mengikuti Bian yang menuju mobilnya untuk membawa sang istri langsung ke rumah sakit.Pak Ali dan pak Beno segera mengamankan situasi dan meminta semua orang agar tidak panik.


Sementara Bian membawa Kia ke rumah sakit diikuti oleh keluarga yang lain,Rama mengejar si penembak yang kakinya juga tertembak oleh pak Beno.Ternyata,suara tembakan itu bukan cuma suara tembakan yang mengarah pada Kia.Bersamaan dengan tertembaknya Kia,si penembak yang mengenakan Hoodie itu juga terkena tembakan di kakinya.


Rama meminta sebuah senjata api pada bawahannya dan dengan cepat berlari mengejar orang itu.Karena kakinya yang terluka,orang itupun tak dapat berlari dengan kencang sehingga Rama bisa mengejar dan menarik Hoodie yang menutupi kepalanya.


"Sania!"kaget Rama.


Pantas saja,Bian mengetatkan penjagaan.Ternyata Sania kabur dari penjara.Padahal,putusan pengadilan belum dia dapatkan.Tapi,dia sudah berulah kembali.


Melihat Rama yang lengah menarik Hoodie nya,Sania pun sekuat tenaga untuk melepaskan diri dan berlari dari sana.Mendapat tepukan di bahunya dari pak Ali,Rama pun tersadar dan kembali mengejar Sania yang sudah berlari sampai ke jalan.


Tak ingin melepaskan buruannya,Rama pun mengarahkan senjatanya ke arah wanita itu.


"Sania ... menyerah lah!Atau kau akan merasakan satu tembakan lagi di kakimu,"teriak Rama sambil berlari mengejarnya.


Namun,Sania tak jua berhenti untuk menyerah dan terus berlari tanpa melihat ke depannya.Rama sudah siap menembakkan peluru ke arah kaki Sania sampai sebuah mobil truk datang menghantam tubuh Sania dari arah persimpangan.Tubuh Sania pun terlempar jauh beberapa meter dari sana.


Sementara di sebuah rumah sakit,Bian segera membawa tubuh istrinya yang sudah lemas tak berdaya ke ruang UGD.Ketakutan akan kehilangan sang istri kembali melandanya.


Dokter segera datang dan menangani Kia yang sudah mulai ditindak oleh perawat yang berjaga.Saat dokter meminta persetujuan untuk melakukan operasi,tangan Bian sampai gemetar untuk menandatangani surat tersebut.


Melihat putranya yang masih menangis dalam gendongan opanya,Bian pun mengambilnya dan mendekapnya erat.Dia tidak sanggup kalau harus ditinggalkan oleh Kia lagi.


"Mama pasti baik-baik aja,kan?Iya,kan?"ucapnya pada sang putra.


Air matanya sudah mengalir dengan diiringi suaranya yang gemetar.Kedua pria kesayangan Kia itu saling memeluk dengan air mata yang terus mengalir,pilu.


Tuan David dan nyonya Sofia yang melihat itu merasa sesak.Dalam hati,mereka berdoa agar yang maha kuasa tidak memisahkan mereka kembali.Key yang gaunnya terkena sedikit noda darah, menghampiri kakaknya dan keponakannya.


"Doain Mama ya,Sayang!Bilang ke Mama untuk bertahan dan kembali kepada kita!"Key pun menangis memeluk keduanya.


Operasi tengah berlangsung,Bian terus menatap pintu itu seraya terus memanjatkan doa untuk keselamatan sang istri.Kurang lebih tiga jam,waktu berlalu.Bian tak beranjak sedikitpun dari depan pintu.


Sampai dokter yang menangani operasi pengangkatan proyektil pada istrinya keluar dengan wajah lelahnya.Melihat wajah lesu dokter itu,Bian mendekatinya dengan jantung yang berdegup begitu kencang.


Saat dokter itu menjelaskan tentang keadaan istrinya,Bian terduduk lemas dengan air mata yang terus mengalir dengan derasnya.Keluarga yang mendengar pun ikut meluruhkan air matanya dan memeluk Bian yang terlihat tak berdaya di lantai.


-


-


-

__ADS_1


* * *


Lima tahun kemudian ...


Seorang pria dengan garis wajah tegas tengah duduk memandang langit cerah di sebuah taman rumah sakit.Netra kelamnya menatap langit seolah menantang silaunya cahaya sang surya.


Mata itu tampak berkaca-kaca.Dalam pandangannya,wajah gadis manis dengan senyum yang memperlihatkan gigi kelincinya terbentuk begitu cantik pada awan putih yang ada di atas sana.


"Senyum yang cantik!"lirihnya begitu sendu.


Waktu telah bergulir begitu cepatnya.Namun,rasa kehilangan tetap mengisi rongga di dalam dadanya.Sesak itu masih terasa,karena ketidaksanggupannya untuk melindungi.


"Maaf ... maaf ... maaf ...,"ucapnya berulang kali.


Air mata pun tak sanggup untuk bertahan di pelupuk matanya.Biarlah kali ini ia menangisinya,agar lega juga perasaannya.Perlahan awan yang membentuk wajah yang dirindukannya menghilang, menandakan bahwa si gadis cantik memang sudah tak lagi bersamanya.


"Bian ...,"panggil nyonya Sofia menyadarkannya.


"Iya,Mom?"tanyanya menghapus air matanya yang terjatuh tadi.


"Bagaimana Key?Apa baby nya sudah lahir?"


Bian menggaruk pelipisnya karena tidak tahu.Tadi,dia langsung pergi ke taman karena bosan kalau harus menunggu seorang diri.Adiknya itu sudah ditemani oleh suaminya di ruang bersalin.


Key memang akan melahirkan anaknya yang pertama.Dan saat Bian dan juga Rama akan pulang dari kantor,ibunya Rama yang memang sudah beberapa hari menginap untuk menjaga istrinya menelpon memberitahu kalau Key akan melahirkan.


Dan di sinilah ia sekarang.Ibunya Rama tadi sedang pergi ke minimarket yang ada tak jauh dari rumah sakit untuk membeli beberapa barang yang dibutuhkan untuk Key.


"Nggak tahu juga,Mom.Rama yang mengantarnya ke ruang bersalin tadi!"ujar Bian.


Pertanyaan itu,membuat Bian terdiam sejenak sebelum kemudian tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.Nyonya Sofia tahu betul apa yang ada dipikiran putranya itu.


"Dia sudah bahagia di surga sana!"ucap nyonya Sofia mengusap bahu putranya.


Bian pun mengangguk,mengiyakan ucapan sang ibu dan menggandeng tangannya menuju ruang bersalin.Tuan David yang baru datang karena habis memarkirkan mobilnya yang ia kendarai sendiri,mengambil tangan istrinya yang digandeng oleh putranya.


"Posesif!"ucap Bian pada sang ayah.


"Itu kamu tahu,"balas tuan David.


Sampai di depan ruang bersalin,ketiga orang itu serta Bu Sukma yang sudah kembali sontak melebarkan senyumnya mendengar suara tangis bayi yang begitu nyaring dari dalam sana.


Tak lama kemudian, seorang perawat membawa keluar bayi mungil yang sangat cantik untuk ditindaklanjuti.Selang berapa lama,Key yang berbaring di atas brankar keluar untuk dipindahkan ke ruang rawat.


Semua pun mengikutinya dari belakang.Rama yang terlihat kusut berjalan disampingnya dengan tangan yang terus menggenggam erat sang istri.


"Bagaimana,Ram?Enak menemani istri melahirkan?"tanya tuan David pada menantunya yang terlihat beberapa luka cakar pada tangannya.


"Sangat luar biasa,Dad!"ucap Rama mengulas senyumnya pada sang istri yang tengah menimang bayi cantiknya setelah diberi asi.


Raut bahagia begitu terpancar dari wajah-wajah itu.Karena para orang tua memutuskan untuk menemani Key,Bian pun memilih untuk pulang.

__ADS_1


Setelah dua tahun pasca penembakan di acara resepsi pernikahan Rama dan Key yang menewaskan Sania langsung di tempat kejadian,Bian memutuskan untuk menempati rumah yang sengaja dia buat untuk sang istri.Setengah jam waktu yang Bian tempuh dari rumah sakit menuju rumahnya.Sampai di rumah,keadaan tampak begitu sepi.


Bian segera menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.Sampai di kamarnya,Bian meletakkan tas kerjanya dan melepaskan jas yang masih dikenakannya.Lelah sekali rasanya hari ini.


Ia yang akan pergi ke kamar mandi,menghentikan langkahnya saat matanya melihat foto besar yang terpajang di dinding di atas tempat tidurnya.Fotonya bersama dengan sang istri juga anaknya.


Bibirnya melengkung membentuk senyuman yang menawan saat tangan seseorang melingkar di perutnya dari belakang.Seseorang yang hampir saja pergi dari hidupnya kalau saja dia tidak membawanya ke rumah sakit tepat waktu.


"Kok lama pulangnya?"tanya Kia yang menyandarkan wajahnya pada punggung suaminya.


"Tadi ke rumah sakit dulu.Key sudah melahirkan,"jelas Bian.


Kia langsung membelalakkan matanya mendengar itu."Kenapa nggak ngasih tahu,sih?"


Bian membalik tubuhnya menatap Kia.Dia memang belum sempat memberitahukan hal itu.Orang tuanya saja,Rama yang memberi kabar.Lagian,dia juga berniat akan memberitahu kalau dia sudah sampai di rumah seperti sekarang ini,mengingat istrinya ini yang tengah mengandung anak ketiganya.


"Kamu lagi hamil besar gini,takutnya kamu malah ingin langsung ke rumah sakit,"jawab Bian.


"Ya ... memangnya kenapa kalau aku langsung ke rumah sakit?Aku hamil baru tujuh bulan,Sayang!"ucap Kia gemas.


"Kalau kamu ke rumah sakit,Biyan dan Ardi sama siapa?Nggak mungkin kamu tinggal,kan?Kamu juga nggak ingin ngajak mereka juga,karena Ardi kan masih kecil,"ujar Bian.


Ardinata Abraham,putra kedua Bian dan Kia.Saat operasi selesai dilakukan,dokter menyampaikan kalau ternyata Kia tengah mengandung dan diperkirakan usia kehamilan sudah memasuki Minggu ke delapan.


Kini,usianya sudah empat tahun dan kakaknya,Biyan juga sudah memasuki sekolah dasar karena usianya sudah tujuh tahun.Dan sekarang,Kia kembali dipercaya oleh yang maha kuasa untuk mengandung kembali.


Kali ini,dokter sudah memprediksikan bahwa anak ketiga mereka berjenis kelamin perempuan.Makanya,saat di taman rumah sakit tadi,ia kembali mengingat putrinya yang belum sempat hadir ke dunia namun pernah hadir di dalam mimpinya.Gadis mungil nan cantik yang memiliki senyum seperti ibunya.'Durriyah' cahaya mutiara bagi keluarganya.


Kia membenarkan ucapan sang suami dan tidak mendebatnya lagi.Ia pun menyuruh sang suami agar segera membersihkan dirinya dan mulai menyiapkan pakaian untuknya.


Usai mandi,Bian turun ke lantai bawah menghampiri istri dan kedua putranya yang tengah menikmati waktu sore.Kia sudah menghubungi mertuanya tadi untuk melihat bayi cantik yang baru saja dilahirkan oleh adik iparnya.


Besok Key sudah diperbolehkan pulang dan ia akan melihatnya di rumahnya saja yang memang Rama bangun untuk keluarga kecilnya.


"Papa ...!!!"seru Ardi merentangkan tangannya pada papanya yang baru turun.


"Uh ... jagoan Papa sudah wangi,"Bian mengangkat tubuh sang putra kedua.


Inilah kehidupan bahagia Bian sekarang.Setelah mengalami berbagai cobaan yang mengujinya,akhirnya kebahagiaan ini didapatkannya juga.Meski, kerikil-kerikil kecil dalam rumah tangganya akan menghiasi setiap perjalanan hidupnya,Bian dan Kia akan terus berusaha untuk mengatasinya sebaik mungkin.


S E L E S A I


* * *


Alhamdulillah ...


Cerita Istri Simpanan Pak Tua akhirnya happy ending.Mohon maaf apabila ada kata atau kalimat yang tidak sesuai dengan kehidupan nyata.Atau mungkin terkesan lebay dan drama,mohon dimaklumi.


Terima kasih untuk para pembaca yang sudah meluangkan waktunya dan mendukung kisah Abian Abraham dan Azkia Putri sampai pada akhir cerita.


Saya dan keluarga juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakan.Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Sampai jumpa lagi di lain kesempatan ....


Love you all 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2