Istri Simpanan Pak Tua

Istri Simpanan Pak Tua
My Lovely Wifey


__ADS_3

"Kayaknya Pak Dani mau pedekate deh,sama lo!"seru Tio.


Saat ini mereka bertiga sudah keluar dari area fakultas.Di sebuah cafe yang terbilang cukup populer di kalangan anak muda,mereka akan makan siang dan seperti biasa,mereka akan bertindak seperti seorang juri yang menilai dan menebak bahan apa yang dipakai pada makanan yang mereka pesan.


"Nggak usah ngawur deh,kamu!"Kia menolak persepsi yang Tio pikirkan.


"Tapi bener tahu,kata nih cowok kepedean.Pak Dani tuh kek yang mepet-mepet ke elo gitu.Lo nya yang nggak sadar atau Lo sadar tapi Lo sengaja menepis pemikiran itu,"timpal Fira membenarkan apa yang Tio pikirkan.


"Kalian terlalu banyak berpikir.Udah ah,kita ke sini bukan untuk bahas Pak Dani,kan?"


"Iya,sih!Ya udah lah.Kalian mau pesan apa? Seperti biasa ya,pesan menu yang berbeda!"putus Fira.


Mereka pun memesan menu yang berbeda agar mereka bisa saling mencicipi makanan masing-masing diantara mereka.Tak lupa Tio juga menjadikan acara icip-icip mereka untuk content channel mukbangnya.


* * *


"Apa masih ada meeting yang harus kita hadiri lagi?"tanya Bian dengan pandangan yang masih fokus pada iPad nya.


"Untuk sekarang tidak ada,Tuan!Tapi nanti sore,Tuan harus bertemu dengan klien dari perusahaan McG dari negara S!"jelas Rama.


Bian mengangguk kecil dan melihat Rama lewat center mirror.


"Kita ke perusahaan Papanya Seline!"


"Baik,Tuan."


Rama memutar kemudinya menuju perusahaan Pak Anggara.Saat ini,kebetulan sudah waktunya makan siang.Bian akan mengajak Pak Anggara makan siang sekalian menegaskan kembali keputusannya untuk berpisah dari putrinya.


Sesampainya di depan ruangan Pak Anggara,berbarengan dengan Pak Anggara yang juga hendak pergi makan siang.Bian menyapa lelaki paruh baya yang masih berstatus mertuanya dengan sopan dan dibalas Pak Anggara dengan wajah dingin,tak bersahabat.


"Ada apa lagi?"tanya Pak Anggara tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Bisa kita bicara?Sekalian makan siang,mungkin!"ajak Bian.


Tanpa banyak kata,Pak Anggara menunjuk Bian untuk mengikutinya.Pak Anggara menuntun Bian ke sebuah restoran yang memiliki private room.Sambil menunggu pesanan mereka datang,Bian memulai pembicaraannya.


"Papa tidak perlu menyalahkan Seline untuk apa yang kami putuskan.Kami sudah dewasa dan sudah bisa menentukan ke mana arah jalan hidup yang bisa membuat kami bahagia. Kami sangat berharap kalian para orang tua mendukung apa yang kami lakukan."


"Kalian pikir,perpisahan kalian akan membuat kalian bahagia?"tanya Pak Anggara sinis.


Menurut Pak Anggara,orang tualah yang paling tahu apa yang bisa membuat anak-anaknya bahagia.Dan cinta bukanlah hal utama yang bisa membuat pasangan akan awet selamanya.Kalau bisa memenuhi apa yang pasangan hidupnya butuhkan,maka sudah dapat dipastikan bahwa mereka bahagia dalam pernikahannya.Itulah yang selalu tertanam dalam pikiran Pak Anggara.


Memang itu tidaklah salah.Tapi setiap orang memiliki pemikirannya sendiri untuk mencapai kebahagiaan masing-masing. Kebanyakan orang cenderung akan semakin meronta apabila terus dipaksa melakukan hal yang tidak mereka inginkan.Begitu juga dengan Bian dan Seline.Mereka sudah melakukan apa yang orang lain inginkan dan mereka tidak merasa bahagia.Sekarang,saat mereka ingin mendapatkan kebahagiaannya sendiri,mereka juga pasti menuntut agar orang tua mereka pun mengerti dan melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan.


"Setidaknya itu yang kami inginkan.Sekalipun nanti kami tidak bahagia,kami tidak akan menyalahkan siapapun untuk keputusan yang kami ambil."


"Kalian hanya memikirkan perasaan kalian sendiri.Apa kau tahu apa yang akan terjadi jika kalian bercerai?Apa kau pernah memikirkan tentang perusahaan kalau kalian benar-benar berpisah?"


"Saya rasa perceraian diantara saya dan Seline,tidak ada hubungannya dengan perusahaan.Kalau soal kerja sama perusahaan dan investasi,Papa nggak perlu khawatir.Kerja sama akan tetap terjalin dan ABR COMPANY akan selalu siap apabila dibutuhkan.Dan saya pun berharap Papa juga akan melakukan hal sebaliknya."


Bian mengepalkan tangannya dengan menggertakan giginya.Ternyata inilah alasan mengapa Daddy-nya begitu marah saat Dia mengutarakan keinginannya untuk berpisah dengan Seline.


"Bukankah ABR COMPANY sudah membayarnya lebih dari bantuan yang perusahaan Papa berikan?"


Pak Anggara sama marahnya dengan Bian.Tak ingin melakukan hal yang bisa membuatnya melampiaskan amarahnya pada Pak Anggara,Bian lebih memilih untuk meninggalkan ruangan.Tanpa berucap,Rama yang melihat wajah Bian yang keruh,langsung mengikutinya menuju mobilnya.Mereka pun pergi kembali ke kantor tanpa makan siang.


Dert....dert.....


Panggilan telepon masuk dari ponsel Bian.Dilihatnya nama 'My Lovely Wifey' tertera di sana.Bian menetralkan perasaannya dan meredakan amarah dengan menghembuskan nafasnya perlahan.Bian mematikan sambungan dan menggantinya dengan panggilan video.


Kia langsung menjawab panggilan video dari suaminya dan siap untuk mengomel.Saat melihat wajah lelah 'Pak Tua'nya,Omelan yang siap meluncur pun ditelan kembali.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Kok,ada apa?Kan kamu yang telepon tadi."


"Maksud aku,wajah kamu kelihatan capek banget.Apa ada masalah di kantor?"


Hati Bian rasanya menghangat dapat perhatian dari Istri kecilnya ini.Kia seperti tahu kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Nggak kok.Biasalah,Rama selalu memberikan pekerjaan yang banyak padaku. Badanku jadi agak pegel-pegel."


Rama yang menjadi kambing hitam hanya bisa bersungut-sungut di dalam hati.


"Oh."


"Cuman 'Oh'?"


"Ckk....Kamu sudah makan,Mas?"


"Em...."


"Pasti belum,kan?Kamu tuh nggak kapok-kapok ya,Mas!Kayaknya suka banget melihat orang lain khawatir."


"Bukan begitu.Ini kita baru aja mau makan siang!"


"Yang bener?Mana buktinya?"


Rama yang mengerti langsung mengarahkan mobilnya masuk ke parkiran cafe depan kantor.Bian mengarahkan kameranya ke cafe.


"Sudah percaya?"


"Hem.Ya sudah kalau begitu,kalian cepet makan.Sudah jam segini baru mau makan siang.Lain kali,harus tepat waktu!Kalau sudah waktunya makan,kerjaannya dipending dulu!"


"Iya,Nyonya Abian!"

__ADS_1


Kia mematikan sambungan videonya.Pipinya lagi-lagi bersemu merah dipanggil Nyonya Abian oleh suaminya.Begitu pula dengan Bian,senyum selalu mengembang di wajah tampannya.Mereka seperti remaja yang baru merasakan jatuh cinta.Kalau Kia sih,emang masih dikatakan remaja,ya.Tapi kalau Bian......


__ADS_2