
Masih di hari yang sama,namun matahari sudah perlahan meninggalkan sinarnya.Malam ini,sesuai rencana awal,mereka merayakan pernikahan Salwa dan pak Dani.
Cuma bedanya,anggotanya saja yang bertambah.Para wanita menyiapkan makanan yang Rama pesan tadi.Dan prianya menyiapkan tempat untuk mereka lesehan.Karena kursi makan tidak mencukupi,mereka pun menggelar tikar di pekarangan belakang rumah.
Walaupun halaman belakang rumah tidak terlalu besar,tapi cukup untuk mereka melakukan piknik di malam ini.Kebetulan juga suasananya mendukung.Langit dipenuhi bintang dan anginnya juga bersahabat.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu terdengar dari dapur dan mengalihkan atensi Kia,Salwa,dan juga Key yang sibuk menghangatkan makanan dan membuat minuman.
"Biar saya yang lihat,Non!"interupsi Bu Asih yang baru mengantarkan Biyan pada papanya.
Akhirnya,Biyan sudah berdamai dengan papanya itu.Wajah Bian yang sudah lebih baik,membuatnya tak lagi ketakutan melihatnya.Bian juga mengubah cara pendekatannya menjadi lebih lembut dan tidak terlalu memaksa.
Ceklek
"Cari siapa ya?"tanya Bu Asih melihat dua orang yang tidak dikenalnya itu.
"Maaf,apa benar ini rumahnya Non Kia?"tanya pak Beno.
"Non Kia?Non Kia siapa ya?"bingung Bu Asih.
Tadi saat melihat pemilik rumah memiliki tamu,Bu Asih pun pamit pulang setelah memberikan minum.Jadi,dia belum mengetahui cerita Kia sampai berada di sana.
"Siapa Bu?"tanya Kia menghampiri.
"Ini,Non!Katanya mereka nyariin yang namanya Non Kia."
Kia melihat tamu yang datang dan langsung ingin memeluk mereka berdua.Tapi,baru tangannya membuka pintu lebih lebar dan hendak mendekat ke arah pak Ali dan pak Beno,Bian menahan kepalanya agar berhenti.
Merasa atas kepalanya ditahan seseorang,Kia menolehkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya.Tatapan tajam Bian langsung menghunus nya.
"Pak Ali,Pak Beno,masuk ... masuk ...!"seru Kia riang.
"Terima kasih,Non.Kita berdua senang Non Kia selamat dan sehat seperti ini,"ujar pak Beno.
"Saya minta maaf,Non.Karena kelalaian saya,Non Kia harus terpisah sekian lama dengan Bos Bian,"sesal pak Ali menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Pak Ali ngomong apa sih?Seharusnya sayalah yang patut disalahkan karena bertindak sesuka hati,tidak mau mendengar saran dari Bapak.Saya yang harus meminta maaf pada Pak Ali,"aku Kia.
"Sampai kapan kalian mau main salah-salahan dan saling maaf-maafan?Semua orang sudah lapar karena menunggu kalian,"omel Bian menyela.
"Ckk ... perusak momen!"decak Kia sewot melirik suaminya itu.
"Maaf,Tuan!"cengir pak Beno.
"Hem,masuklah!"suruh Bian.
Semuanya pun beranjak menuju taman belakang rumah yang sudah disulap begitu indah.Lampu-lampu sudah terpasang,makanan dan minuman pun sudah tersaji di sana.
Mereka pun menikmati malam ini dengan bercerita tentang keseharian masing-masing selama tak bersua.Pak Dani juga sudah mengadukan perbuatan Bian yang menghajarnya saat mencari Kia.Bian juga menuduhnya waktu itu.
Bian biasa saja menghadapi pengaduan mantan dosen istrinya itu.Meski sang istri melotot tajam padanya,Bian tak peduli.Dia malah asik menyuapi anaknya yang sudah mulai lengket padanya dengan makanan kesukaannya.
Ternyata,mereka mempunyai makanan favorit yang sama.Sama-sama menyukai seafood,apalagi kalau Kia yang memasaknya.
"Apa kalian mencurigai pak Anggara sebagai dalang dibalik penculikan Kia waktu itu?"tanya pak Dani.
Saat ini,para pria tengah menikmati kopinya sembari mengobrol.Sementara wanitanya membersihkan peralatan makan agar tidak berantakan dan besoknya tidak harus repot mengurus semuanya.Biyan juga sudah tertidur pulas karena lelah bermain.
"Semuanya masih menjadi teka-teki,kalian harus lebih waspada lagi sekarang.Menurutku,pelaku tidak mungkin bekerja sendiri.Pasti ada orang lain dibaliknya.Saat itu atau mungkin sampai sekarang status Kia sebagai istri simpanan Anda belum ada yang tahu,kan?"tanya pak Dani yang membuat Bian mendengus.
"Luka Anda bahkan belum mengering,tapi sudah minta dihajar lagi!"kesal Bian.
"Apanya yang salah,coba?"bingung pak Dani tak menyadari ucapannya.
"Saya akan menjaga Non Kia dan Den Biyan dengan sungguh-sungguh.Kali ini,saya tidak akan kecolongan lagi,Tuan.Beri saya kesempatan lagi untuk menjaga mereka!"ucap pak Ali dan diangguki pak Beno.
"Kalau bukan kalian,siapa lagi yang akan saya tugaskan untuk menjaga mereka?"
"Terima kasih,Tuan.Terima kasih,"girang pak Ali dan pak Beno.
"Hem."
* * *
__ADS_1
Malam semakin larut,sejak merebahkan tubuhnya di atas kasur,Bian selalu menatap wajah teduh istrinya.Mereka tidur di ranjang yang sama dengan Biyan yang tertidur di tengah-tengah mereka.
"Tidur!"Kia menutup mata suaminya dengan tangan kanannya.
Bian mengambil tangan lembut itu lalu menciumnya.Dia seolah takut,kalau menutup matanya,semuanya akan menghilang.Karena hal itu sudah sering terjadi.
"Aku pernah bermimpi,seorang gadis mungil yang sangat cantik menghampiriku.Dia memanggilku papapa."
Kia membuka matanya yang berusaha untuk tidur.Mata pasangan suami-istri itu saling beradu.
"Dia sangat menggemaskan.Wajahnya mirip seperti kamu.Namun matanya,matanya sepertiku.Dan yang paling aku suka dari gadis mungil itu adalah senyumnya.Dia juga memiliki gigi kelinci seperti kamu,bedanya miliknya masih terlihat kecil dan imut-imut,"cerita Bian dengan mata yang berbinar.
"Lalu?"lirih Kia.
"Lalu seseorang memanggilnya.Namanya kalau nggak salah ...,"Bian mencoba mengingat.
"Durriyah."
"Durriyah."
Ucap keduanya berbarengan.Bian menatap mata istri kecilnya yang berubah sendu.Diusapnya pipi Kia dengan penuh kasih sayang.Setetes air mata Kia jatuh melewati hidungnya.
"Durriyah,dia kembarannya Biyan.Saat Kak Salwa mengantarkan ku ke rumah sakit,Dokter mengatakan kalau salah satu dari calon janinku gugur.
Aku pun baru tahu kalau aku mengandung bayi kembar.Ketika pemeriksaan juga cuma terdeteksi satu.
... Tuhan lebih menyayanginya ... bidadari kecilku ...."
Kia tak sanggup lagi menceritakan kembali rasa sakitnya kehilangan sang bidadari kecilnya yang sudah lebih dulu pergi.Bian berdiri dan mendekati Kia.
Dipeluknya istrinya itu erat-erat.Kesedihan Kia juga kesedihannya.Bian tidak menyangka kalau gadis mungil dalam mimpinya adalah putrinya.
"Aku memberinya nama Durriyah yang berarti cahaya mutiara.Entah kenapa aku memberinya nama anak perempuan,"jelas Kia melengkungkan senyumnya.
"Nama yang cantik,seperti orangnya.Dialah yang membantuku untuk terus mencari kalian."
"Hem.Bidadari kecilku memang sangat cantik!"lirih Kia.
__ADS_1
'Terima kasih Durriyah,cahaya mutiara ku' batin Bian.