
"Sudahlah,Bian!Biarkan istri kamu sendiri dulu.Kamu lebih baik mandi,istirahat!"ujar Nyonya Sofia.
"Tapi,Mom ...."
Nyonya Sofia gemas sekali rasanya melihat putranya yang susah dikasih tahu ini.
"Kamu lihat muka kamu di cermin,sudah seperti cucian kotor,tahu nggak.Sana bersih-bersih!"sebal Nyonya Sofia.
Mau tak mau,Bian beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya.Ketika sudah masuk ke dalam kamar,bukannya menuruti apa yang dikatakan sang ibu,Bian malah keluar ke balkon kamarnya.
Di sana,Bian masih berusaha menghubungi istrinya.Merasa frustasi,Bian mengambil rokok yang biasa dia simpan di laci kamarnya.Dan ternyata,masih tersimpan beberapa batang rokok beserta korek apinya.
Asap rokok keluar dari sela bibir Bian.Langit malam ini,tak menampakkan kilauan cahaya bintang satupun.Begitu pun rembulan,seperti tak ingin menemani kegalauan Bian.Sepertinya malam ini akan turun hujan.
Tak lama Bian duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya, ponselnya berdering.Bian segera melihatnya dan dia harus menelan kekecewaan karena yang menelponnya bukanlah orang yang diharapkannya.
"Hem ... sudah dapat dimana lokasinya?"tanya Bian langsung.
"Maaf,Tuan!Sepertinya Nona Key,juga Nona Kia sengaja menonaktifkan GPS nya,"jawab Rama.
Bian menghembuskan nafasnya berat.Apa kesalahannya sangat besar,sampai istrinya tidak mau mendengarkannya.Bian tidak mengucapkan apa-apa lagi dan mematikan sambungan teleponnya.
"Kia ...!"lirihnya.
Tanpa terasa hari semakin larut dan hujan pun mulai turun.Mata yang tadinya terpejam,kini terpaksa terbuka karena terkena percikan air hujan yang menetes di pagar pembatas balkon.
Bian melihat jam di ponselnya,sudah hampir tengah malam.Dia berdiri hendak masuk.Tapi,keadaan kamarnya terlihat gelap, begitupula di bagian mansion Daddy nya yang lain.Apa mungkin di kompleks perumahan se-elite ini mati lampu?
Dengan berjalan sembari meraba pada dinding,Bian masuk dengan menggunakan lampu senter dari ponselnya.Saat sudah sampai di dalam kamar,Bian seketika terpaku di tempatnya berdiri.Sayup-sayup terdengar kasak-kusuk dari arah tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kia ...?"
Tak ada sahutan.Bian melangkahkan kakinya mendekati arah suara tadi.Istrinya itu sudah pulang,kan?Baru beberapa langkah kakinya berjalan,suara keras membuat Bian terperanjat kaget sampai terjatuh dengan jantung yang berdegup kencang.
Duaarrr ...
"Astaga ...!"teriak Bian.
Kia muncul dengan kue ulang tahun yang dipenuhi lilin-lilin kecil.Tadi,dialah yang memecahkan balon tepat di depan Bian.Untung suaminya itu tidak memiliki riwayat penyakit jantung.
__ADS_1
"Happy birthday to you ... happy birthday to you ... happy birthday ... happy birthday ... happy birthday to you ... yeayyyy ...."
Masih dalam keadaan gelap gulita,Kia duduk di depan suaminya yang masih terduduk dengan tangan yang tak lepas mengelus dadanya.Bian menatap kue ulang tahun dan Kia secara bergantian.Apa dia sedang di prank???
"Tiup lilinnya ...!"ucap Kia.
"Cepetan,pegel tahu!"imbuh Kia lagi.
Walau masih dalam keadaan jantung yang berdegup dengan cepat,Bian menuruti juga apa yang istrinya suruh.Namun,belum juga lilin ditiup,Kia menyetopnya.
"Make a wish dulu,dong!"ucapnya.
Bian mendengus sebal,tadi disuruh niup lilinnya cepet-cepet.Plin-plan sekali,untung cinta.Bian menutup matanya,berdoa dalam hati.Lalu segera meniup lilin-lilin yang sangat banyak itu.
"Kamu taruh berapa sih lilinnya?Banyak banget,"protes Bian sambil meniup lilin yang susah untuk dipadamkan itu.
"Tadinya sih,mau sesuai umur kamu,Mas.Tapi,kata Mbaknya,nggak muat kalau harus dipasang tiga puluh lima lilin.Ya udah, sepenuh kuenya aja,"jelas Kia.
"Merepotkan!"
Setelah hampir lima menit waktu berlalu,akhirnya semua lilin pun padam dan keadaan menjadi gelap kembali.Bian menerangi istrinya yang akan berdiri dengan masih membawa kue ulang tahunnya.
Bian mengambil alih kuenya dan menarik tangan istrinya agar mengikutinya.Diletakannya kue itu di atas meja.Kia langsung memeluk suaminya yang terlihat lusuh.Sebenarnya dia tidak tega melihat suaminya seperti itu.Tapi,apalah daya,ini semua demi memuluskan kejutannya.
"Maaf ...."ucap Kia dalam dekapan sang suami.
"Aku yang minta maaf.Seharusnya aku mendorong wanita itu saat Dia akan memelukku tapi ak-"
"Terlalu terkejut dan malah menikmati pelukannya,apalagi ciumannya.Iya,kan?"potong Kia.
Kia sedikit mendorong dada Bian,melepaskan pelukannya.Dia jadi kesal kembali mengingat apa yang terjadi tadi siang di pesta ulang tahun putranya.
Nafas panjang berhembus dari bibir Bian.Istrinya masih kesal dengannya.Ini salahnya,dia hanya ... entahlah apa yang terjadi tadi.Dia terdiam bukan karena dipeluk oleh Sania.
Bian terkejut,tapi pikirannya langsung tertuju pada sang istri.Itulah sebabnya Dia jadi terpaku sejenak dan tidak tahu kalau Sania malah mencium pipinya.
"Maaf,maaf,maaf ...,"Bian memegang tangan Kia dengan wajah yang tertunduk.
"Hufth ... oke,kali ini aku maafkan.Tapi,kalau lain kali ini terjadi lagi,aku benar-benar akan pergi.Ke luar negeri kalo bisa,"ucap Kia.
__ADS_1
"Janji,nggak akan ada lain kali,"ucap Bian.
Baru Bian akan mencium bibir istrinya,Kia menjepit bibir suaminya dengan jarinya.
"Apalagi sih,Kia ...!Aku tuh kangen banget sama kamu."
"Heleh ... baru juga berapa jam nggak ketemu.Lebay banget,"ucap Kia.
Bian mendengus tak terima.Diangkatnya tubuh istrinya dan dihempaskan ke atas ranjang empuk miliknya.Rasa rindunya sudah sampai di ubun-ubun,dia malah dikatain lebay.
"Kamu sudah buat aku frustasi,sekarang terima hukumanmu!"ucap Bian melepas kancing kemejanya.
"Tapi,kita belum potong kue,buka ka ... hempth ...."
Ucapan Kia terhenti karena ciuman dari Bian.Kia hendak mendorongnya lagi,tapi Bian segera mengambil tangannya dan menariknya ke atas kepala.Ciuman pun semakin lama semakin menuntut.
Bian baru melepaskannya saat mereka hampir kehabisan oksigen.Masih dengan nafas yang memburu,Bian ingin mencium bibir candu itu lagi.
"Kamu belum mandi,Mas!"ujar Kia.
"Nanti,setelah urusan kita selesai,"bisik Bian di depan wajah sang istri yang sudah merona.
Suara hujan yang semakin deras meredam ******* yang keluar dari bibir Kia.Benar-benar malam yang mendukung untuk kedua pasangan suami-istri itu.Cuaca yang dingin pun menjadi panas di kamar itu.
Sampai akhirnya keduanya meneriakkan nama satu sama lain.Bian mengusap kening istrinya yang bersimbah peluh,lalu dikecupnya dengan penuh cinta.
"I love you."
"Love you too."
* * *
Tak jauh beda dengan suasana di kamar Bian,di sebuah kamar hotel, seseorang pun tengah bermandikan peluh.Entah dengan siapa dia terbang ke nirwana.
Tadi,selepas dari rumah Bian,Sania pergi dengan hati yang berkecamuk.Tak ingin pulang ke rumah dalam keadaan marah,Sania memutuskan untuk pergi ke sebuah club'.
Di sana,dia memesan minuman dengan kadar alkohol yang lumayan tinggi.Dia ingin mabuk untuk meluapkan amarahnya.Lalu,tak lama dia datang,ada seorang pria yang mendekatinya.Sania belumlah mabuk saat pria itu mengajaknya ke sebuah hotel.
Dan akhirnya, mereka pun melakukan hubungan yang seharusnya tidak dilakukan oleh pasangan yang belum terikat pernikahan.Sania menikmati setiap sentuhan yang pria itu lakukan dengan mengumpat Bian juga keluarganya.
__ADS_1
Sampai di akhir pelepasan,Sania menyebut nama Bian berkali-kali.Sania tidak terima dengan perlakuan Bian juga keluarganya yang tidak menerima dirinya,apalagi istrinya itu.Dia merasa lebih segala-galanya dari wanita yang Bian nikahi.Dia pasti akan membalas penghinaan mereka.