Istri Simpanan Pak Tua

Istri Simpanan Pak Tua
You're Going To Be A Dad!


__ADS_3

"Pufth....ha...ha.....,"dokter Rania tertawa.


Sahabatnya ini melucu,tapi wajahnya datar seperti jalan tol.Dokter Rania baru saja menyelesaikan seminarnya di dekat cafe ini.Dan sebelum kembali ke rumah,dia ingin makan siang dulu.


"Mana mau juga aku sama cowok kanebo seperti kamu.Bisa-bisa hidupku ngenes kayak Seline,"ujar dokter Rania.


"Ya...ya....cowok pecicilan seperti Vino emang paling cocok untuk kamu,kalian klop!"ucap Bian.


"Tapi ngomong-ngomong,bukannya Vino juga ke luar kota?Naya gimana?"tanya Bian.


"Kayak nggak tahu Naya aja,Dia kan lebih suka bareng Omanya daripada sama Mama dan Papanya,"ujar dokter Rania.


"Makanya,luangkan waktu lebih banyak untuk anak.Jangan sampe nasib Naya seperti seseorang yang kekurangan kasih sayang orang tuanya!"lirih Bian mengingat masa kecilnya.


"Aish....jadi melow deh!Oh,ya!Gimana perkembangan hubungan kamu dengan Seline?"tanya dokter Rania.


"Sudah cerita apa aja si ember bocor sama kamu?"tanya Bian tanpa menjawab pertanyaan dokter Rania.


"Everything,"jawabnya.


"Terus,kenapa masih nanya?"sebal Bian.


"Ram,kamu kok tahan banget seharian sama Dia?"tanya dokter Rania pada Rama yang dari tadi hanya diam.


Rama mengangkat kedua bahunya dan melanjutkan makan tanpa peduli perbincangan antara dua sahabat itu.Dokter Rania berdecak melihat kembaran Bian ini.Mereka sama-sama kanebo kering,apa yang bisa diharapkan dari dua orang datar ini.


"Ckk,gimana mau dapat jodoh kalau kamu meniru gaya Dia.Btw,selamat yah bossque!"ucap dokter Rania pada Bian.


"For what?"Bian mengernyit.


"For your wife's pragnancy!"seru dokter Rania.

__ADS_1


"Siapa?"bingung Bian.


Rama menghentikan makannya dan menatap dokter Rania lekat.Seline atau Kia yang dimaksud oleh dokter Rania.Kalau Seline yang hamil,itu pasti bukan Bian ayahnya.Tapi kalau Kia,entah akan sebahagia apa Tuannya itu.


"Ya,ampunnnn!!!Yang punya istri dua,bingung ya istri yang mana yang aku maksud?"canda dokter Rania tak peduli dengan wajah Bian yang sudah tegang.


"Rania!!!!"seru Bian.


"KIA.Kia istri kamu kan?"tanya dokter Rania menciut.


Bian terdiam sejenak,mencoba mencerna apa yang dokter Rania ucapkan.Apa ini alasan Kia memintanya untuk pulang?Berita bahagia inikah yang ingin istrinya itu sampaikan?


"Kia?Istriku Kia,hamil????"tanya Bian dengan mata berbinar.


"Apa Kia belum ngasih tahu?"tanya dokter Rania merasa sudah salah mencuri start.


Tanpa menjawab dokter Rania,Bian berdiri dan segera berlari menuju mobilnya tanpa ingat dengan Rama yang masih duduk di kursinya.


Di parkiran,Bian baru sadar kalau Rama lah yang memegang kunci mobil.Bian terus menghubungi nomor istrinya,namun seperti biasa,istrinya itu sulit sekali untuk mengangkat panggilan telepon darinya.


"Rama,cepatlah!"


Saat Rama akan membuka pintu mobil untuk Bian,Bian lebih dulu membukanya dan menyuruh Rama untuk segera masuk.Rama segera melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi namun tetap berhati-hati.


Kehamilan Kia akan semakin mempererat hubungan mereka,istri kecilnya itu tidak akan pernah berpikir untuk pergi lagi.Ini adalah momen yang Bian tunggu.Memanjakan istri yang sedang hamil,menghadapi ngidamnya istri,Bian pernah mendengar hal-hal itu yang akan terjadi jika seorang istri sedang mengandung.Dia sudah tidak sabar untuk mewujudkannya.


* * *


Sebuah kotak persegi panjang dengan dihias pita diatasnya semakin mempercantik kado yang Kia siapkan di atas meja di kamarnya.


Bian yang melihat itu tak sabar untuk melihatnya,tapi dimana istrinya itu berada.Seluruh bagian apartemennya sudah Bian periksa.Tapi,istri kecilnya itu tak juga menampakkan batang hidungnya.Ponselnya juga tidak diangkat.Hanya nada dering yang terus Bian dengar dari ponsel Kia.

__ADS_1


Dibukanya kado itu pelan-pelan dengan jantung yang berdebar.Sebuah tulisan yang mampu menggetarkan hatinya menyambut penglihatannya saat tutupnya dibuka.



Baju mungil dengan tulisan 'You're Going To Be A Dad!' mampu membuat air mata Bian menetes.Bian kembali melihat isi dari kotak itu.Foto USG calon bayinya,meski masih sangat mungil,itu saja sudah membuat bibir Bian melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.Yang terakhir adalah surat keterangan dari sebuah rumah sakit yang Kia kunjungi.Dan dokter Rania,sahabatnya lah yang memeriksanya.


Bian keluar dari kamar dengan membawa serta kado istimewa yang istrinya berikan.Langkah kakinya berjalan cepat untuk mencari keberadaan Kia.Begitu bersyukurnya Bian mendapat kado ini.


"Boss!"sapa Pak Beno yang baru keluar dari lift.


"Mana istriku?"tanya Bian langsung.


"Non Kia dan Pak Ali pergi belanja,Bos!Katanya mau masakin Bos makanan yang spesial.Emang ada perayaan apa Bos?"tanya Pak Beno kepo.


"Apa harus ku jawab?"tanya Bian dingin dan Pak Beno langsung menggeleng cepat.


"Kenapa Pak Beno nggak ikut?"tanya Bian lagi.


"Tadi saya diminta untuk membeli bunga ini,Bos!"jawab Pak Beno menunjukkan bunga mawar yang ada di tangannya.


"Oh.Berikan bunganya!"


Pak Beno menyerahkan bunga itu pada Bosnya dan Bian langsung masuk lagi ke dalam apartemennya.Dia akan menunggu istrinya itu di dalam saja.Rama yang baru datang membawa tiga kopi ditangannya mengajak Pak Beno untuk ngopi bersama di tempat biasa Pak Beno dan Pak Ali menjaga Kia.


"Kok sendiri,mana Pak Ali?"


"ngantar Non Kia belanja!"


"Pak Beno nggak ikut?"


"Nggak,kan saya ada di sini.Kalo saya ikut,pasti saya nggak ada di sini dong,Ram!"

__ADS_1


"Oh...!"


__ADS_2