Istri Simpanan Pak Tua

Istri Simpanan Pak Tua
Kamu Sudah Hadir


__ADS_3

"Tuan,tangan-,"Rama menghentikan ucapannya saat Bian mengangkat tangannya.


"Langsung ke kantor!"kata Bian.


Rama menjalankan mobilnya tapi tidak untuk langsung menuju kantor melainkan belok ke arah rumah sakit.Kali ini,Rama tidak ingin menuruti kemauan Tuannya yang keras kepala.


"Rama!"geram Bian.


"Maaf,Tuan!Nona Kia akan sedih kalau melihat luka di tanganmu tidak segera diobati."


"Ya nggak harus ke rumah sakit juga kali.Diobati di kantor kan bisa,buang-buang waktu saja!"sewot Bian.


"Maaf,Tuan!Kita sudah sampai,"beritahu Rama.


Rama keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Bian.Para perawat yang sudah mulai beraktivitas tidak dapat melepaskan pandangannya dari Bian dan Rama.Rumah sakit itu memang bukanlah rumah sakit ternama.


Rama menunggu Bian yang sedang diobati di ruang tunggu.Karena luka di tangan Bian tidak terlalu besar,proses pengobatan pun tidak memakan waktu yang lama.Setelah selesai diperban,Bian dan Rama kembali melanjutkan perjalanan mereka ke kantor.


* * *


Kia sudah bersiap akan pergi.Dia bingung harus memberitahu suaminya atau tidak.Kia mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk memberitahu Bian kalau dia akan pergi.


[Aku akan pergi!]


[Aku memberitahu bukan meminta izin]


Kia memasukkan kembali ponselnya dan keluar dari kamarnya.Pak Ali dan Pak Beno yang sudah diberitahu kalau Kia akan pergi pun sudah standby di depan pintu.


"Ayo,Pak!"


"Baik,Nona!Apa Non Kia sudah memberitahu Bos kalau akan pergi?"tanya Pak Ali.

__ADS_1


"Bukannya Pak Ali atau mungkin Pak Beno yang sudah melapor lebih dulu?"tanya Kia balik.


"Heee.....he.....,Non tahu aja!"jawab Pak Beno.


Pak Ali membukakan pintu untuk Kia,"Terima kasih,Pak!"


Mereka pun pergi ke sebuah tempat yang sudah Kia beritahu tadi.Kia memainkan jemarinya,harap-harap cemas.Sesampainya di tempat tujuan,Kia turun dan langsung menemui resepsionis untuk mencaritahu dimana letak ruangan seseorang yang dicari.


Setelah tahu dimana letak ruangan orang yang dicarinya,Kia langsung melangkahkan kakinya ke sana.Kia mendaftarkan namanya dan menunggu sampai namanya dipanggil.


Setelah dua puluh menit menunggu,akhirnya namanya pun dipanggil.Kia berdiri dan masuk kedalam ruangan itu dengan hati yang berdebar-debar.Ini pengalaman pertama baginya masuk ke ruangan seperti itu.


"Selamat pagi,Nona Kia!"sapa dokter Rania.


"Selamat pagi,Dok!"sapa Kia juga.


"Dokter Vino sudah menceritakan keadaan kamu kemarin,"ucap dokter Rania.


"Dokter Vino yang bilang?"Kia mengangguk.


"Ya,sudah.Kita periksa dulu,ya!"


Dokter Rania mempersilahkan Kia untuk merebahkan tubuhnya dan menaikkan bajunya sedikit.Dokter Rania mengoleskan gel pada permukaan kulit perut Kia lalu menggerakkan transduser atau alat khusus untuk USG di atas kulit perutnya.


Kia menatap layar pada monitor yang ditunjuk oleh dokter Rania.Tampaklah di sana gambar janin yang masih sangat mungil,kira-kira sebesar buah ceri.Kia bisa melihat lengan dan kakinya yang sudah mulai terbentuk seperti dayung kecil yang berselaput.


Air mata Kia menetes melihat betapa besarnya kuasa Tuhan yang berkembang di dalam rahimnya.Dokter Rania tersenyum melihat air mata yang menetes di pipi Kia.Hal seperti ini sudah biasa dilihatnya saat seorang ibu melihat bagaimana calon bayinya berkembang di tubuhnya.


Dokter Rania menjelaskan secara detail pada Kia mengenai janinnya yang diperkirakan sudah berusia tujuh minggu itu.Setelah melakukan pemeriksaan,Kia kembali duduk di kursi yang terhalang oleh meja kerja dokter Rania.


"Dokter,apa yang harus saya lakukan agar pertumbuhannya berkembang dengan baik?"

__ADS_1


"Yang pasti,kamu harus makan makanan yang sehat.Terutama yang mengandung asam folat dan biasanya itu terdapat dalam susu khusus untuk ibu hamil bisa juga pada suplemen.


Jangan malas untuk bergerak,berolahraga minimal tiga puluh menit sehari,"jelas dokter Rania.


"Olahraga yang seperti apa yang disarankan,Dok?"


"Olahraga yang ringan-ringan saja,bisa yoga,berjalan,atau lebih dianjurkan sih berenang.Tapi harus minum yang cukup disela berolahraga,jangan sampai mengalami dehidrasi.


Tidur yang cukup juga agar tubuh menjadi lebih berenergi.Dan yang paling penting adalah menghindari stres.Ibu hamil harus selalu dalam keadaan tenang dan bahagia.Kamu nggak merokok,kan?"


"Nggak dong,Dok!"Kia menggeleng mantap.


"Bagus!"Dokter Rania mengacungkan jempolnya.


"Apa kamu masih mengalami mual atau mungkin ada keluhan yang lain?"tanya dokter Rania ramah.


"Mual di pagi hari masih dan saya lebih sering buang air kecil,Dok.Apa itu tidak apa-apa?"


"Kamu tenang saja,itu hal yang wajar dialami ibu hamil di usia kandungan masih trisemester awal.Malah nanti bisa saja jerawat akan tumbuh sesuka hati,"canda dokter Rania.


Dokter Rania memberikan resep vitamin untuk mengurangi mual yang Kia alami untuk ditebus di apotek.Setelah menebusnya,Kia menghampiri Pak Ali dan Pak Beno di parkiran.


"Gimana,Non?Apa ada hal yang serius?"tanya Pak Ali yang tidak tahu maksud kedatangan Kia ke rumah sakit.


"Nggak kok,cuma pemeriksaan biasa.Bapak-bapak sekalian tidak perlu merasa khawatir!"ucap Kia dengan senyum yang mengembang.


Pak Ali dan Pak Beno saling tatap melihat Kia yang terlihat sangat bahagia.Kia masuk kedalam mobil diikuti Pak Ali yang masuk di bagian depan dan Pak Beno yang naik ke motornya.Mobil pun melaju ke apartemen.Untuk beberapa hari ke depan,Kia memutuskan untuk tidak masuk kuliah dulu.


Saat melewati jalan yang disisi kiri dan kanannya berjejer para pejuang rezeki,Kia meminta Pak Ali untuk menghentikan mobilnya.Kia turun dari mobil dan menghampiri beberapa penjual makanan untuk membeli.Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya,mobil pun melaju kembali.


Di dalam mobil,Kia selalu mengelus perutnya tanpa dilihat oleh Pak Ali.Kebahgiaannya sudah hadir di dalam rahimnya.Kia berjanji akan melindunginya dari apapun yang mungkin akan terjadi dikemudian hari.

__ADS_1


"Kamu sudah hadir,calon buah hatiku!"lirih Kia dalam hati.


__ADS_2