Janda Muda Vs Duda Tampan

Janda Muda Vs Duda Tampan
Bab 107


__ADS_3

Nabila dan kedua anaknya sudah bersiap dan menunggu Aditya di dalam mobil, sesuai janji nya Aditya akan menemani Nabila cek kandungan dan sekalian mengajak anak dan istrinya itu jalan - jalan.


Sesampai di Rumah sakit, Nabila dan Aditya tidak perlu mengantri atau menunggu terlalu lama untuk menemui Dokter Rossa, karena sebelumnya Aditya sudah melakukan janji dengan dokter Rossa, terakhir Nabila cek kandungan yaitu dua bulan yang lalu, dan saat usia kandungan Nabila yang berjalan ke empat bulan ini barulah Dokter Rossa menyarankan untuk kembali kontrol dan mengecek kandungan Nabila kepadanya.


" Selamat malam Bu Nabila dan juga Pak Aditya " sapa Dokter Rossa.


" Selamat malam Dok " ucap Nabila dan Aditya bersamaan.


" Wah.. kalian siapa namanya, kenalan dulu dong sama dokter" ucap Dokter Rossa kepada Zahira dan Hafidz sembari mengulurkan tangannya.


" Saya Zahira Dokter, dan ini adik saya nama nya Hafidz "


" Hafidz salim " ucap Zahira kepada adiknya.


" lucu banget sih kalian, kalian ke sini pasti pengen liat dedek bayi ya " ucap Dokter Rossa.


" Mau " ucap Zahira dan Hafidz bersamaan.


" Oke kalau gitu kalian duduk disana ya " ucap Dokter Rossa dan menunjuk sebuah sofa panjang yang berada tepat di depan ranjang periksa.


Zahira dan juga Hafidz menuruti apa yang di katakan dokter Rossa.


" Mari Bu kita langsung saja "


Nabila membaringkan tubuhnya di atas ranjang periksa, Aditya membantu menaikkan dress Nabila sampai di bawah dadanya, lalu menurunkan celana Nabila sedikit agar Dokter Rossa dapat dengan mudah memeriksa perut Nabila yang sudah membuncit itu.


Dokter Rossa hanya mengulum senyum melihat kelakuan Aditya, ia tidak menyangka jika Aditya yang katanya mempunyai sifat dingin itu ternyata sangat perhatian kepada istrinya, bahkan untuk hal sekecil ini saja ia mau melakukannya.


" Kita mulai ya " ucap Dokter Rossa mulai menyemprotkan sedikit gel ultrasonik di perut Nabila.


Aditya begitu serius melihat layar monitor yang ada di depannya, sama hal nya dengan Zahira, sedangkan Hafidz hanya sesekali menatap layar monitor itu, kemudian sibuk main sendiri, maklum saja karena umur Hafidz masih tiga tahun lebih, ia masih tidak mengerti.


" Lihat Pak, Bu, mereka tumbuh sehat dan juga beratnya sudah mulai bertambah "


" Ini kepala, tangan dan juga kaki mereka, semua sudah terbentuk, anak ibu dan Bapak yang satu ini sepertinya berjenis kelamin perempuan, dan satunya lagi.. " Dokter Rossa mencoba mencari celah agar bisa melihat jenis kelamin anak Nabila dan Aditya yang satunya.


" untuk yang satunya, sepertinya dia masih malu - malu Pak, Bu, lihat dia membelakangi kita, agak sulit untuk saya melihat jenis kelamin nya, tapi tidak masalah, kita bisa melihatnya lagi nanti, dan ini suara detak jantung nya, apa Bu Nabila dan Pak Aditya bisa mendengarnya "


Deg.. Deg.. Deg.. Deg.. Deg.. suara detak jantung kedua bayi Nabila dan Aditya sangat kencang dan saling berlomba,dan tanpa sadar Aditya meneteskan air matanya, ia sangat terharu sekali mendengar detak jantung buah hatinya itu.


" Mas Aditya menangis, pasti Mas Adit bahagia banget, aku juga Mas " batin Nabila begitu melihat suaminya meneteskan air mata.


" Bunda.. Zahira gak bisa liat apa - apa, adeknya gak keliatan " ucap Zahira.


" Terus itu.. itu apanya adek bunda.. ayah.. " tanya Zahira lagi.


Dokter Rossa, Nabila dan juga Aditya hanya mengulum senyum mendengar pertanyaan Zahira, Zahira tidak berhenti mengoceh dan menanyakan ini dan itu kepada Ayah dan Bundanya.


" Kalau begitu cukup sampai di sini dulu ya Bu, Pak, kita akan bertemu bulan depan lagi "


" Oh ya Dok, waktu itu dokter mengatakan kalau mual dan muntah bagi ibu hamil itu biasa terjadi di awal kehamilan dan akan mulai berkurang jika usia kandungan mencapai 4 bulan, tapi kenapa istiri masih mual dan muntah yang dok, setiap pagi dan juga malam " jelas Aditya karena ia merasa khawatir.


" Jadi Bu Nabila masih sering mual dan muntah? " tanya Dokter Rossa dan hanya di balas anggukkan oleh Nabila.


" Hal seperti itu biasa terjadi Pak, tergantung kondisi masing - masing ibu hamil nya, bahkan ada yang sampai 9 bulan masih terus mulai dan muntah " jelas Dokter Rossa.


" Kasian sekali istriku kalau sampai ia harus terus menerus mual dan muntah sampai 9 bulan " batin Aditya.

__ADS_1


" Tetap di jaga kesehatan nya Bu Nabila, jangan capek dan vitaminnya juga harus rutin di minum, nanti saya akan meresepkan vitamin lagi untuk ibu "


" Terima kasih dokter "


" Sama - sama Bu "


Selesai mengecek kandungan, Aditya berencana mengajak istri dan kedua anaknya untuk jalan - jalan ke sebuah tempat perbelanjaan, Namun tidak sengaja Nabila melihat sebuah pasar malam dan ia ingin sekali kesana.


" Mas.. berhenti Mas.. itu ada apa pasar malam " ucap Nabila.


" Kamu mau kesana? " tanya Aditya.


" Iya Mas, aku sudah lama gak ke pasar malam " ucap Nabila semringah.


" Gak usah aja ya sayang, kita ajak ke Mall aja, gak jauh dari sini " ucap Aditya.


" Ya udah terserah Mas aja " ucap Nabila dengan mata yang mulai berkaca - kaca.


Aditya menghela nafas panjang, melihat istrinya yang ingin menangis, mau tidak mau Aditya mengikuti kemauan Nabila, semenjak hamil Nabila memang sedikit sensitif dan manja kepada Aditya, mata Nabila mulai berkaca - kaca jika mendengar sesuatu penolakan dari Aditya.


" Sudah, jangan ngambek, ayo kita kesana, Mas juga belum pernah ke pasar malam " ucap Aditya sembari mengelus - elus pucuk kepala Nabila.


" Beneran Mas, makasih ya Mas, ayok anak - anak kita ke pasar malam " ucap Nabila semringah dan mengajak kedua anaknya, karena terlalu bersemangat Nabila langsung turun dari mobil.


" Sayang tunggu.. kamu mau kemana " Aditya mencoba menahan Nabila yang ingin turun dari mobil.


" Kenapa lagi sih Mas, katanya mau kepasar malam "


" Kamu tunggu aja di sini, Mas bukain pintu mobilnya, ingat kamu lagi hamil, jangan ceroboh " ucap Aditya.


Nabila tersenyum mendengar ucapan Aditya, dan Aditya pun turun dari mobil membukakan pintu untuk istrinya dan membantu Nabila keluar dari mobil, setelah itu membukakan pintu juga untuk Zahira dan Hafidz.


Mereka berempat mulai masuk kedalam pasar malam itu, Aditya sebenarnya sempat ragu, karena selamat ini ia tidak pernah jalan - jalan ke pasar malam.


" Bunda.. Zahira mau naik itu " ucap Zahira menunjuk sebuah komedi putar.


" Hafidz uga mau nda " ucap Hafidz.


" Kalian mau naik itu, ayo kita kesana " ucap Nabila.


Aditya hanya mengikuti saja kemana langkah istri dan kedua anaknya.


" Kamu mau kemana? " tanya Aditya.


" Mau ikut anak - anak naik komedi putar Mas, ntar Hafidz siapa yang pegangin Mas kalau naik itu "


" Biar Mas sama anak - anak yang main, kamu tunggu di sini aja, ingat kamu lagi hamil,ntar kalau jatuh gimana " ucap Aditya.


" gak kok Mas, aku juga pengen naik itu Mas "


" Gak ada penolakan, kamu tunggu di sini, Mas gak mau kamu kenapa - kenapa "


" Iya deh " ucap Nabila sembari cemberut.


Aditya, Zahira dan Hafidz pun naik komedi putar, Zahira naik sendiri sedangkan Hafidz di temani oleh Aditya.


" Ternyata asyik juga " batin Aditya.

__ADS_1


Aditya dan kedua anaknya melambaikan tangan dan menebar senyum kepada Nabila, walaupun sebenarnya Nabila kesal karena tidak bisa naik komedi putar, tapi ia tetap membalas senyuman kepada anak dan suaminya.


Setelah puas naik komedi putar, Aditya, Zahira dan Hafidz memilih untuk naik Kincir angin, dan kembali lagi Nabila hanya menunggu di bawah, ia tidak di perbolehkan Aditya untuk ikut naik kincir angin.


" Aku jajan aja deh, gak asyik kalau mereka di atas sana senang - senang sedangkan aku bersedih di sini " ucap Nabila lalu pergi membeli berbagai macam cemilan yang ada di sana.


" Mau kemana dia, sudah ku bilang jangan kemana - mana " ucap Aditya melihat istrinya, Aditya ingin mencegah namun posisi mereka sedang di atas, dan tidak mungkin buat Aditya turun.


" Kemana istriku, kenapa dia belum kembali " ucap Aditya coba memperhatikan sekeliling nya, saat ia dan kedua anaknya masih berada di dalam Kincir angin.


Dan setelah selesai, Nabila masih saja belum kembali.


" Yah, bunda mana " tanya Zahira.


" Itu dia bunda " ucap Aditya begitu melihat Nabila datang dengan membawa banyak bungkus makanan, entah apa yang sudah di beli oleh istrinya itu.


" Bunda dari mana saja, ayah kan sudah bilang jangan kemana - kemana " ucap Aditya.


" Tumben panggil Bunda " batin Nabila.


" Bunda lagi beli jajan, ni liat " ucap Nabila menunjukkan kantong plastik yang berisi beragam cemilan.


"banyak banget belinya bun, sini makannya buat Mas sama anak - anak aja, kamu lagi hamil gak boleh jajan sembarangan " ucap Aditya lalu mengambil kantong plastik berisi makanan itu dari Nabila.


" Mas nih nyebelin " ucap Nabila.


Aditya hanya terkekeh melihat istrinya yang lagi kesal, menurutnya Nabila saat menggemaskan jika seperti ini, dan setelah itu mereka berempat kembali berjalan mengelilingi pasar malam sembari mencicipi cemilan yang di beli oleh Nabila tadi.


Setelah puas dan juga Hafidz kelelahan, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.


Aditya menggendong Hafidz ke kamar dengan sebelah tangannya menggandeng Zahira, Aditya dengan telaten membantu mengganti pakaian dan membersihkan kaki dan juga tangan kedua anaknya, dan setelah itu ia menidurkan mereka.


" Sayang, kenapa cemberut " tanya Aditya kepada Nabila begitu ia sampai di kamarnya.


" Gak pa - pa Mas, aku ngantuk mau tidur " ucap Nabila kemudian berbaring, Aditya hanya tersenyum melihat Nabila, ia tau jika Nabila masih kesal dengannya karena di pasar malam tadi Aditya selalu melarangnya untuk melakukan ini dan itu.


Selesai membersihkan diri, Aditya ikut berbaring, dan menarik Nabila dalam pelukannya.


" Kamu marah ya sama Mas " ucap Aditya sembari menciumi punggung Nabila karena saat ini Nabila membelakangi nya.


Nabila diam saja tidak memperdulikan suaminya,ia hanya berpura - pura tidur.


" Maafin Mas ya sayang, Mas cuma gak mau kamu kenapa - kenapa, Mas juga gak mau kamu sembarang jajan di sana, Mas mau kamu dan anak kita sehat, Mas mencintai mu sayang "ucap Aditya


Nabila yang awalnya hanya berpura - pura tidur kini benar - benar sudah tertidur pulas,, semenjak hamil Nabila memang tidak bisa bertemu dengan bantal, pasti ia akan tertidur, apalagi setelah dari pasar malam tadi Nabila merasa lelah.


" Sepertinya sudah tidur " batin Aditya.


" Selamat malam sayang " ucap Aditya merapatkan pelukannya kepada Nabila.


" Selamat malam juga baby twins ayah " ucap Aditya sembari mengelus - elus perut buncit Nabila.


**Bersambung..


Maaf baru up ya readers, soalnya lagi sibuk banget..


InsyaAllah tetap di usahakan up terus kok...

__ADS_1


jangan lupa like, coment dan hadiah nya yakk😘😘**


__ADS_2