Janda Muda Vs Duda Tampan

Janda Muda Vs Duda Tampan
Bab 50


__ADS_3

Hari masih terlihat gelap, semua orang sedang terlelap dalam tidur mereka karena jam masih menunjukkan pukul 3 pagi, namun itu tidak berlaku dengan Nabila, saat ini Nabila sedang sibuk memasak di dapur, selain memasak untuk bekal siang Aditya, ia juga membuat kue brownis mini kukus yang rencana akan Nabila jual di kedai dan juga di titip di warung - warung di sekitar kampung nya dan juga kampung tetangga.


Rasa kantuk dan juga lelah sudah tidak lagi Nabila rasakan karena mengingat waktu yang semakin hari semakin bertambah, yang menandakan semakin dekat juga batas waktunya untuk melunasi hutang nya kepada Bang Jono.


Sumi juga tidak tinggal diam, ia juga ikut bangun pagi untuk membantu Nabila, padahal Nabila sudah melarangnya, karena Nabila tau jika Sumi juga pasti kelelahan karena setiap hari harus menjaga kedai sendirian tanpa bantuan Nabila.


Namun, Sumi tidak menghiraukan perintah Nabila, ia tetap bangun dan membantu Nabila di dapur.


" Secapeknya aku, Mba Nabila pasti lebih - lebih cape lagi dari pada aku Mba, aku gak bisa bantu Mba buat ngelunasin hutang Mba, tapi paling gak aku bisa membantu dengan tenaga ku Mba" batin Sumi sembari membantu Nabila mengukukus kue yang sudah di buat oleh Nabila.


Dirasa semua sudah siap, Nabila pagi - pagi sekali langsung berkeliling kampung untuk menitipkan kue nya di warung - warung tetangga, dan setelah selesai Nabila tancap gas menuju kota.


" Ini sudah lebih dari sebulan, kenapa tidak ada satu pun notifikasi yang masuk dan memberitahukan jika ada penarikan uang dari kartu ATM yang waktu lalu aku berikan kepada Nabila" batin Aditya sembari memutar-mutar ponselnya.


" Kenapa dia tidak memakainya " batin Aditya.


" Nabila.. Nabila.. hal inilah yang membuat aku tambah menyayangimu, seharusnya kau bisa saja menghambur - hamburkan uang ku karena aku sudah memberikan nya kepadamu, tapi itu tidak dengan mu Nabila" batin Aditya.


" Tuan, saya sudah menyelidiki mengenai berkas yang hilang itu,saya mengecek dari CCTV yang ada di ruangan dan juga mencoba bertanya dengan beberapa cleaning servis dan juga OB di kantor ini " ucap Haris membangunkan Aditya dari lamunan nya.


" Terus, apa yang kau temukan"


" Ternyata benar Tuan, Cindy lah yang sudah membuang berkas itu, ini rekaman nya Tuan, apa Tuan ingin melihatnya"


" Tidak perlu, panggilkan Cindy, Bu Andin dan juga Nabila sekarang " perintah Aditya.


Haris pun bergegas keluar ruangan untuk menyuruh Lula menghubungi Cindy dan Bu Andin agar segera ke ruangan Aditya, sedangkan Nabila belum sampai di kantor.


" Kalau Nabila sudah sampai, suruh dia segera masuk keruangan " perintah Haris dan di balas anggukan oleh Lula.


Tidak lama kemudian, Cindy dan Bu Andin sudah berada di dalam ruangan Aditya, sejak awal Cindy sudah menduga jika kelakuannya sudah di ketahui oleh Aditya, maka dari itu wajah Cindy sudah sangat tegang sekarang apalagi melihat tatapan Aditya yang sangat menyeramkan baginya.


" Maaf Pak, saya baru sampai " ucap Nabila.


" Baik karena semua sudah hadir, saya persilahkan dulu untuk Cindy berbicara " ucap Aditya mencoba menahan amarahnya kepada Cindy.


" Sa.. sa.. saya.. saya harus berbicara apa Pak " ucap Cindy terbata - bata.


Tanpa basa - basi Aditya memutar laptop yang semula berada di depannya kini ia arahkan kepada Cindy.


Dan betapa terkejutnya Nabila dan juga Bu Andin karena sangat jelas terlihat jika setelah Nabila pergi Cindy kembali ke ruangan Bu Andin untuk mengambil berkas yang hilang itu kemudian membuangnya.


" Astaga Cindy, ibu tidak menyangka kamu tega berbuat seperti ini " ucap Bu Andin.


Melihat rekaman itu, Cindy sudah tidak dapat lagi berkelak, air mata yang sebenarnya sudah ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah dan mencoba memohon maaf kepada Aditya.


" Hiks.. Hiks.. Hiks.. maafkan saya Pak Aditya, maafkan atas kelakuan saya " ucap Cindy sembari duduk bersujud di hadaman Aditya.


" Kamu tidak seharusnya meminta maaf kepadaku, minta maaflah kepada Nabila, dan mulai sekarang kamu saya PECAT"


ucap Aditya tegas.


Cindy kembali menangis sejadi - jadinya, ia sangat tidak berharap di pecat dari perusahaan ini karena jika ia sampai di pecat, ia harus mencari pekerjaan dimana lagi, sedangkan di perusahaan Aditya ini lah perusahaan yang menjanjikan dengan gajih yang lumayan besar.


" Saya mohon Pak, saya mohon jangan pecat saya, hanya saya tulang punggung di keluarga saya Pak,jika saya di pecat,saya tidak tau harus bekerja dimana lagi" ucap Cindy memohon kepada Aditya.


" Itu bukan urusan saya, kalau kamu sudah tau akibatnya, kenapa kamu masih berbuat jahat seperti itu " ucap Aditya.


" Saya khilaf Pak, saya menyukai Anda Pak, hanya karena saya tidak senang melihat Bapak bersama Nabila, saya jadi khilaf dan berbuat seperti ini agar Bapak membenci Nabila " ucap Cindy.


Nabila menarik nafas panjang, ia sungguh kecewa dengan kelakuan Cindy terhadap nya, padahal waktu itu ia sudah sangat percaya dengan Cindy.


" Nabila, maafin aku ya.. aku minta maaf atas kelakuan jahat ku kepada mu Nabila" ucap Cindy kemudian meraih tangan Nabila dan mencoba meminta maaf kepadanya.


" Cepat bereskan barang - barang mu, tidak usah melakukan drama lagi di sini" ucap Aditya kesal.


" Sudah Mba Cindy, gak usah nangis lagi ya, aku sudah maafin Mba Cindy "

__ADS_1


" Pak, bisakan Mba Cindy jangan di pecat, kasian Mba Cindy Pak, bapak dengar kan kalau dia satu - satu nya tulang punggung keluarga, jadi tolong maafkan Mba Cindy Pak" ucap Nabila yang merasa iba kepada Cindy.


" Kamu terlalu baik Nabila, baiklah aku tidak akan memecat mu"


Cindy mencoba menghapus airmata nya ketika mendengar ucapan Aditya.


" Cepat keluar dari ruangan ku, tapi ingat ini semua sebagai peringatan pertama buat mu " ucap Aditya tegas.


" Terima kasih Pak, Terima kasih Nabila " ucap Cindy dan di balas anggukan oleh Nabila.


Setelah itu, Bu Andin juga ikut meminta maaf kepada Nabila karena sempat tidak percaya dan memarahi Nabila, kemudian Bu Andin dan Cindy keluar dari ruangan Aditya.


" Kamu.. mau kemana" tanya Aditya kepada Nabila karena Nabila juga ikut keluar dari ruangan Aditya.


" Saya mau buatkan Mas kopi "


" Uhuk.. Uhuk.. " ucap Haris terbatuk mendengar Nabila memanggil Tuannya itu dengan sebutan Mas.


" Pak Haris juga mau di buatkan kopi " tanya Nabila.


" Tidak perlu, tugas mu hanya menyiapkan kopi untuk ku, tidak untuk Haris" ucap Aditya menjawab pertanyaan Nabila, padahal Haris baru saja ingin bilang jika ia juga mau secangkir kopi.


Nabila pun membawakan secangkir kopi dan beberapa kue yang tadi pagi ia buat, ia juga memberikan kue itu untuk Haris dan juga Lula, dan Aditya pun segera ******* habis kue yang di bawakan oleh Nabila.


Waktu yang di tunggu - tunggu oleh Bima akhirnya tiba, tepat pukul duabelas siang, ponsel Nabila berbunyi dan setelah dilihat ada sebuah pesan masuk yang isinya tempat dan nama restaurant yang akan Nabila kunjungi untuk makan siang dengan Bima.


Setelah menyiapkan semua makanan untuk makan siang Aditya, Nabila bergegas keluar dari ruangan untuk segera turun menuju parkiran.


Tidak lupa ia mengirim pesan kepada Aditya jika ia tidak bisa menemani Aditya makan siang karena ada keperluan sebentar di luar, kebetulan Aditya tidak ada di ruangannya karena sedang meeting.


Hanya dalam waktu setengah jam, Nabila sudah sampai di lokasi dan mencoba mencari - cari Bima, dan dari kejauhan tampak Bima sedang melambai - lambaikan tangannya, Nabila pun segera berjalan ke arah Bima.


" Maaf Pak, lama ya nunggunya " ucap Nabila.


" Gak, aku baru saja sampai"


" saya ikut aja yang Bapak pesan"


Bima pun mulai memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka, dan tak lama kemudian hidangan mereka datang.


Hanya terdengar dentingan sendok di antara mereka berdua, sejak pertama datang, Nabila tidak terlalu banyak bicara, Bima tidak hentinya menatap Nabila, rasa penasaran akan kehidupan Nabila pun semakin menghantuinya dan mencoba mengenal lebih dalam tentang Nabila.


Dari kejauhan, tanpa sengaja Nana dan beberapa temannya baru saja tiba di restaurant yang sama, dan pandangan Nana langsung tertuju kepada Nabila.


" Itu kan Nabila.. benar Nabila, aku gak salah liat kan"


" Huh.. dasar Janda keganjenan, udah ngodain Aditya, sekarang cowok mana lagi tuh yang di incar sama dia"


" Nih rasain kamu Nabila, Aditya pasti marah besar kalau melihat ini.. haha.. haha.. " ucap Nana terkekeh karena ia memotret Nabila dan juga Bima kemudian mengirimkannya kepada Aditya.


Ting.. suara pesan masuk di ponsel Aditya.


Aditya melotot melihat isi pesan yang baru saja di kirimkan oleh Nana, ia tidak menyangka jika Nabila sekarang sedang bersama Bima.


" Brengsek..kenapa Nabila bisa bersama penjahat itu" ucap Aditya kesal dan mengepalkan kedua tangannya.


Aditya mencoba menghubungi Nabila, namun Nabila tidak menjawab telepon darinya.


" Shtt.. jadi ini yang kamu bilang ada urusan Bila" ucap Aditya merasa kecewa dengan Nabila.


Nabila mempercepat suapan nya, ia ingin segera menghabiskan makan nya dan kembali ke kantor, ia merasa tidak nyaman jika terlalu lama bersama Bima, entah ada perasaan tidak nyaman di hatinya, takut jika Aditya akan melihatnya berdua dengan Bima, seperti seorang yang sedang selingkuh, padahal antara ia dengan Aditya tidak ada hubungan apa-apa.


Setelah selesai makan siang dan menepati janjinya kepada Bima, Nabila bergegas untuk kembali ke kantor.


Sesampai di kantor, Nabila sengaja tidak masuk lewat pintu depan melainkan lewat pintu samping kantor dimana jalan itu biasa di lewati oleh para OB atau Cleaning servis.


Dari pintu samping itu, Nabila harus melewati lorong panjang yang menghubungkan nya ke pintu depan yang mengarah langsung ke lift.

__ADS_1


Nabila sengaja memilih jalan itu agar cepat sampai ke lift, saat berjalan Nabila tidak menyadari jika ada seseorang yang sudah membuntuti nya dari belakang dan laki - lak itu menarik lengan Nabila kemudian membawa Nabila ke dalam suatu ruangan yang cukup besar yang isinya banyak terdapat perabotan - perabotan kebersihan dan juga ada beberapa kaleng cat habis pakai.


" Shutt... " ucap Lelaki itu menutup mulut Nabila dengan tangannya, mengisyaratkan Nabila untuk diam.


Nabila terbelalak melihat seseorang yang ada didepannya adalah Aditya, dan Aditya perlahan menurunkan tangannya yang menutup mulut Nabila.


" Mas Aditya, Mas bikin aku takut tau " ucap Nabila kemudian memukul tubuh Aditya pelan.


" Mas ngapain disini, ngapain juga bawa aku kemari"


Aditya tidak menjawab pertanyaan Nabila, lalu ia menunjukkan foto yang ada di ponsel nya kepada Nabila.


" Apa ini, bisa jelaskan" tanya Aditya dengan tatapan horornya.


Nabila terkejut melihat foto itu, ia tidak menyangka jika Aditya bisa mengetahui nya.


" Ntar aku jelasin ya Mas, kita keluar aja dari sini, Mas ni kurang kerjaan bawa aku ke ruangan ini"


" Ya sudah ayo kita keluar" ucap Aditya kemudian menarik lengan Nabila ingin membawa nya keluar dari ruangan itu.


" Kenapa gak mau terbuka" ucap Aditya.


" Hah.. kenapa Mas, terkunci, coba sini aku buka" ucap Nabila kemudian berusaha membuka pintu.


" Terkunci Mas, aduh gimana ni Mas " ucap Nabila mulai panik.


Mereka tidak menyadari jika setelah mereka masuk ke ruangan tadi, tak lama ada seorang cleaning servis yang lewat dan sengaja mengunci ruangan itu karena ia ingin segera pulang.


" Kamu tenang ya" ucap Aditya mencoba merogoh ponselnya untuk segera menghubungi Haris namun yang di hubungi tidak menjawab telepon dari Aditya.


" Gimana Mas, gak di angkat ya, coba aku telpon Risa kalau gitu" ucap Nabila merogoh ponselnya di dalam tas dan ternyata batrai ponselnya habis.


" Yah.. ponsel ku mati Mas, gimana ni Mas, ini semua gara - gara Mas Adit " ucap Nabila kesal.


" Seharusnya Mas yang marah sama kamu, kamu ngapain sama Bima Hah" ucap Aditya tidak mau kalah.


Nabila terdiam sejenak, ia tampak berpikir mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Aditya.


" Aku cuma gak sengaja ketemu Mas, tadi aku keluar pengen beliin makanan kesukaan nya Zahira, takutnya kalau sore gak keburu jadi siang kesana, eh gak taunya ketemu sama teman Mas itu, jadi aku duduk sebentar dia ajak makan Mas"


" Sudah aku bilang, dia itu bukan teman aku" ucap Aditya kesal.


" Kenapa kamu gak jujur aja sih kalau mau beliin makanan buat Zahira, kan bisa Mas antar"


" Iya.. iya aku minta maaf ya Mas" ucap Nabila sembari tersenyum kepada Aditya, dan Alhasil berhasil meluluhkan hati Aditya yang sedang kesal.


" Ya sudah gak pa-pa, lain kali Mas gak mau liat kamu sama dia"


" Emangnya kenapa sih Mas, kayaknya dia baik orangnya" ucap Nabila.


" Sudah, ikutin aja apa kataku" ucap Aditya kemudian duduk di lantai karena lelah sedari tadi mencoba menggedor - gedor pintu.


" Mas kenapa malah duduk, cari cara dong Mas biar bisa keluar dari sini" ucap Nabila mencoba melihat - lihat sekeliling ruangan itu.


Aditya kemudian bangkit dari duduknya, mencoba melihat - lihat sekeliling ruangan, mencoba mencari sesuatu yang bisa di pakai untuk membuka pintu.


Di ruangan itu terdapat berbagai rak, dan Aditya mencoba meraba-raba bagian atas rak untuk menemukan obeng atau semacamnya yang dapat membuka pintu, dan pelan - pelan tangan Aditya menangkap sesuatu di atas rak yang tidak bisa ia lihat, hanya tangannya saja yang berada di atas untuk meraba benda itu, Aditya menyangka jika itu sebuah obeng atau palu, kemudian Aditya menariknya dan menggenggam erat benda itu yang ternyata sebuah pisau yang cukup besar dan tajam.


" AAWWW.. " pekik Aditya.


Nabila terkejut melihat telapak tangan Aditya yang terluka dan mengalir lah darah segar yang perlahan keluar dan semakin deras hingga menetes ke lantai.


***Bersambung..


Alhamdulillah Ini Bab yang ke 50 dan sudah 2000 lebih kata yang tertulis di Bab ini.. masih nanggung ya ceritanya.. hehe..


Ntar author lanjutin ya, semoga gak ketiduran..

__ADS_1


penasaran.. tetap stay tune, jangan lupa like dan vote yang banyak yahh..😍😍***


__ADS_2