
Nabila terus - menerus merasakan kontraksi, Nabila tidak hentinya beristighfar dan membaca doa yang dia lafalkan di dalam hatinya. Dan saat ini Nabila sedang menggenggam sebuah tasbih kecil yang di bawakan oleh Mama Maya.
Mama Maya tidak beranjak dari posisinya, dan ia terus menemani Nabila di sampingnya, Nabila saat ini sedang berbaring dan memiringkan tubuhnya, tanpa di minta, Mama Maya terlebih dahulu memijit pinggang Nabila, ia paham sekali jika saat ini Nabila pasti merasakan penat dan nyeri di bagian belakangnya, terutama pinggang hingga di bawah perut.
" Apa kontraksi nya semakin kuat sayang? " tanya Mama Maya.
" Iya Ma, rasanya semakin kuat dan sering "
" Sabar ya sayang, terus bedoa ya nak "
" Iya Ma "
Begitu sampai di lobi rumah sakit, Aditya bergegas keluar dari mobilnya dan berlari menuju resepsionis, Aditya ingin bertanya diruangan mana istrinya saat ini di rawat, karena tadi ia lupa menanyakan hal ini kepada Mama nya.
Setelah mendapat kan jawaban, Aditya bergegas mencari ruangan itu, dan bahkan Aditya berlari, agar cepat sampai dan segera bertemu dengan istrinya.
Ceklek.... pintu kamar rawat terbuka, Aditya bisa melihat Mama nya yang saat ini sedang memijit pinggang istrinya.
" Aditya " ucap Mama Maya begitu melihat anaknya datang.
Mendengar Mama Maya menyebut nama Aditya, Nabila membuka kedua matanya dan langsung merubah posisi tubuh nya, dan Nabila sangat senang karena orang yang di tunggu - tunggu nya sejak tadi datang.
" Mas Adit "
" Sayang " Aditya duduk di atas tempat tidur, dan ia langsung memeluk Nabila, kemudian mengecup kening dan bibir Nabila sekilas, Aditya tidak memperdulikan Mama nya yang ada di sana, ia tetap mencium bibir Nabila.
" Maaf ya sayang , Mas terlalu lama " ucap Aditya lalu membawa Nabila kembali dalam pelukannya.
" Permisi " Dokter Rossa datang dan ingin memeriksa kembali keadaan Nabila.
" Pak Aditya sudah datang ya, syukurlah, kalau begitu saya mau memeriksa pembukaannya lagi ya Bu Nabila "
Dokter Rossa bersiap memeriksa Nabila, Nabila terlihat meringis begitu merasakan tangan Dokter Rossa yang menembus kepemilikannya. Dan Nabila menggengam erat tangan suaminya, Aditya mengerti jika saat ini Nabila pasti mencoba menahan sakit dan Aditya mengecup kening Nabila kemudian mengelus - elus kepala Nabila, mencoba menenangkan istrinya.
" Sudah pembukaan ke delapan Bu, Pak, sepertinya si dedek bayi menunggu kedatangan ayahnya sejak tadi, kalau begitu kita bersiap ya Bu Nabila "
Nabila pun bersiap dengan posisinya, Mama Maya dan Aditya setia mendampingi Nabila, dan sudah berada di sisi kiri dan kanan Nabila.
Nabila kembali meringis, dan kali ini Aditya bisa merasakan genggaman tangan Nabila yang begitu kuat, kedua mata Aditya mulai berkaca - kaca, dan perlahan Aditya mencoba menghapus keringat yang mulai bercucuran di wajah Nabila.
" Sudah lengkap Bu Nabila, saya bantu untuk pecahkan ketuban nya "
Setalah ketuban pecah,, Nabila mulai mengatur nafas, rasanya perut Nabila sekarang seperti bergejolak, baby twins nya sepertinya saling berlomba untuk keluar, dan terus menekan di bawah sana.
Dokter Rossa dengan sabar menuntun Nabila, Dokter Rossa tidak sendiri,ia di temani oleh satu seorang asisten perawat yang juga pastinya seorang wanita.
__ADS_1
Mama Maya tidak hentinya menangis sejak tadi, ia tidak tega melihat Nabila yang sekarang terlihat sangat pucat dan semakin kesakitan.
" Narik nafas ya Bu Nabila, hembuskan "
" Erghhh.." terdengar suara halus Nabila yang keluar saat ia mulai mengejan, dan bersamaan dengan genggaman tangan nya yang di rasakan sangat kuat oleh Aditya.
" Terus Bu Nabila, sedikit lagi " ucap Dokter Rossa.
" Erghh..... " Nabila kembali mengejan.
Owek.. owek.. owek.. suara tangisan bayi menggema di seluruh ruangan, Aditya menangis begitu mendengar suara tangisan dari anaknya, begitu pula dengan Mama Maya.
Aditya menghujani wajah Nabila dengan ciuman, Aditya sangat bersyukur, dan itu merupakan wujud Terima kasih dan sayangnya ia kepada Nabila.
"Alhamdulilah, baby nya perempuan Pak, Bu " ucap Dokter Rossa.
" Kita tunggu yang satunya lagi ya Bu Nabila "
Nabila kembali merasakan sesuatu yang bergejolak di bawah sana, dan terus menekan untuk segera keluar.
" Erghh... " Nabila kembali mengejan, wajah Nabila terlihat pucat, dan sepertinya kali ini Nabila terlihat sangat kelelahan,Nabila mulai merasa kehabisan tenaga.
" Kuat ya sayang, sedikit lagi " ucap Aditya sembari menyeka keringat yang membasahi wajah Nabila, dan terus menerus menghujani wajah Nabila dengan ciumannya.
" Erghh... "
" Erghhhhh... " Kali ini terdengar suara panjang dari Nabila
Owek... owek... owek... baby kedua Aditya dan Nabila akhirnya terlahir, dan suara tangisan kembali menggema di seluruh ruangan, begitu pula dengan tangisan Aditya dan Mama Maya yang juga pecah sejak tadi.
" Terima kasih sayang, Terima kasih " ucap Aditya lalu kembali menghujani wajah Nabila dengan ciuman nya, Aditya tidak tau harus bagaimana lagi mengucap Terima kasih kepada Nabila, atas semua pengorbanan dan perjuangan Nabila melahirkan kedua anaknya.
Mama Maya dan juga Dokter Rossa saling tatap dan kemudian melempar senyum melihat Aditya yang tidak hentinya menciumi wajah istrinya, Dokter Rossa tidak terkejut lagi dengan sikap Aditya, karena ia sudah sering melihat begitu besar nya perhatian dan sikap kasih sayang Aditya kepada istrinya.
" Selamat ya Bu Nabila, Pak Aditya, baby yang satu nya ini laki - laki "
Aditya, Nabila dan Mama Maya tidak hentinya mengucap syukur, karena ternyata sang Pencipta memberikan mereka anak dan cucu kembar yang berjenis ke lamin perempuan dan laki - laki.
" Silahkan baby nya di adzanin Pak, alhamdulilah baby nya terlahir sempurna " ucap asisten perawat Dokter Rossa dan memberikan kedua bayi Aditya, Mama Maya membantu menggendong baby girls Aditya, sedangkan baby boy saat ini berada di gendongan Aditya, Aditya tidak terlihat kesusahan menggendong baby nya, karena ini bukan yang pertama bagi Aditya, dulu sewaktu Salsa melahirkan, Aditya sering menggendong Aldo yang masih bayi.
" Cucu Oma, manis sekali " ucap Mama Maya sembari menciumi wajah cucunya.
" Lihat sayang, anak kita yang satu ini tampan seperti aku " ucap Aditya sembari menciumi pipi mulus dan mungil anak laki - lakinya.
" anak kamu yang perempuan ini juga cantik Bil, sama seperti kamu " Mama Maya meletakkan bayi perempuan Nabila di samping Nabila.
__ADS_1
Nabila tersenyum memandangi wajah putrinya, dan menciumi wajah putrinya.
" Mas " ucap Nabila.
" Iya sayang, kepala aku pusing Mas " ucap Nabila yang kini wajahnya tampak pucat.
" Mama panggil dokter dulu " ucap Mama Maya yang khawatir melihat kondisi Nabila.
Nabila merasa kepalanya semakin pusing, dan ia mulai memejamkan kedua matanya.
Aditya menaruh Baby boy dan girls nya kembali ke dalam box bayi, kemudian kembali berada di samping Nabila.
" Sayang, buka mata mu "
Nabila kembali membuka kedua matanya, lalu ia tersenyum kepada Aditya, dan setelah itu kembali menutup kedua matanya.
" Bu Nabila kenapa Pak Aditya? " tanya Dokter Rossa begitu masuk kedalam ruangan.
" istriku mengeluh kalau kepalanya pusing dok? "
Dokter Rossa mulai memeriksa Nabila, dan setelah di cek ternyata Nabila mengalami pendarahan hebat.
" Suster, siapkan oksigen, dan juga kantong darah. Bu Nabila mengalami pendarahan "
" Pendarahan? Nabila bangun, bangun sayang " Aditya mencoba membangunkan Nabila yang kini tidak sadarkan diri.
" Maaf Pak Aditya, Bu Maya, saya minta tolong untuk keluar dulu dari ruangan ya, saya ingin memeriksa Bu Nabila lebih dalam "
" Saya tidak bisa meninggalkan istri saya Dok, biarkan saya di sini " pinta Aditya dengan air mata yang mengalir dan membasahi kedua pipinya, ia tidak bisa meninggalkan Nabila, ia takut sekali, takut jika kehilangan istrinya.
" Maaf Pak Aditya, kali ini tidak bisa, silahkan tunggu di luar "
" Dit, ayo Dit, kita tunggu saja di luar ya nak " Mama Maya juga tidak hentinya menangis sejak tadi, dan dengan terpaksa mau tidak mau Aditya keluar dari ruangan dan menunggu di luar bersama Mama nya.
" Ma, Nabila gak kenapa - kenapa kan Ma? "Aditya menangis di dalam pelukan Mama nya.
" Sabar sayang, sabar, Mama yakin istri kamu baik - baik saja nak "
" Aditya takut Ma, Nabila tidak sadar, Aditya takut kehilangan Nabila, Aditya sangat mencintai Nabila, Ma " Aditya terus menangis dalam pelukan Mama nya.
" Hiks.. Hiks.. Hiks.. Mama tau sayang, Mama juga menyanyangi Nabila, kita berdoa saja ya nak, Nabila pasti baik - baik saja "
**Bersambung...
Tinggalkan jejak kalian di sini ya teman - teman... 😊**
__ADS_1