
Pagi - pagi sekali Dina sudah sampai di kantor, kedua mata Dina sudah seperti mata panda, ia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan nasib nya, kemarin sepulang dari kantor, Dina langsung menuju ke kediaman Lula, Dina menceritakan semua nya kepada Lula, Lula memang lupa bercerita mengenai Nabila kepada Dina.
Tapi Lula mencoba menenangkan Dina, dan Lula yakin jika Dina tidak akan di pecat. Dan menyuruh Dina untuk meminta maaf dan menjelaskan semua kepada Aditya esok harinya.
" Semoga saja aku tidak di pecat " batin Dina.
" DINA!!! " Aditya tiba - tiba saja datang dan mengejutkan Dina yang sedang melamun meratapi nasib nya.
" HAHH... i.. i.. ya Pak "
" Masuk ke ruangan saya " ucap Aditya lalu masuk kedalam ruangannya, di iringi Haris yang mengekor di belakang Aditya.
" Ya Allah jantungku, rasanya mau copot, bagaimana kalau aku di pecat " Dina takut sekali, terlebih melihat wajah Aditya yang terlibat begitu menyeramkan bagi Dina.
" Kamu tau kesalahan mu? " tanya Aditya kepada Dina yang sudah berdiri di depannya.
" Tahu Pak, maafkan saya, saya benar - benar tidak tahu jika wanita itu istri Bapak, bahkan kalau bapak sudah menikah atau belum pun saya tidak tau Pak, Mba Lula tidak memberi tahu saya, dan saya juga lupa bertanya akan hal itu Pak "
" Saya benar - benar minta maaf Pak, tolong jangan pecat saya, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini "
Dina menundukkan kepalanya, ia sudah pasrah mendengar apapun keputusan dari Pak Bos nya ini.
" Saya tidak akan memecat kamu "ucap Aditya.
Dina mendongakkan kepalanya, ia senang sekali mendengar jika Aditya tidak memecatnya.
" Terima kasih Pak, Terima kasih "
" Ini permintaan istri saya, saya bisa saja memecat kamu, karena kamu sudah membuat istri saya menangis, apa kamu tau kalau perasaan ibu hamil tu sangat sensitif, untung saja dia bisa mengerti. Lain kali jangan seperti ini lagi, bacalah kembali profil mengenai saya dan juga keluarga saya, agar kamu tahu, saya tidak mau nanti kalau Mama atau anak - anak saya yang kesini, kamu usir lagi "
" Dan beri waktu untuk orang lain berbicara dan menjelaskan kepentingannya nya bila mencari saya, bukan nya terus menodong mereka dengan berbagai pertanyaan, saya tau kamu melakukan itu agar tidak ada orang sembarang masuk kedalam kantor saya, tapi lakukan lebih baik, bukan seperti itu "
" I.. I.. ya.. Pak, maafkan saya, maafkan atas kelakuan saya, saya berjanji tidak akan melakukan itu lagi Pak "
"Baiklah, sekarang kembali bekerja "
" Baik Pak " Dina keluar dari ruangan dengan perasaan senang, karena ia tidak jadi di pecat, Dina benar - benar menyesal dengan apa yang ia lakukan kepada Nabila.
" Syukurlah Tuan tidak memecat Dina " batin Haris.
*****
Sepulang dari kampus, Nabila tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pulang ke kantor Aditya, rencananya sore ini mereka akan berbelanja perlengkapan bayi, sebenarnya Nabila berniat untuk membeli perlengkapan bayi bulan depan, namun Aditya memaksa dan ingin membeli nya sekarang.
Nabila tersenyum kepada Dina yang melihatnya datang, begitu pula dengan Dina.
" Ibu.. Ibu tunggu sebentar " Dina beranjak dari duduknya dan menahan Nabila masuk kedalam.
" Ada apa? "
" Bu Nabila, saya minta maaf ya Bu, maafkan atas kelakukan saya kemarin, saya benar - benar tidak tau Bu "
" Iya, gak pa - pa, siapa nama kamu? "
__ADS_1
" Dina Bu "
" Nama yang bagus, kamu sepupu nya Mba Lula kan ? "
" Ya benar Bu "
" Saya sudah memafkan kamu Dina, bekerja lah dengan baik, saya yakin kalau kamu pasti sama baiknya dengan Mba Lula, dan jangan mengkhianati kepercayaan saya ini "
" Ya Bu, saya janji, dan Terima kasih ya Bu, berkat anda saya tidak jadi di pecat oleh Pak Aditya "
Nabila hanya tersenyum menanggapi ucapan Dina, dan langsung masuk kedalam ruang kerja suaminya.
" Assalamu'alaikum Mas " Nabila langsung tersenyum melihat suaminya yang beranjak bangkit dari duduknya begitu melihat Nabila datang.
" Waalaikumsalam, sini sayang duduk di sini "
Aditya menggandeng Nabila, dan membawa Nabila duduk di sofa, Haris yang sudah mengerti langsung saja keluar dari ruangan itu.
" Kak, kenapa keluar? " tanya Dina.
" Kalau sudah bersama istrinya, Pak Aditya tidak ingin di ganggu " jelas Haris.
Dina hanya manggut - manggut, dan membayangkan bagaimana sikap Aditya kepada istrinya,karena ia tahu jika bosnya itu orangnya sangat dingin dan cuek.
" Kak? "
" Hmm "
" Kalau sama istrinya, Pak Aditya tetap dingin dan cuek gak kak, secara Pak bos kan dingin banget orangnya Kak, terus galak lagi, tapi kalau di lihat, Bu Nabila itu baik ya kak orangnya, lemah lembut lagi, pas aja buat Pak Aditya, pasti dia bisa mencairkan sikap dingin nya Pak Aditya "
" Ehh.. gak.. gak Kak, ya aku fokus kak " ucap Dina lalu kembali fokus menatap layar komputer di depannya.
Sekitar satu jam menunggu Aditya menyelesaikan pekerjaannya, Aditya dan Nabila keluar dari ruangan, Aditya menggenggam erat jemari tangan Nabila.
" Selamat sore Pak Aditya, Bu Nabila " sapa Dina.
" Sore Dina " sapa kembali Nabila, sedangkan Aditya hanya melihat Dina dengan ekspresi datar.
" Saya pulang lebih awal, jika ada yang mencari saya, katakan kalau saya sudah pulang " ucap Aditya dingin.
" Baik Pak "
" Kami pergi dulu Dina, sampai ketemu lagi " Nabila tersenyum kepada Dina.
" Sampai jumpa lagi Bu " balas Dina dengan tersenyum juga.
" Ternyata Pak Aditya romantis juga ya, dia gak hentinya menggenggam tangan Bu Nabila, so sweet banget, semoga aja nanti aku bisa bertemu jodoh yang seromantis Pak Adit, tapi jangan terlalu dingin juga kayak Pak Aditya.. hehehe.. " ucap Dina lalu kembali fokus bekerja.
******
Aditya dan Nabila pulang ke rumah mereka dulu untuk menjemput Zahira dan Hafidz, dan setelah itu mereka bersama menuju ke pusat berbelanja, dan mulai membeli bermacam - macam perlengkapan bayi.
Aditya dan Nabila sengaja membawa kedua anaknya, sekalian ingin membawa mereka jalan - jalan.
__ADS_1
" Sayang kenapa pilih bajunya warna pink semua? "
" Kan anak kita perempuan Mas "
" Iya, tapi yang satu nya lagi kan belum tau perempuan atau bukan "
" Biasanya kan sama Mas "
" Kalau laki - laki gimana?
" Emangnya menurut Mas anak kita yang satunya laki - laki? "
" Menurut Mas begitu "
" Hmm.. ya deh, kalau gitu kita campur sama warna hijau aja ya Mas, kan netral bisa di pake sama perempuan atau laki - laki "
" Bilang aja kalau kamu suka warna hijau, Mas kan tau warna kesukaan kamu "
" Hehehe... tau aja Mas Adit, mataku segar Mas kalau liat yang ijo - ijo " ucap Nabila sembari terkekeh.
" iya sayang, terserah kamu "
Aditya dan Nabila kembali memilih perlengkapan untuk calon bayi mereka, mulai dari perlengkapan pakaian, makan, mandi dan lain - lain, Zahira dan Hafidz juga antusias membantu ayah dan bunda nya memilih pakaian untuk adek mereka.
" Sayang, kita istirahat dulu, kamu pasti cape kan, anak - anak juga katanya sudah lapar "
" Iya Mas "
Aditya dan Nabila memilih makan di sebuah resto yang menghidangkan makanan khas Korea yang ada di sana.
" Sayang tunggu sebentar ya, Mas mau ke toilet dulu "
" Ayah, Hafidz itut "
" Hafidz, di sini aja sama bunda dan juga kakak, ayah gak lama nak "
" Hafidz uga mau memeh bunda "
" gak pa - pa sayang, ya udah ikut ayah " Aditya menggendong Hafidz dan bersama - sama ke toilet.
Dari kejauhan Nabila melihat seorang lelaki yang sedang bediri di depan kasir, sepertinya ingin membayar tagihan makanannya. Setelah membayar, lelaki itu tidak sadar jika dompetnya terjatuh, bukan masuk ke dalam saku celananya.
Nabila bangkit dan membawa Zahira untuk mengambil dompet lelaki itu, karena tidak terlalu jauh, dan lelaki itu jalannya tidak terlalu cepat, Nabila bisa menyusul nya.
" Mas.. Mas.. tunggu.." teriak Nabila.
" Zahira ayo cepat jalannya nak " Nabila melihat ke arah Zahira, dan tidak melihat jika lelaki yang di panggilnya tadi sudah berbalik badan dan kini berdiri di depannya.
" Mas.. ini dompetnya tadi ja.. tuh " ucap Nabila, ia terkejut melihat lelaki yang ada di depannya.
" Mas Fajar " batin Nabila.
**Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa kritik dan sarannya ya teman - teman.. 😘**