
Usia kandungan Nabila sudah memasuki usia 9 bulan, perkiraan dokter Rossa sekitar dua minggu lagi baby mereka akan lahir, Aditya dan Nabila sangat menantikan momen itu, walaupun semakin terasa berat, kaki yang membengkak, dan juga mual dan muntah terus melanda, itu tidak menjadi beban bagi Nabila, dan Aditya selalu menjadi suami yang siaga untuk Nabila.
Zahira dan juga Hafidz kini sudah semakin akrab dengan ayahnya fajar, dan sering kali mereka tidur di rumah fajar, dan kadang - kadang juga bergantian tidur di rumah Mama nya Aditya.
" Kenapa senyum - senyum sendiri sayang ?" Aditya langsung memeluk Nabila dari belakang, ia baru saja pulang dari bekerja.
" Mas Aditya, kapan pulangnya Mas? "
" Udah dari tadi, Mas cari - cari kamu, ternyata di sini, kenapa senyum - senyum sendiri Hmm? "
" Gak pa - pa Mas, ya udah masuk yuk, mandi dulu Mas "
Nabila menggandeng tangan suaminya, menuntun Aditya masuk kedalam dan duduk di atas tempat tidur, seperti biasa Nabila akan membantu suaminya membuka pakaiannya.
" Rasanya Mas udah gak sabar pengen ketemu baby twins kita " ucap Aditya sembari menciumi perut Nabila.
" Sebentar lagi Mas, semoga aja nanti persalinan nya lancar "
" Ya Sayang "
" Tapi Mas, kalau suatu saat terjadi sesuatu sama aku, Mas janji harus jagain anak - anak ya Mas, Zahira dan Hafidz juga "
Aditya mendongakkan kepalanya dan menatap Nabila, ia tidak suka Nabila berkata seperti itu, ini sudah ketiga kalinya Nabila mengucapkan kata - kata itu kepada Aditya.
" Jangan bicara seperti itu sayang, Mas gak mau dengar kami ngomong kayak gitu lagi "
" Janji dulu Mas "
" Gak perlu janji - janji, Mas akan tetap menjaga anak - anak, itu memang sudah tugas seorang Ayah "
" Mas gak suka kamu ngomong kayak gitu, kayak kamu mau ninggalin Mas aja, Mas gak mau kamu ninggalin Mas "
" Tapi bener kan Mas, suatu saat juga aku bakalan ninggalin Mas, kita kan gak selama nya di dunia ini Mas "
Aditya beranjak dari duduknya, lalu ia menangkup wajah istrinya dan mengecup mesra bibir Nabila.
" Cukup ya, Mas gak mau kamu ngomong kayak gitu lagi, kamu gak akan ninggalin Mas "
Aditya kembali menyambar bibir Nabila, ia sangat mencintai Nabila, entah mengapa dengan istrinya, beberapa bulan ini Nabila sering mengatakan itu kepada Aditya, Nabila benar, memang mereka suatu saat pasti akan berpisah, dan hanya kematian lah yang akan memisahkan mereka.
Namun jika bisa memilih, Aditya lebih memilih untuk ia yang harus terlebih dahulu pergi dari pada Nabila, ia tidak akan sanggup jika Nabila meninggalkannya.
" Ingat, jangan ngomong kayak gitu lagi "
" Iya Mas, ya udah Mas mandi sana "
Aditya mengikuti perintah istrinya dan bergegas menuju kamar mandi.
*****
Rona berjalan menuju apartemen nya dengan membawa banyak kantong plastik yang berisi berbagai cemilan dan juga makanan berat pesanan Risa, entah mengapa sudah satu minggu ini Risa selalu meminta Rona untuk membelikan nya makanan dan cemilan sebelum pulang ke rumah.
" Assalamu'alaikum " sapa Rona begitu membuka pintu.
" Waalaikumsalam " ucap Risa dengan wajah semringah melihat kantong plastik yang di bawa oleh suaminya.
" Wah... pesanan aku " ucap Risa lalu mengambil kantong plastik itu dari tangan Rona dan berjalan ke arah dapur.
__ADS_1
" Eh... mau kemana? " tanya Rona.
" Mau makan ini Mas "
" Jadi gitu, Mas di lupakan gitu aja "
Risa terkekeh, karena terlalu bernafsu melihat makanan dan cemilan yang di bawa suaminya, ia jadi lupa dengan suaminya sendiri, padahal Rona sudah bersusah payah berkeliling mencari makanan dan cemilan pesanan Risa.
" Maaf Mas, jadi lupa, hehehe " Risa menghampiri Rona, mencium punggung tangan suaminya, dan Rona mencium kening Risa.
" Hmm.. Mas... bau.. " ucap Risa sembari menutup hidung nya dengan kedua tangan nya.
Rona mengernyitkan keningnya, dan mencoba menciumi ketiak nya sebelah kanan dan kiri, gak bau menurutnya, ya memang ia belum mandi, tapi menurutnya ia masih harum.
" Bau apa sayang, wangi gini kok " ucap Rona lalu ingin membelai kepala Risa, namun Risa segera menepis nya.
" Jangan deket - deket Mas, Mas cepat mandi sana, Mas bau tau.. bau nya gak enak "
" Kamu kenapa sih? "
" Cepat mandi " ucap Risa mendorong - dorong Rona agar segera ke kamar mandi dan membersihkan diri, Risa tidak melepas tangannya yang menutup hidungnya sejak tadi.
" Iya.. iya.. Mas mandi dulu "
Setelah Rona sudah masuk kedalam kamar dan mandi, Risa bisa bernafas lega, menurutnya suaminya itu sangat bau, baunya asam sekali, dan Risa berasa mual menciumnya, namun masih bisa ia tahan.
Risa kembali ke dapur, ia segera membuka satu persatu makanan pesanan nya tadi dan menaruhnya di piring, di atas meja makan udah tertata rapi sosis bakar, burger, kebab, nasi goreng, roti bakar, dan juga bubur kacang ijo.
Tanpa menunggu Rona, Risa langsung menyantap makanan yang ada di depannya, ia sudah tidak sabar, terlalu lama baginya jika harus menunggu suaminya selesai mandi.
" Lo yank, kok gak di makan " Rona sudah selesai mandi, dan langsung menuju dapur, ia heran melihat makanan yang tadi ia beli masih utuh, kecuali sosis bakar.
" Terus yang lainnya kenapa gak dimakan? "
" Udah kenyang Mas, lagian kayaknya yang lain gak enak "
Glek... Rona menghela nafas panjang mendegar ucapan Risa, setelah perjuangannya keliling kota dan harus mengantri untuk membeli makanan itu, istrinya dengan mudahnya bilang kalau sudah kenyang dan yang lain gak enak.
" Kamu juga kenapa pesan nya banyak, minta itu ini sama Mas, jadinya gini kan, gak habis juga,lagian kamu tau gak kalau Mas tu udah keliling cari makanan ini, terus harus ngantri juga "
" Emangnya kenapa sih Mas, Mas gak ikhlas ya beliin makanan nya buat aku, kalau memang Mas gak mau, capek, ya tinggal bilang aja gak mau " Risa marah kepada Rona.
" Bukannya gitu sayang, maksud Mas bukan gitu "
" aduh, jadi salah ngomong kayaknya ni " batin Rona.
" Terus apa, lagian kalau gak habis, kan ada Mas yang ngabisin "
" Iya, tapi kan gak mungkin Mas makan semuanya langsung sekaligus "
" Tau ah Mas, Mas nyebelin " ucap Risa lalu pergi ke kamar.
Rona menggaruk - garuk kepalanya, ia bingung dengan sikap istrinya saat ini, karena Rona juga lapar, ia segera memakan nasi goreng yang ada di sana, dan memakan nya habis, sedangkan yang lain ia taruh di kulkas, karena Rona tidak akan memakan itu lagi, dan Risa juga mengatakan kalau tidak enak, jadi menurutnya lebih baik di taruh di kulkas saja.
Setelah selesai makan, Rona masuk ke dalam kamarnya, Risa sedang berbaring, namun belum tidur, karena Rona bisa melihat kaki Risa yang masih bergerak - gerak.
" Belum tidur sayang? " ucap Rona lalu perlahan mendekati Risa, dan meraih tubuh istrinya, memeluk istrinya dari belakang.
__ADS_1
" Hmm " jawab Risa.
" Kok gitu aja jawabnya, kamu marah sama Mas "
" Gak "
" Terus kenapa kayak gitu "
Risa hanya diam, namun ia menggeleng- geleng kan kepalanya memberi isyarat jika ia tidak kenapa - kenapa.
Rona langsung membalik tubuh Risa, dan kini Risa berada dalam kungkungan nya.
" Mas apaaan sih " ucap Risa sembari cemberut.
" Jangan marah ya sayang " ucap Rona, lalu Rona berniat mencium bibir istrinya, namun Risa langsung menutup hidung dan mulutnya.
" Kenapa sayang? " tanya Rona.
" Mas bau " ucap Risa.
Rona heran, dan mencoba menciumi tubuhnya sendiri, tidak bau, wangi malah, apalagi ia bau saja mandi, aroma sabun mandi masih melekat di tubuhnya.
" Bau apa sayang, Mas kan sudah mandi "
" Mandi lagi sana " ucap Risa.
" Tapi Mas udah mandi "
" Mandi lagi "
" Tapi sayang.. "
" Mandi lagi, kalau gak, Mas gak boleh dekat - dekat aku " ucap Risa masih menutup hidungnya.
" Iya.. Iya... " dengan malas Rona mengikuti perintah Risa, dan pergi ke kamar mandi, dan sekitar lima belas menit Rona sudah selesai dan kembali ke tempat tidur.
Rona tersenyum melihat Risa yang ternyata sudah tidur, dan menyelimuti tubuh istrinya.
" Sayang.. sayang.. kamu kenapa sih, udah seminggu ini aneh banget " batin Rona.
Setelah memakai baju, Rona duduk bersandar di sandaran ranjang, ia meraih ponselnya dan melihat - lihat pesan masuk, dan setelah itu Rona berbaring sembari memandangi wajah cantik istrinya.
Seketika timbul di otak Rona jika perubahan istrinya dalam seminggu ini di karenakan istrinya sedang hamil, karena kemauan Risa dan juga perubahan sikap Risa itu udah persib seperti ibu hamil, namun setelah di pikir - pikir ia baru menikah sebulan lebih, rasanya tidak mungkin secepat itu hamil.
Tapi Rona kembali ingat jika Allah sudah berkendak, apa yang dirasa kita tidak mungkin, itu sangat memungkin kan baginya, karena ialah sangat pencipta.
Rona kembali duduk, ia meraih ponselnya dan membuka kalender, ia baru ingat jika ia pernah mencatat tanggal terkahir istrinya datang bulan, dan ternyata terkahir bulan lalu, setalah dua hari kepulangan mereka dari Korea, dan sampit akhir bulan ini, Risa bulan datang bulan.
Senyum terukir di wajah Rona, ia bahagia sekali jika kalau benar istrinya hamil, karena memang ini yang ia tunggu - tunggu, sangking antusias nya, Rona mencatat tanggal mulai nya Risa datang bulan hingga selesai, karena ia tidak mau kelak jika Risa benar - benar hamil, mereka tidak tau hitungannya.
" Ya Allah Alhamdulillah, semoga saja istriku benar hamil, dan aku akan membawa nya memeriksa kandungan nya besok " batin Rona.
Rona menaruh ponselnya di atas meja, lalu kembali berbaring, Rona menciumi wajah istrinya.
" Good night sayang, I love you " ucap Rona lalu ikut memejamkan kedua matanya dan tertidur.
**Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa kritik dan sarannya ya teman-teman 😘**