Janda Muda Vs Duda Tampan

Janda Muda Vs Duda Tampan
Bab 88


__ADS_3

Sesampai di dalam mobil, Aditya masih tampak kesal karena tadi tidak sengaja bertemu dengan Bima.


" Mas, sudah jangan kesal lagi " ucap Nabila yang mengerti akan perasaan Aditya.


" Ya sayang, gak kok " ucap Aditya kemudian membenamkan kepala Nabila di dadanya.


******


Risa berada di parkiran rumah sakit, ia bingung harus naik apa untuk pulang kerumah, ia tidak sempat memesan taksi online karena ponselnya keburu mati dan kehabisan baterai.


" Ini semua gara - gara Mas galak " ucap Risa kesal.


" Itu kan si Budeg, belum pulang juga dari tadi " ucap Rona melihat Risa dari kejauhan.


Rona berjalan ke arah parkiran, mobilnya tidak jauh dari tempat Risa berdiri, sehingga Risa bisa melihat jelas Rona yang saat ini ingin masuk kedalam mobilnya.


" Ketemu lagi aku sama dia, kenapa harus dia terus sih " umpat Risa melirik kearah Rona.


" Ya udah aku jalan aja deh sampe ke depan, siapa tau ada ojek yang lewat " ucap Risa.


" Hei Budeg.. ngapain jalan kaki, gak punya ongkos pulang ya " ucap Rona melambatkan mobilnya dan mensejajarkan dengan Risa, dan mengejek Risa yang tengah berjalan kaki.


Risa hanya melirik sekilas ke arah Rona, kemudian mengabaikannya, dan terus berjalan.


" Sombong amat " ucap Rona kemudian pergi meninggalkan Risa.


" Iiihhh... dasar cowo nyebelin, udah galak, nyebelin lagi, gak kasian apa liat aku jalan kayak gini " ucap Risa dongkol.


Rona terkekeh melihat Risa yang tampak kesal dari balik kaca spion mobilnya.


Karena kasihan melihat Risa, Rona akhirnya menghentikannya mobilnya.


" Kenapa mobilnya berhenti " ucap Risa begitu melihat mobil Rona yang berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, melihat itu Risa mempercepat langkahnya.


Rona keluar dari mobil dan menyenderkan tubuhnya di pintu mobil sembari melihat ke arah Risa.


" Kenapa berhenti di sini " ucap Risa.


" Mau ikut aku tidak " ucap Rona yang masuk ke dalam mobilnya.


" Beneran " ucap Risa semringah.


" Cepat, sebelum aku berubah pikiran "


Dengan secepat kilat, Risa masuk kedalam mobil Rona dan duduk di belakang.


" Emangnya aku supir kamu, pindah, duduk di depan " ucap Rona.


" Galak amat sih " ucap Risa dan beralih duduk di depan.


" Kamu bilang apa tadi " ucap Rona.


" Hah... gak.. gak.. aku gak ngomong apa-apa "


Rona menatap tajam kepada Risa, kemudian pandangannya kembali fokus ke depan dan dengan perlahan melajukan mobilnya.


" Rumah kamu di mana " tanya Rona cuek.


" Di kompleks perumahan graha pelita no 6 Mas "


" Perumahan Graha pelita,sepertinya aku pernah mendengar alamat itu " batin Rona.


Rona pun melajukan mobilnya menuju alamat Rumah Risa, hanya keheningan yang terjadi di antara mereka, hingga akhirnya Risa mulai mencairkan suasana dengan terlebih dahulu berbicara kepada Rona.


" Mas galak "


" Nama ku Rona "


" Iya tau, biasa aja kali Mas gak usah galak gitu " ucap Risa.


" Kalau tau kenapa masih panggil aku dengan sebutan itu "


" Mas nya aja manggil aku dengan sebutan lain, aku tu juga punya nama Mas,nama ku tu RISA,RISA, padahal nama ku udah cantik gitu di panggil budeg, amit-amit kalau aku beneran budeg " ucap Risa.


Rona melirik ke arah Risa dan tersenyum tipis, kemudain kembali fokus mengemudi mobilnya.

__ADS_1


Sekitar 20 menit, akhirnya mobil Rona sampai di depan kompleks perumahan tempat tinggal Risa.


" Budeg, dimana rumahnya " ucap Rona yang masih saja memanggil Risa dengan sebutan itu.


" Itu Mas, sebelah kanan yang ada pohon kelapanya " ucap Risa.


Mobil Rona berhenti di depan rumah Risa.


" Oke sudah sampai, Mas gak mau turun dulu "ucap Risa kemudian turun dari mobil.


" Buat apa aku turun " ucap Rona.


" Ya turun Mas,minum dulu gitu di Rumah aku,ya sebagai ucapan Terima kasih karena sudah mau mengantar ku pulang " ucap Risa.


" Kalau cuma minum, aku bisa minum di tempat lain " ucap Rona ketus.


" Nih orang ya, sudah di baikin tetap aja jutek " batin Risa.


Risa kemudian teringat akan hutangnya kepada Rona, dan mengambil beberapa lembar uang di dalam tasnya dan memberikan uang itu kepada Rona.


"Buat apa itu " ucap Rona.


" Untuk bayar ongkos karena Mas sudah antar aku pulang "


" Emangnya aku supir taksi "


" Kalau di liat sih mirip Mas... hahaahaha.. bercanda Mas, ini uang untuk ganti hutang aku waktu itu " ucap Risa.


" Astaga, cewe ini masih ingat aja sama uang itu, aku aja udah lupa " batin Rona.


" Gak perlu, ambil aja, uang ku masih banyak " ucap Rona.


" Beneran Mas, ikhlas gak ni " ucap Risa sembari tersenyum manis menatap Rona, Rona di buat gugup karena tingkah Risa.


" Iya ikhlas.. sudah aku pergi dulu " ucap Rona kemudian melakukan mobilnya.


" Makasih ya Mas galak " teriak Risa dari kejauhan sembari melambaikan tangannya ke arah mobil Rona.


Rona tersenyum tipis melihat Risa dari balik kaca spion mobilnya.


" Budeg..budeg..." ucap Rona sembari tersenyum.


******


" Selamat tidur sayang " ucap Aditya mengecup kening Nabila kemudian perlahan turun dari ranjang dan meninggalkan Nabila yang baru saja tertidur.


Begitu masuk kedalam ruang kerjanya, disana Haris dan juga Rona sudah menunggunya.


" Bagaimana Ris, jelaskan padaku informasi apa yang sudah kau dapat " tanya Aditya.


" Setelah bercerai dari Tuan, Kedua orang tua Bu Ameliya bangkrut, Bu Ameliya dan kedua orang tuanya pindah ke Surabaya, dan tak lama ayahnya meninggalkan karena serangan jantung, dan menyusul kembali ibunya yang juga meninggal"


" Saya sudah ke Surabaya Tuan, saya datang ke kediaman Bu Ameliya yang dulu, saya mencoba bertanya kepada tetangga atau orang sekitar rumahnya, mereka semua kompak mengatakan jika semenjak Bu Ameliya tinggal di sana, Bu Ameliya sudah Hamil Tuan, tapi Mereka tidak pernah melihat Bu Ameliya bersama seseorang laki - laki, hanya bersama kedua orang tuanya tinggal di sana "


" Saya mencoba mencari informasi kediaman Bu Ameliya di sini, dan orang sekitar mengatakan jika Bu Ameliya baru saja pindah di sana dan tinggal hanya berdua bersama seorang anak laki - laki "


" Selama ini Bu Ameliya dan anaknya hanya hidup dengan belas kasihan orang sekitar dan juga bu Ameliya sedang berhutang banyak kepada rentenir "


" Kamu sudah coba bertanya kepada beberapa teman Ameliya? " tanya Rona.


" Sudah Pak, bahkan ke beberapa keluarga nya juga, mereka semua kompak mengatakan jika setelah bercerai dari Tuan Aditya, Bu Ameliya tidak pernah menikah dan juga mengatakan jika sebenarnya anak yang bersama Ameliya itu adalah anaknya Tuan Aditya "


Aditya menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja nya, dan kepalanya ia dongakkan ke atas, hatinya mulai bimbang ketika mendengar penjelasan dari Haris.


Rona melirik ke arah Aditya, Rona seperti mengerti jika Aditya kini di landa kebingungan.


" Tapi, bagaimana dengan berita yang tersebar ini, kalau memang Ameliya yang melakukannya, kurasa tidak mungkin " ucap Rona.


" Benar Ron, yang ku tau saat itu hanya beberapa staff ku saja yang melihat Ameliya datang ke kantor, tidak ada wartawan atau lainnya, dan kalaupun Ameliya yang melakukannya, pasti butuh biaya besar untuk membayar seseorang atau wartawan untuk membantu menyebarkan berita ini, pasti ia di bantu oleh seseorang " ucap Aditya.


" Apa yang membantu Ameliya itu orang-orang yang tidak menyukai mu Dit, apa beberapa waktu ini kau pernah memecat seseorang, atau kau pernah memutus kerjasama dengan perusahaan lain? " tanya Rona yang mengingat jika musuh Aditya di luar banyak, terutama lawan bisnisnya.


" Apa ini ada kaitannya dengan perusahaan kita di Jepang juga Tuan " tanya Haris.


" Hmmm Bisa jadi orang yang sama, mereka mungkin membantu Ameliya agar dapat menjatuhkan mu, dan Ameliya dapat dengan mudah menghancurkan keluargamu " ucap Rona.

__ADS_1


Aditya memijat-mijat pelipisnya dengan dua jari tangannya, Aditya berpikir keras, dan tiba-tiba saja di pikirannya muncul nama Bima.


" Bima " ucap Aditya.


" Bima, Bima musuh kita dari SMA dulu " ucap Rona.


" Benar Ron, semenjak dia hadir, masalah mulai muncul dalam kehidupan ku, dan dia.. dia menyukai Nabila "


" Apa !!! dasar licik, dari dulu dia selalu mengganggumu Dit, dan selalu ingin merebut apa yang kau punya "


" Aku sudah sejak lama mencurigai Bima, dan beberapa bulan yang lalu ia mengajukan kerjasama dengan perusahaan ku, dan aku menerimanya, aku sengaja melakukan itu agar bisa menyelidiki Bima, namun sampai saat ini aku dan Haris masih belum menemukan bukti yang banyak, apalagi salah satu saksi yang melakukan kecurangan di perusahaan jepang sudah mati di bunuh "


" Ternyata Bima cukup pintar Ris, dan bisa jadi semua orang yang dekat dengan Ameliya telah ia buat tutup mulut dan membayar mereka agar mengikuti sesuai perintahnya " ucap Rona.


" Oh ya Ris, apa kau sudah menyelidiki tentang laki-laki selingkuhan Ameliya itu? " tanya Aditya.


" Belum Tuan "


" Kalau begitu cari dia, kalau perlu bawa dia kepadaku, hanya dia salah satu kunci dari masalah ini, aku yakin jika anak itu adalah anak dari lelaki selingkuhan Ameliya " ucap Aditya.


" Benar Dit, aku juga akan membantu mencarinya, kita harus menemukannya terlebih dahulu sebelum Bima yang menemukannya " ucap Rona.


******


Nabila terbangun dari tidurnya, samar-samar Nabila melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 malam, Nabila melihat ke kiri dan kanannya, tapi ia tidak menemukan Aditya.


Nabila pun keluar dari kamar, ia mencoba mencari Aditya di kamar Zahira dan Hafidz, sekaligus ingin melihat keadaan kedua anaknya.


Sesampainya di kamar Zahira dan Hafidz, Aditya tidak ada di sana, hanya ada Zahira dan Hafidz yang tampak tertidur pulas, Nabila masuk kedalam dan mencium kening kedua anaknya itu, kemudian Nabila beralih ke kamar Sumi, ia juga ingin melihat keadaan Sumi.


" Kamarnya tidak di kunci " ucap Nabila begitu membuka kamar Sumi.


" Mba Nabila " ucap Sumi yang tengah berbaring santai di ranjangnya sembari memainkan ponselnya.


" Kamu belum tidur, ini kan sudah larut malam " ucap Nabila.


" Belum Mba, Mba sendiri kenapa belum tidur? "


" Tadi Mba sudah tidur, terus terbangun, dan Mba gak ngeliat Mas Adit di samping Mba, Sumi ada liat gak? "


" Mas Adit ada di ruang kerjanya Mba, tadi Sumi sempat ngeliat Mas Adit kesana, terus juga ada Pak Haris sama satu orang lagi temannya Mas Adit yang pernah kesini waktu itu "


Nabila terdiam mendengar penjelasan Sumi.


" Oh ya Mba, Mba tau gak kalau tadi pagi banyak wartawan yang datang kerumah " ucap Sumi.


" Wartawan? "


" Iya Mba, terus Mba... " ucap Sumi yang masih ragu untuk bercerita kepada Nabila mengenai berita yang tersebar mengenai Aditya dan Ameliya.


" Kenapa Mi, cerita sama Mba "


" Hmm.. Mba coba baca sendiri deh " ucap Sumi menunjukkan berita mengenai Aditya di ponsel miliknya.


Nabila meraih ponsel Sumi, dan perlahan membaca satu persatu berita yang ada di ponsel Sumi.


Nabila begitu terkejut membaca berita itu, ia tidak menyangka jika akan heboh seperti ini, Nabila tidak mempermasalahkan anak yang di akui Ameliya itu sebagai anak suaminya, hanya saja ia merasa sangat kasihan kepada suaminya, apalagi melihat banyak komentar pedas dari beberapa orang yang menghujat suaminya itu di media sosial, dan juga berita itu sedikit di lebih - lebihkan.


" Mba, Mba gak pa-pa kan " ucap Sumi.


" Gak pa-pa Mi "


" Ya Allah, kenapa Mas Adit gak cerita sama aku masalah ini, Mas Adit pasti terpukul mendengar berita ini, begitu banyak orang yang menyudutkan Mas Adit, bahkan menyebut ia sebagai seorang ayah yang tega menelantarkan anaknya "


" Aku harus menemui Mas Adit " batin Nabila.


" Mba mau kemana? " tanya Sumi.


" Mba mau menemui suami Mba " ucap Nabila.


" Iya Mba "


" Aduh, ternyata Mba Nabila belum tau, apa Mas Adit sengaja gak kasih tau Mba Nabila ya, aduh Sumi..Sumi.. udah terlanjur cerita sama Mba Nabila, kalau Mba Nabila marah sama Mas Adit gimana ya " batin Sumi.


Bersambung...

__ADS_1


**Udah berusaha di rahasiakan, ehh Sumi yang cerita.. Sumi.. Sumi.. 😁


jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sini ya readers... 😍😍**


__ADS_2