
Nabila bertambah panik melihat darah yang tidak berhenti keluar dari telapak tangan Aditya.
Nabila berusaha mencari sesuatu seperti kain atau semacamnya agar dapat mengikat telapak tangan Aditya agar dapat menahan darah yang keluar.
Sudah berusaha mencari, namun Nabila tidak menemukannya.
Aditya hanya duduk di lantai, hanya kata tenang yang selalu di ucapkan Aditya kepada Nabila.
Kemudian Nabila kembali mendekati Aditya dengan wajah paniknya.
" Sudah gak pa - pa, ini cuma luka kecil " ucap Aditya berusaha menenangkan Nabila, padahal ia juga berusaha kuat menahan sakit karena lukanya cukup dalam.
" Gak kenapa - napa gimana Mas, muka Mas udah pucat gitu" ucap Nabila.
Sembari duduk, kedua mata Nabila kembali memutar melihat - lihat sesuatu di sekeliling ruangan dan mencoba berpikir keras bagaimana cara menghentikan pendarahan di tangan Aditya.
Mata nya kemudian berhenti, menatap kerudungnya yang panjang menutupi kepala dan dadanya.
" Ya Allah, aku gak mungkin pakai kerudung aku ini untuk ngebalut luka nya Mas Adit, tapi kalau gak bisa-bisa kehabisan darah nanti Mas Adit " ucap Nabila.
Melihat wajah Aditya yang memucat, tanpa bepikir panjang lagi, Nabila membuka kerudung nya dan dalaman kerudung yang ia pakai, dan terlihatnya mahkota yang selama ini ia tutupi dan hanya ingin ia tunjukkan kepada seseorang yang akan menjadi Suami nya lagi kelak.
Dengan sigap Nabila memasukkan dalaman kerudungnya ketelapak tangan Aditya, dan kemudian melilitkan kerudungnya di telapak tangan Aditya kemudian terakhir melepas ikatan tali di rambutnya untuk menguatkan kembali balutan kerudung yang menutupi luka Aditya.
Aditya tercengang melihat Nabila, Nabila tampak sangat cantik dengan rambut panjang berwarna kecoklatan yang tergerai indah, kedua mata Aditya tidak berkedip sedikit pun, ia tidak menyangka jika bisa melihat betapa lebih cantiknya Nabila ketika membuka kerudungnya.
Nabila tidak menyadari Aditya yang sejak tadi tidak berkedip menatap nya, ia masih fokus dengan luka yang ada di tangan Aditya, dan tanpa di sadari Aditya menarik lengkung leher Nabila dan kemudian mencium lembut bibir ranum Nabila yang selama ini ia inginkan.
Nabila terkejut dengan ciuman yang di berikan oleh Aditya, semakin dalam, semakin dalam Aditya ******* bibir manis Nabila dan Nabila mulai terbuai akan ciuman yang di berikan oleh Aditya dan mereka sama - sama memejamkan kedua mata mereka, menikmati ciuman yang sudah lama sekali tidak mereka rasakan.
Aditya kemudian melepas ciuman nya, dan menatap kembali kedua mata Nabila, begitu juga dengan Nabila, Aditya kembali ingin mencium Nabila namun langkah nya terhenti ketika ponsel Aditya mengeluarkan suara.
Aditya tersadar dan meraih ponselnya yang tertera nama Haris di ponselnya itu, dan dengan cepat Aditya mengangkat telepon dari Haris kemudian menyuruh Haris untuk segera mengeluarkan mereka dari ruangan itu.
Nabila tertunduk, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus, ia tidak menyangka akan kejadian ini, dan bisa - bisa nya ia terbuai dengan ciuman yang di berikan oleh Aditya.
" Astagfirullahalazim, Nabila.. ya Allah maafkan aku ya Allah " batin Nabila, tersadar akan yang mereka perbuat itu salah.
__ADS_1
Tidak ada percakapan di antara keduanya setelah ciuman itu terjadi, dan tak lama terdengar suara Haris yang memanggil Aditya dari luar, Aditya pun segera bangkit mendekat ke arah pintu.
Ceklek.. pintu akhirnya terbuka, Haris sebelumya sudah meminta Cleaning servis untuk membawa kunci pintu ruangan itu, dan betapa terkejutnya Haris melihat wajah Aditya yang memucat dengan tangan yang berbalut kain.
" Tuan.. apa Tuan baik - baik saja, dimana Nabila" ucap Haris khawatir.
" Aku baik - baik saja, tolong carikan aku kerudung atau jilbab Ris sekarang " ucap Aditya.
Tanpa bertanya, Haris dengan sigap kembali keluar untuk mencari kerudung atau jilbab, dan tak sengaja berpapasan dengan seorang OB wanita yang berhijab.
" Mba, apa Mba punya kerudung lebih, saya sedang memerlukannya sekarang "
" Oh.. ada Pak, tunggu sebentar saya ambilkan"
Tak lama OB wanita itu datang dengan membawa kerudung yang di pinta oleh Haris, setelah berterima kasih, Haris segera membawa kerudung itu kepada Aditya.
" Ini Tuan " ucap Haris sembari memberikan kerudung itu kepada Aditya.
" Tunggu di sini, gak usah masuk "ucap Aditya kemudian menutup kembali pintu tadi dan memberikan kerudung itu kepada Nabila..
Nabila menerima kerudung yang di berikan oleh Aditya, ia tidak menyangka Aditya mengerti jika Nabila sekarang memang memerlukan kerudung itu, ingin menutupi kepalanya agar tidak terlihat oleh laki - laki lain, walaupun sekarang Aditya sudah melihat nya tanpa berkerudung.
" Mas Adit, sebaiknya kita ke Rumah sakit sekarang " ajak Nabila.
" Gak usah, aku gak pa- pa" ucap Aditya menolak.
" Ini perintah, pokoknya Mas Adit gak boleh nolak, ayo Pak Haris kita ke Rumah Sakit sekarang " ucap Nabila.
Aditya tersenyum melihat tingkah Nabila, bisa - bisa nya Nabila memakai kata - kata yang biasa Aditya ucapkan kepada Nabila jika Nabila mencoba membantah perintahnya.
Dan sesampai di Rumah sakit, dengan sigap dokter di sana menjahit luka Aditya kemudian menyuntikkan anti nyeri ke tangan Aditya.
" Sudah selesai Pak, padahal darah yang keluar dari tangan Bapak cukup banyak, tapi Bapak kuat bisa bertahan dan tidak pingsan" ucap dokter yang menangani Aditya.
" Iya Terima kasih dokter, tadi saya sudah mendapat obat dok sebelum datang kesini dan membuat saya lebih kuat " ucap Aditya sembari melihat ke arah Nabila.
Kedua pipi Nabila pun memerah seperti Tomat, ia mencoba menyembunyikan dirinya di balik badan Haris, ia malu sekali mendengar ucapan Aditya, mengingat adegan ciuman mereka tadi.
__ADS_1
" Benarkah, kalau begitu saya permisi Pak, nanti saya akan memberikan resep obat, silahkan di tebus dan setelah itu Bapak boleh pulang "
" Terima kasih dokter " ucap Aditya.
Haris mencoba mencerna ucapan Aditya, ia masih memikirkan obat apa yang Aditya dapat di ruangan tadi, masih belum terpecahkan oleh Haris.
" Setelah ini, Mas pulang aja ya, gak usah ke kantor " ucap Nabila menghampiri Aditya dan duduk di samping ranjang rawat Aditya.
" Iya.. Mas akan ikuti semua perintah kamu " ucap Aditya sembari tersenyum kepada Nabila.
Aditya masih membayangkan apa yang telah ia lakukan tadi kepada Nabila, ia sungguh tidak bisa menahan lagi nafsunya untuk mencium Nabila.
Setelah menebus obat, mereka bertiga menuju ke kediaman Aditya.
" Kamu gak marah kan sama Mas"
" Marah kenapa Mas "
" Itu.. yang sudah Mas lakukan di ruangan tadi "
Pipi Nabila kembali memerah ketika Aditya mencoba membahas ciuman mereka tadi di ruangan itu.
" Sudah ah Mas, gak usah di bahas lagi, malu tau "
" Iya.. Iya.. tapi kamu juga menikmatinya kan " ucap Aditya dan alhasil membuat kedua pipi Nabila memerah.
" Mas Aditya..... " teriak Nabila sembari memukuli lengan Aditya.
" Aduh.. aduh.. sudah..sakit " ucap Aditya sembari terkekeh senang sudah mengerjai Nabila.
" Terima kasih Nabila, tanpa harus saling berucap, kini aku sudah tau isi perasaan mu kepada ku, aku yakin kalau kamu juga menyukai dan menyayangi ku, sebentar lagi aku akan membawa mu bertemu dengan Mama dan akan menikahi mu,menjadi pelindung mu,pelindung untuk anak - anak mu,dan menjaga mahkota yang kau jaga hanya untuk diriku" batin Aditya sembari menatap Nabila dengan wajah cemberut Nabila kesal karena kejahilan Aditya.
***Bersambung..
Sudah tuntas dua Bab ya teman - teman..
Author mau tidur dulu.. 😁
__ADS_1
Terima kasih untuk semangat yang selalu kalian berikan buat akuhh.. jangan lupa like, vote dan beri hadiah yang banyak yakk😍😍***