
Nabila dan Risa sama - sama menghela nafas panjang begitu keluar dari kelas, mereka merasa lega karena akhirnya kelas mereka berakhir, hampir seharian mereka berada di kampus, menjelang kuliah yang sebentar lagi usai, membuat mereka harus extra penuh mengikuti mengikuti semua pelajaran.
" Huff.. lelah banget ya hari ini Bil, otak ku udah cape Bil, kasian banget ni ponakan onty, pasti cape juga kan? " tanya Risa sembari mengelus perut Nabila.
Nabila hanya mengulum senyum melihat tingkah sahabat nya itu.
" Sa, pulang biar aku antar ya, sekalian lagian udah mau malam ni "
" gak pa - pa Bil biar aku naik taksi aja, kamu pasti pengen pulang cepat kan, kasian anak - anak kamu di rumah pasti udah nungguin,suami kamu juga paling bentar lagi pulang "
" Sekalian aja biar aku antar pulang, yuk " ucap Nabila memaksa, Risa pun hanya menurut saja yang di katakan Nabila.
Dritt.. Dritt.. suara dering ponsel Nabila berbunyi dan yang menghubungi Nabila adalah Sumi.
" Assalamu'alaikum Mi, ada apa? apa anak - anak baik - baik saja, mba lagi di jalan pulang "
" Mba, Zahira demam " ucap Sumi panik.
" Astagfirullah, demam Mi, minumkan obat penurun panas Mi, Mba sudah di jalan pulang "
" Zahira gak mau minum obat Mba, katanya mau nunggu Mas Adit "
" Mas Adit, ya sudah tunggu ya mba juga sudah di jalan pulang "
Sambungan telepon Nabila dan Sumi terputus.
" Ada apa Bil, siapa yang demam? "
" Zahira yang demam Sa, Pak Bagas lebih cepat ya "
" Ya ampun kasian banget Zahira, kalau gitu kita langsung ke Rumah mu aja Bil, sekalian aku mau tengok Zahira " ucap Risa dan di balas anggukan oleh Nabila, Nabila sangat khawatir saat ini akan keadaan Zahira dan ingin segera sampai kerumah.
Sesampai di Rumah, Nabila bergegas menemui Zahira yang terlihat terbaring lemas dengan suhu badan yang cukup tinggi.
" Zahira sayang, astagfirullah badan mu panas sekali nak " ucap Nabila.
" Sumi obat nya mana? "
" Ini mba "
" Minum obat dulu ya sayang biar panasnya cepat turun "
" Zahira gak mau Bunda, Zahira maunya minum obat sama Ayah "
" Zahira gak boleh gitu ya sayang, Ayah lagi kerja sekarang, sama bunda aja ya nak "
" Zahira gak mau " kekeh Zahira sembari menggeleng - geleng kan kepalanya, dia antara Zahira dan Hafidz, Zahira memang salah satu yang termanja dengan Aditya, maklum saja mungkin selama di tinggal oleh ayahnya fajar ia sangat merindukan sosok Ayah sehingga ketika Aditya datang, Aditya lah yang menjadi pelepas rindu Zahira dan tidak salah jika Zahira sangat manja kepada Aditya.
" Sama onty mau gak, onty Risa bantu minumin Zahira obat ya " rayu Risa, namun Zahira tetap tidak mau.
Nabila tau jika Aditya saat ini pasti sedang sibuk, dan ia tidak mau Aditya khawatir dan terganggu dengan kerjaannya jika ia memberitahukan Zahira sakit, Nabila berniat menunggu Aditya pulang saja, karena juga baginya Zahira hanya demam biasa.
Namun karena Zahira yang tetap bersikeras ingin minum obat dengan Aditya maka mau tak mau Nabila menghubungi suaminya.
Aditya saat ini sedang ada rapat penting, sama seperti Nabila hari ini kerjaan nya juga begitu banyak, biasanya jam 4 sore ia sudah pulang, namun kali ini sudah hampir malam ia pun belum juga selesai dengan kerjaannya, bahkan masih harus rapat dengan beberapa staff nya.
walaupun sibuk, Aditya tidak melupakan keluarganya, begitu melihat dering ponselnya berbunyi dan bertuliskan nama My Love my wife, Aditya langsung keluar dari ruang rapat dan mengangkat telpon dari istri tercinta nya itu.
" Assalamu'alaikum sayang, ada apa? " tanya Aditya.
" Waalaikumsalam Mas, apa Mas sedang sibuk? "
" Tidak, ada apa sayang? " tanya Aditya.
" Mas, Zahira demam "
" APA!!! demam? sejak kapan? apa sudah di beri obat? " tanya Aditya yang begitu khawatir.
" Zahira gak mau minum obat Mas, katanya dia mau di minumin obat sama Mas Aditya "
" Kalau begitu Mas pulang sekarang " ucap Aditya memutuskan sambungan teleponnya dan masuk kembali ke ruang rapat.
" Ris, aku pamit duluan, anak ku sedang sakit, tolong handle semua di sini " ucap Aditya lalu bergegas keluar dari ruangan dan tancap gas menuju rumah.
" Assalamu'alaikum Ron " telpon Aditya kepada Rona.
" Waalaikumsalam Dit, ada apa? " tanya Rona yang baru masih di atas ranjang, masih memikirkan perjodohan nya dengan Risa.
" Bisa minta tolong ke rumah ku sekarang Ron, anak ku Zahira sedang sakit, aku minta kau memeriksa nya sekarang, aku juga sedang di jalan pulang "
__ADS_1
" Baiklah " ucap Rona bergegas bangkit dan juga tancap gas menuju kediaman Aditya.
" Ayah mana Bun? " tanya Zahira.
" Ayah sedang di jalan pulang, Zahira minum obatnya sama Bunda aja ya "
" Zahira gak mau Bun " ucap Zahira yang berada di pelukan Nabila, sedangkan Hafidz duduk di dekat Nabila, ia sedang memperhatikan kakak nya yang sedang sakit.
" Assalamu'alaikum " sapa Rona yang terlebih dahulu sampai.
" Masgal " batin Risa.
" Budeg " batin Rona.
Sepasang mata Rona dan Risa saling bertemu, Namun Rona segera memalingkan pandangan nya kepads Zahira.
" Sejak kapan demam nya Bil? " tanya Rona.
" Sekitar dua jam yang lalu "
" Sudah di beri obat? "
" Zahira gak mau Kak, Zahira mau minum obat kalau Mas Aditya yang bantu "
"Manja banget sih ponakan uncle ini, hmm kalau gitu Zahira berbaring ya, uncle periksa, setelah itu Ayah akan membantu Zahira untuk minum obat, oke sayang, tidak sakit, Uncle hanya memeriksa suhu tubuh Zahira saja " rayu Rona dengan lemah lembut.
Risa di buat terpesona dengan perlakuan Rona, ia tidak menduga jika Masgal yang menurutnya galak bin cerewet ini bisa lemah lembut juga apalagi terhadap anak - anak.
Zahira pun mengangguk, Nabila membaringkan tubuh Zahira dan Rona pun mulai meriksa tubuh Zahira, mulai dari memeriksa suhu tubuh Zahira.
" Suhu tubuhnya tinggi sekali Bil " ucap Rona.
" Minum obatnya ya sayang, sama uncle mau? " rayu Rona.
Zahira kembali menolak, ia masih ingin menginginkan ayahnya.
" Hiks.. hiks.. Ayah mana bunda? " tanya Zahira kembali sembari menangis.
" Jangan menangis sayang, sebentar lagi Ayah datang " ucap Nabila sembari menenangkan Zahira.
Tak lama yang di tunggu - tunggu pun datang, Aditya memarkirkan mobilnya ke sembarang arah begitu sampai di rumah, ia begitu khawatir dengan keadaan Zahira.
" Zahira " ucap Aditya begitu sampai di kamar anaknya.
" Ayah.. hiks.. hiks.. hiks.. " ucap Zahira sembari memeluk Aditya.
" badan kamu panas sekali sayang, minum obat ya " ucap Aditya.
" Iya yah " ucap Zahira.
Nabila memberikan obat kepada Aditya, lalu Aditya membantu Zahira untuk meminum obatnya, semua yang ada di sana bernafas lega akhirnya Zahira mau meminum obatnya.
" Maaf Ayah lama sampai nya, sekarang Zahira istirahat ya " ucap Aditya lalu membaringkan Zahira dan menyelimutinya.
" Bil, kalau begitu aku pulang ya "
" Kamu pulang sama siapa Sa, ntar biar Pak Bagas yang antar kamu ya "
" Biar aku antar " ucap Rona dingin.
Risa menoleh ke arah Rona, sedangkan Rona tidak menatapnya, tatapan Rona kepada Nabila, Zahira dan juga Aditya yang ada di depannya.
" Makasih Kak " ucap Nabila.
" kalau begitu aku pamit ya Bil, ponakan tante cepat sembuh ya, onty pulang dulu " ucap Risa lalu mengecup lembut pipi Zahira.
Rona tidak berhenti menatap Risa, di balik cerewet nya Risa, ternyata Risa juga memiliki sifat yang lembut terhadap anak - anak, itu yang ada di pikiran Rona saat ini.
Rona pun juga ikut pamit untuk mengantar Risa pulang.
" Bunda, tatak demam? " tanya Hafidz.
" Iya sayang, doain kakak semoga cepat sembuh ya "
Hafidz hanya manggut - manggut.
" Mas, Mas mandi duluan, biar aku yang temani Zahira di sini, ntar gantian habis itu aku lagi yang mandi Mas "
" Kamu aja yang duluan, kamu lagi hamil sayang, gak boleh mandi kemalaman " ucap Aditya sembari mengelus lembut pipi Nabila.
__ADS_1
" Ya udah Mas, Hafidz temani kakak sama Ayah di sini " ucap Nabila lalu beranjak pergi ke kamarnya, sedangkan Sumi juga sudah keluar dari ruangan itu sejak tadi.
" Maafin Ayah datang terlambat, cepat sembuh ya sayang " batin Aditya sembari mengecup kening Zahira.
Sekitar 20 menit akhirnya Nabila selesai mandi, setelah itu Nabila yang menjaga Zahira sedangkan Aditya pergi mandi.
" Bunda, Hafidz ngantuk, mau dodot " ucap Hafidz.
" Hafidz gak ada tidur siang tu mba, tadi di suruh tidur siang gak mau " ucap Sumi yang kebetulan ada di sana sembari membuatkan dodot untuk Hafidz.
" Kamu istirahat aja Mi, makasih ya Mi udah bantu Mba ngurus anak - anak "
" Sama - sama mba " ucap Sumi lalu berlalu ke kamarnya.
Nabila membantu Hafidz untuk tidur sembari menepuk - nepuk pan tat nya agar Hafidz segera tidur, Nabila memandangi kedua anaknya itu, timbul rasa bersalah darinya, karena ia terlalu sibuk kuliah dan tidak bisa seratus persen menjaga kedua anaknya,
" Apa aku berhenti kuliah aja ya, biar aku bisa fokus mengurus keluarga ku, tapi.. kuliah ku sebentar lagi juga udah selesai "
Nabila bingung,sebenarnya ia juga tidak ingin berhenti kuliah apalagi sebentar lagi kuliahnya sudah hampir selesai, terlebih lagi ini adalah cita - cita dan keinginan almarhum kedua orang tua nya, namun di sisi lain ia juga ingin fokus mengurus suami dan anaknya, apalagi sebentar lagi anak yang ada di perutnya juga akan lahir.
" Kenapa melamun " ucap Aditya menyadarkan Nabila, ia tidak sadar jika ia Aditya sudah kembali.
" Hah.. gak Mas, oh ya Mas, makan dulu yuk, pasti belum makan kan, Mas tunggu di sini aku ambilin makanan buat Mas " ucap Nabila lalu beranjak, namun Aditya menariknya dan membawa Nabila duduk di pangkuannya.
" Mas gak mau makan " ucap Aditya sembari memeluk pinggang Nabila dan membenamkan wajahnya di perut Nabila yang buncit dengan sesekali mencium perut itu.
" Ntar sakit Mas kalau gak makan, aku gak mau ntar Mas sakit kayak Zahira "
Aditya melepas pelukannya lalu menangkup wajah Nabila dan mengecup lembut bibir istrinya itu.
" Mas, ntar di liat anak - anak " ucap Nabila.
" Mereka sedang tidur sayang, Mas maunya makan kamu "
" Mas mulai kan " ucap Nabila yang sebenarnya ia juga sangat merindukan suami nya.
Aditya menurunkan Nabila dari pangkuannya.
" Mas mau kemana? "
" Tunggu di sini, Mas mau ambilin makanan, kamu juga pasti belum makan kan "
Nabila hanya tersenyum dan manggut - manggut, dan tak lama Aditya datang dengan membawa satu piring makanan yang berisi banyak lauk, nasi dan sayur.
" kok cuma satu aja piringnya Mas "
" Satu aja cukup, ayo makan " ucap Aditya berniat menyuapi Nabila.
Nabila sangat senang sekali melihat perlakukan suaminya, dan dengan sigap membuka mulutnya dan makan dengan lahap.
" Sini aku lagi yang suami Mas, aaaa.. Mmm " ucap Nabila menyuapi Aditya.
" Enak kan Mas "
" Ya enak lah, apalagi istri Mas tercinta yang suapin "
" Duh gombal "
Nabila dan Aditya larut dalam canda tawa dan saling bersuapan, dan tak butuh waktu lama piring yang berisi banyak nasi dan lauk pauk tadi habis di makan oleh mereka.
" Ayah.... jangan pukul bunda " teriak Zahira namun masih menutup kedua matanya.
Aditya dan Nabila terkejut dan langsung menghampiri Zahira.
" Zahira mengigau Mas " ucap Nabila sembari menatap dan mengelus lembut pucuk kepala Zahira.
" Ya Allah, apa Zahira masih mengingat kejadian yang dulu, kenapa masih saja membekas di pikiran nya " batin Nabila mengingat jika dulu Zahira pernah melihat Fajar menamparnya.
" Kenapa Zahira mengigau seperti itu sayang, hmm.. Mas kan tidak pernah memukul mu "
" Begini Mas... " Nabila mulai menceritakan kejadian yang terdahulu kepada Aditya, hingga Nabila tidak bisa menahan tangisnya dan menutup kedua mata dengan kedua tangannya.
" Hiks.. hiks.. waktu itu Mas Fajar langsung saja menampar ku Mas, bahkan tidak melihat jika Zahira ada di antara kami, dan semenjak itu Zahira sering mengigau ketika tidur atau pun sakit seperti ini, namun lama kelamaan sudah mulai berkurang, aku kira kejadian itu sudah hilang di pikiran Zahira, ternyata masih Mas.. hiks.. hiks.. "
Hati Aditya terasa teriris mendengar cerita dari Nabila, ia tidak tau jika sesakit itu, rasa sakit yang pernah di alami Nabila, bahkan berdampak kepada Zahira hingga sekarang.
Aditya membawa Nabila kedalam pelukannya, lalu ia menyeka air mata yang ada di pipi Nabila dengan jemarinya.
" Cukup, jangan menangis lagi, Mas benjanji akan menjaga kalian, dan tidak ada satu orang pun yang akan menyakiti kalian " ucap Aditya lalu kembali membawa Nabila dalam pelukannya.
__ADS_1
**Bersambung
jangan lupa vote dan like nya readers... 😘😘**