
Nabila sampai di Rumah, ia langsung menuju ke kamar kedua anaknya dan mengunci pintu itu. Sumi yang kebetulan berpapasan dengan Nabila di depan pintu kamarnya tidak jadi menyapa Nabila karena melihat Nabila sedang menangis.
Tak lama Aditya juga sampai di Rumahnya, karena tidak sabar menunggu, mobil belum masuk ke rumah, Aditya sudah langsung turun dan berlari ke dalam, padahal saat ini hujan baru saja turun dan sangat deras.
" Aditya.. hujan.. tunggu dulu " teriak Rona.
Aditya sudah tidak memperdulikan Rona, di pikirannya hanya ada Nabila, ia harus segera menjelaskan semuanya kepada istrinya itu.
" Kita pulang saja Ris, biarkan Aditya menyelesaikan masalahnya dengan Nabila " ucap Rona.
" Baik Pak "
Sesampai di dalam Rumah, Aditya bergegas menuju kamarnya, namun ia tidak mendapati Nabila di sana, ia lalu berlari menuju ke kamar kedua anaknya, mencoba membuka pintu namun terkunci.
" Nabila.. apa kau di dalam sayang.. keluarlah, Mas ingin menjelaskan semuanya kepadamu " ucap Aditya.
Nabila menutup telinganya dengan kedua tangan, saat ini ia tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari Suaminya itu.
" Sayang.. ayolah.. " ucap Aditya lagi.
CEKLEK.. Sumi membuka pintu kamarnya..
" Mas Aditya " sapa Sumi.
" Sumi, apa istriku ada di dalam? " tanya Aditya.
" Ada Mas, tapi.. tadi Mba Nabila sepertinya sedang menangis, apa terjadi sesuatu Mas " tanya Sumi yang khawatir.
" Tidak apa-apa Sumi, masuklah " ucap Aditya.
" Ayolah sayang, buka pintunya aku ingin bicara "
Aditya duduk di depan pintu, tubuhnya ia sandarkan di depan pintu, dengan kepala yang bertumpu di kedua siku kakinya.
" Maafkan aku sayang.. aku memang terlalu bodoh " batin Aditya.
Hampir 2 jam Aditya menunggu Nabila di luar kamar, namun Nabila tak kunjung keluar, Aditya beranjak dari duduknya lalu menuju kamarnya sendiri untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri, Aditya merogoh ponselnya, mengambil charger di dalam laci, lalu mengisi baterai ponselnya, setelah menyala ia baru melihat jika banyak panggilan masuk dari Nabila yang ia abaikan.
Karena terlalu menggebu - gebu mencari Ameliya, ia jadi lupa untuk mengabari istrinya sendiri, ia sangat antusias mencari Ameliya karena ia ingin sekali menyelesaikan masalah yang menimpanya, namun Aditya tidak terpikir sama sekali jika semua akan jadi seperti ini.
Aditya mencoba menghubungi Haris.
" Ris, siapkan semua nya besok, seperti rencana kita, aku ingin membalas semua perbuatan Bima " ucap Aditya.
" Baik Tuan " ucap Haris.
*******
__ADS_1
Nabila meringkuk di tepi ranjang Hafidz, Hafidz dan Zahira sudah tertidur, namun Nabila belum, ia masih menangis, ia bingung harus berbuat apa.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
" Nabila.. kamu harus kuat, jangan cengeng kayak gini, Mama mengajarkan kamu untuk kuat, mungkin Mas Adit gak salah " batin Nabila mencoba menguatkan diri nya sendiri.
" Tidak... tidak... apa yang ku lihat tadi.. " Nabila mencoba mengingat kejadian tadi, apalagi melihat Ameliya yang sexy dengan pakaian robek sana sini, ia jadi berpikir jika suaminya dan Ameliya telah melakukan sesuatu di sana.
" Sulit..aku gak bisa Mas, aku masih belum bisa Terima ini, mungkin karena dia mantan istri Mas Aditya, kenapa Mas lakukan ini Mas, hiks.. hiks.. hiks.. " Nabila kembali menangis.
Nabila naik ke atas ranjang Hafidz, ia tatap wajah Hafidz, lalu berbalik badan menatap Zahira, mereka tertidur sangat pulas, Nabila lalu meng elus-elus perutnya yang sudah mulai membuncit.
" Apa yang harus Bunda lakukan sayang, Ayah sudah menyakiti hati Bunda " batin Nabila.
Nabila mencoba memejamkan kedua matanya, ia ingin tidur namun tidak bisa, karena ia biasa tidur memeluk Aditya, ya semenjak hamil Nabila sangat manja kepada suaminya itu, ia tidak akan bisa tidur jika tidak memeluk Aditya.
" Sayang.. apa kau masih terjaga, jangan begini ya sayang, Mas bisa mati kalau kamu begini, keluarlah, kita bicarakan sama - sama " ucap Aditya sedikit pelan karena ia tidak mau membangunkan Zahira dan Hafidz.
" Aku kirain Mas Adit udah nyerah " batin Nabila kembali menutup telinganya dengan kedua tangan.
" Ya Allah, aku harus bagaimana, sampai kapan kamu begini sayang " batin Aditya.
Aditya kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya ke dinding di samping pintu, Aditya masih setia menunggu Nabila keluar dari kamar hingga Aditya tertidur di sana, tidur di luar kamar Zahira dan Hafidz dengan posisi duduk, Nabila juga di dalam sudah tertidur dalam tangisnya.
Keesokan harinya, Nabila terbangun dan mencoba membuka pintu kamar perlahan.
" Huff aman, sepertinya Mas Aditya masih tidur di kamarnya " batin Nabila.
" Mas Adit, pasti semalaman tidur di luar " batin Nabila.
" gak.. aku gak boleh kasihan " ucap Nabila kembali mengingat kejadian tadi malam, lalu meninggalkan Aditya kembali ke kamar mereka.
Nabila pergi mandi, lalu setelah itu ia menyiapkab baju kantor Aditya dan menaruhnya di atas ranjang, seperti biasa yang ia lakukan, walaupun dalam keadaan marah, Nabila tidak melupakan tugasnya sebagai istri, setelah selesai ia pergi ke kamar Sumi.
Sumi yang kebetulan baru keluar kamar terkejut melihat Aditya yang masih tertidur dengan posisi duduk.
" Mas Adit, kasian banget sih, apa semalaman tidur di sini " batin Sumi.
Sumi berniat membangunkan Aditya, namun Nabila kebetulan datang dan mencegah Sumi.
" Tidak usah Mi "
" Tapi Mba "
" Mi, Mba mau ke kampus ya, Mba titip Zahira dan Hafidz, hari ini kamu dulu yang mandiin mereka, pakaian sekolah mereka udah Mba siapkan di dalam " ucap Nabila.
" Iya mba, oh ya Mba, aku liat Mba menangis semalam, dan sekarang mata Mba masih kelihatan sembab, Mba baik - baik saja kan " ucap Sumi.
" Baik - baik saja Mi, ya sudah Mba pergi dulu ya "
__ADS_1
" Iya Mba "
Nabila bergegas turun dan masuk kedalam mobil, meminta Bagas untuk mengantarkannya ke Rumah Risa.
" Masih pagi sekali Nyonya " ucap Bagas.
" Ya Pak, makanya kita ke tempat sahabat aku dulu, ntar kalau dah siangan baru ke kampus " ucap Nabila dan di balas anggukan oleh Bagas.
" Tuan.. Tuan.. " ucap Bi Inah mencoba membangunkan Aditya.
Aditya begerak, ia terbangun dari tidurnya ketika mendengar seseorang telah membangunkannya.
" Tuan, lebih baik anda tidur di kamar " ucap Bi Inah.
" Bi inah "
Aditya beranjak dari duduknya, ia melihat hari sudah terang, ia mengingat Nabila, langsung masuk ke kamar Zahira dan Hafidz, namun Nabila tidak ada, yang ada cuma Sumi dan kedua anaknya.
" Ayah.. " sapa kedua anaknya.
Aditya tersenyum melihat Zahira dan Hafidz, ia menghampiri mereka berdua, lalu mencium pipi kedua anaknya itu.
" Zahira, Hafidz, apa kalian melihat Bunda "
" Bunda.. gak ada Yah " ucap Zahira.
"Mba Nabila sudah pergi ke kampus Mas " ucap Sumi.
" sejak kapan Mi "
" pagi - pagi sekali Mas "
Aditya beranjak dan ingin ke kamarnya, namun Zahira dan Hafidz menahannya dan menyuruh Aditya membantu mereka memakai baju sekolah.
Aditya pun menurut, membantu Zahira dan Hafidz memakai pakaian sekolah, dan setelah itu pergi ke kamar.
Sesampai di kamar, Aditya tersenyum melihat pakaian kerjanya yang sudah siap di atas ranjang.
" Terima kasih sayang, kau tidak lupa dengan tugas mu " ucap Aditya.
" Maafkan aku telah menyakitimu, aku akan menyelesaikan semua masalah ini hari ini juga, aku akan membalas semua perbuatan Bima, dan setelah itu tidak akan ada lagi yang menggangu kita " ucap Aditya.
Aditya bergegas mandi lalu bersiap ke kantornya, sama seperti Nabila karena terburu - buru ia juga melupakan sarapannya, ia sangat antusias untuk membalas semua perbuatan Bima.
**Bersambung...
ntar aku up lagi ya teman - teman.. ☺
tenang aja, konfliknya gak lama kok.. 😅
__ADS_1
tetap stay tune, jangan lupa singgahkan jejak kalian di sini.. 😘**