Janda Muda Vs Duda Tampan

Janda Muda Vs Duda Tampan
Bab 135


__ADS_3

Nabila terbangun dari tidurnya begitu mendengar alarm ponsel Aditya yang terus berbunyi, Nabila mencoba menyingkirkan lengan Aditya yang melingkar di perutnya.


" Panas " Nabila merasakan lengan Aditya panas, lalu ia menaruh telapak tangan nya di kening Aditya, dan sepertinya Aditya demam, Nabila juga bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Aditya.


Nabila beranjak dari tidurnya, lalu ia meraih ponsel di atas meja yang sudah menunjukkan pukul lima pagi,Nabila bergegas keluar kamar mengambil obat penurun panas dan juga wadah sedang berisi air hangat dan handuk kecil untuk mengompres kepala suaminya.


" Buat siapa Nyonya? " tanya Bi Inah yang sudah standbay di dapur.


" Buat Mas Adit Bi, Mas Adit demam "


" Demam? kasian Tuan, biasanya kalau Tuan sudah sakit pasti lama Nyonya "


" Yang bener Bi? "


" Ya nyonya, Tuan Aditya memang jarang sakit, tapi kalau sudah sakit biasanya sampe seminggu, terus Tuan juga susah banget di suruh minum obat Nyonya "


" Terus kalau gak mau minum obat gimana Bi? masak iya selama seminggu itu Mas Adit gak minum obat Bi "


" minum Nyonya, itu juga di paksa sama Nyonya Maya "


" Jadi gitu, ya deh Bi, mudahan aja kali ini Mas Adit gak cerewet dan mau minum obat "


Nabila beranjak dari dapur kembali ke kamar, sebelumnya ia menyempatkan diri menjenguk kamar Zahira dan Hafidz yang masih lelap dalam tidurnya.


" Mas, Mas Adit " Nabila mencoba membangunkan suaminya.


" hmmmm... " Aditya hanya menggeliat dan malah menarik tangan Nabila dan tidur di pangkuan Nabila.


" Panas sekali " batin Nabila sembari mengelus - elus kepala Aditya.


" Mas, bangun dulu yuk, minum obat, badan Mas panas ni "


" Gak sayang, Mas gak kenapa - kenapa " jawab Aditya dalam posisi yang sama dan belum membuka kedua matanya.


" gak kenapa - kenapa gimana Mas, Mas demam, minum obat dulu ya Mas "


" Gak sayang, ntar juga panas nya turun, Mas cukup istirahat saja "


Yang di katakan Bi Inah benar, Aditya memang sulit untuk di suruh minum obat, dan dalam keadaan demam gini bisa - bisa nya bilang kalau dia gak kenapa - kenapa.


" Jangan gitu dong Mas, aku kan gak bisa liat Mas kayak gini, kalau gak minum obat, gimana panasnya mau turun.. hiks.. hiks.. hiks.. "


Mendengar Nabila menangis, Aditya bangkit dan langsung duduk, mensejajarkan tubuh nya di depan Nabila.


" Kenapa menangis sayang, jangan nangis lagi ya, ya Mas minum obat nya sekarang "


Nabila tersenyum dalam hati, rencana nya berhasil, Aditya memang tidak bisa melihat Nabila menangis, dan benar saja Aditya langsung meraih obat yang ada di tangan Nabila dan langsung meminumnya.


" Sudah Mas minum, jangan nangis lagi ya " ucap Aditya lalu memeluk Nabila.


Nabila berhenti menangis, dan menyuruh Aditya untuk berbaring.


" Aku kompres ya Mas, biar panasnya cepat turun "


" Gak usah sayang, ntar kamu capek "


" Cuman ngompres kepala Mas saja gak bikin capek Mas "


Aditya tersenyum lalu manggut - manggut, dan mengikuti saja perintah istrinya itu.


Setelah selesai mengompres kepala Aditya, Nabila beranjak dari duduknya, keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan suaminya bubur, dan Aditya saat ini sedang tertidur.


" Gimana keadaan Tuan, Nyonya? "


" Mas Adit udah minum obat Bi, dan sekarang aku mau buatin Mas Adit bubur Bi "


" Biar Bibi aja Nyonya yang buatin "


" Gak usah Bi, Bi kerjain yang lain aja, lagian udah lama juga aku gak masak Bi, buat bubur gak bikin aku capek kok Bi, oh ya Bi ntar minta tolong kasih tau Sumi buat mandiin anak - anak sama siapin baju sekolah mereka Bi, aku mau ngurusin Mas Adit dulu "


" Baik Nyonya "


Setelah bubur siap, Nabila kembali ke kamarnya, Aditya masih tertidur, Nabila jadi tidak tega membangunkan suaminya, Nabila mengelus - elus kepala Aditya.


" Sepertinya panas nya sudah mulai turun " batin Nabila.


Sembari mengelus - elus kepala suaminya, Nabila mulai merasa tidak enak dengan perutnya, seperti ada yang mengganjal juga di lehernya, dan Nabila bergegas menuju kamar mandi.


Hoek... Hoek.. Hoek..


Nabila muntah - muntah, Aditya yang mendengar Nabila yang sedang muntah - muntah langsung bangkit dari tidurnya dan masuk ke kamar mandi, dan memijat - mijat punggung Nabila.

__ADS_1


" Sudah muntah nya? " tanya Aditya.


" Sudah Mas "


Nabila membasuh mulutnya lalu ingin keluar dari kamar mandi, namun tiba - tiba saja Aditya menggendongnya dan membawa nya ke tempat tidur, Aditya mengerti jika tubuh Nabila pasti lemah sekarang, ya walaupun ia juga sebenarnya masih sedikit pusing,tapi Aditya tidak ingin terjadi sesuatu kepada Nabila.


" Kenapa sih Mas, pake gendong - gendong, kan aku berat, lagian Mas juga masih sakit "


" Mas tau kalau tubuh kamu pasti lemes sekarang, kan tadi habis muntah - muntah, Mas juga udah sembuh sayang "


Nabila menaruh telapak tangan nya di kening Aditya, Nabila masih bisa merasakan panasnya kening Aditya, cuma tidak terlalu panas sebelum Aditya minum obat.


" Masih panas gini, di bilang udah sembuh " ucap Nabila, dan membuat Aditya terkekeh.


" Jangan ketawa - ketawa Mas, aku khawatir sama kondisi Mas Adit "


" Iya sayang, maaf ya, ya sudah kalau gitu kamu istirahat "


" Bukan aku yang harus istirahat, tapi Mas Adit "


Nabila mengambil mangkuk di atas meja yang berisi bubur yang ia buat tadi.


" Aku suapin ya Mas, Mas makan dulu habis itu baru istirahat "


" Ntar aja ya sayang, Mas gak lapar "


" Ini aku yang buat lo Mas "


" Yang bener? kalau gitu cepat suapin " Aditya senang sekali mendengar kalau Nabila yang memasak bubur untuknya, karena sudah lama sekali ia tidak merasakan masakan istrinya itu, ya sebenarnya ia juga yang melarang Nabila memasak.


" Sampe habis ya makannya Mas "


Aditya hanya manggut - manggut, ia senang sekali di manjakan oleh Nabila seperti ini.


Selesai menyuapi suaminya, Nabila berniat membawa mangkok yang sudah habis isinya itu kembali kedapur, tapi Aditya melarang dan menyuruh Nabila untuk menemaninya istirahat.


" Ntar aku balik lagi Mas, aku mau antar ini aja dulu "


" Taruh di meja aja sayang, ntar kamu capek, kamu di sini aja sekarang temani Mas " ucap Aditya.


" Ya deh kalau gitu Mas "


Tok.. Tok.. Tok..


" Iya tunggu sebentar Bi "


" Siapa sayang, kok cari kamu? " tanya Aditya.


" Gak tau Mas, Mas istirahat aja ya, aku keluar sebentar, ntar aku balik lagi "


Aditya hanya manggut - manggut lalu kembali berbaring.


" Ada apa perlu a.. pa? " tanya Nabila dan terkejut begitu melihat Fajar, Bu Fidiya dan juga Pak Ahmad yang menunggu nya di ruang tamu.


" Nabila " ucap Bu Fidiya dengan kedua mata yang mulai berkaca - kaca.


Setelah Fajar bertemu dengan Nabila beberapa hari yang lalu, akhirnya Fajar memberanikan diri untuk kembali menemui Nabila, serta membawa kedua orang tuanya, karena memang itu kemauan dari kedua orang tua Fajar juga, mereka ingin meminta maaf kepada Nabila, sekaligus bertemu dengan kedua cucu mereka yang selama ini juga sudah mereka sia - siakan.


" Nabila, ini ibu Nak, maafkan atas semua kesalahan ibu sama kamu Nabila, hiks.. hiks.. hiks.. " Bu Fidiya memeluk Nabila sembari menangis.


Nabila menarik nafas panjang, kedua air matanya juga mulai berkaca - kaca, tapi ia mencoba menahan air mata itu agar tidak jatuh, lalu ia mengelus lembut punggung mantan mertua nya itu.


" Nabila sudah memafkan ibu, sudah jangan menangis Bu " ucap Nabila.


" Ayah juga minta maaf ya Nabila, maafkan ayah dan ibu yang dulu lebih percaya dengan ucapan Fajar dan menyia-nyiakan kamu dan cucu kami "


" Iya Ayah "


" Terima kasih Nabila, Terima kasih " ucap Bu Fidya sembari menghapus air matanya, ia sangat senang sekali bisa bertemu dengan Nabila, ternyata Nabila begitu berlapang dada memafkan mereka.


" Mba.. anak - anak sudah si.. ap " ucapan Sumi terhenti begitu melihat Fajar dan kedua orang tua Fajar, begitu melihat Fajar, ia ingat ika ia pernah bertemu Fajar di rumah sakit waktu itu.


" Bunda.. " teriak Hafidz lalu memeluk Nabila, Zahira juga mengikuti langkah Hafidz, namun ia memilih bersembunyi di belakang Nabila.


" Sumi, kenalkan ini neneknya Zahira dan juga Hafidz, dan yang itu ayah mereka " Nabila mencoba memperkenalkan mantan Bu Fidiya, Pak Ahmad, dan Fajar kepada Sumi, dan mereka saling bersalaman.


Bu Fidiya dan Pak Ahmad menatap dalam kepada Hafidz dan juga Zahira, dan kedua mata mereka kembali berkaca - kaca.


"Fajar, itu Zahira kan, dan ini.. ini Hafidz kan " ucap Bu Fidiya dan Pak Ahmad berlutut di depan Hafidz dan Zahira, mereka menangis dan mencoba membelai wajah Hafidz, sekarang Hafidz sudah besar, dan Pak Ahmad dan Bu Fidiya menangis di depan Zahira dan Hafidz, mereka menyesal sekali sudah menelantarkan cucu mereka, apalagi Hafidz yang dulu mereka tinggalkan saat masih bayi.


Kedua mata Fajar juga ikut berkaca - kaca, ia senang sekali akhirnya kedua orang tuanya juga sudah bertemu dengan cucunya.

__ADS_1


" Hafidz, Zahira, ini nenek dan kakek nak,Zahira masih ingat kan sama nenek " ucap Bu Fidiya.


Bu Fidiya dan Pak Ahmad mencoba memeluk Zahira dan Hafidz, namun Hafidz dan Zahira bersembunyi di belakang Nabila, dan Nabila pun berlutut di depan kedua anaknya.


" Hafidz, ini nenek dan kakek, dan itu, itu ayah kamu nak " ucap Nabila sembari menunjuk ke arah Fajar, dan Fajar berjalan ke arah Hafidz dan juga ikut berlutut di depan Hafidz dan Zahira.


Zahira yang melihat Fajar, kembali bersembunyi di belakang Nabila.


" Ada apa sayang? " tanya Aditya yang datang tiba - tiba, dan Zahira langsung berlari ke arah Aditya dan menggenggam jemari tangan Aditya.


Fajar, kedua orang tuanya, dan juga Nabila yang tadi berlutut kini sudah bangkit begitu melihat Aditya datang.


Hati Fajar sedikit sakit,melihat Zahira berlari ke arah Aditya dan menggenggam erat jemari tangan Aditya, terlihat Zahira begitu menyanyangi Aditya, dan malah takut kepada Fajar. Tapi Fajar sadar jika memang itu semua juga karena ulahnya, wajar saja jika Zahira lebih menyanyangi Aditya daripada dirinya.


" Mas, kenalkan ini kedua orang tua Fajar, mereka nenek dan kakeknya Zahira dan Hafidz, dan ini Fajar, ayah Zahira dan Hafidz "


" Dan ini Mas Aditya, suami saya Bu, Yah " jelas Nabila.


Aditya tersenyum ramah kepada kedua orang tua Fajar, dan menyambut aluran tangan dari kedua orang tua Fajar, bukan hanya kedua orang tua Fajar, tetapi Fajar juga.


" Maaf kalau kedatangan kami menggangu anda " ucap Pak Ahmad.


" Tidak Pak, tidak mengganggu sama sekali " ucap Aditya.


" Kami kesini hanya ingin meminta maaf kepada Nabila dan juga Zahira dan Hafidz, dan kami juga ingin bertemu dengan cucu kami " jelas Pak Ahmad.


" Silahkan saja Pak, Bu, saya dan Nabila tidak melarang kalian untuk bertemu dengan Zahira dan Hafidz " ucap Aditya.


" Terima kasih nak Aditya " ucap kedua orang tua Fajar bersamaan.


" Terima kasih Aditya " ucap Fajar dan di balas senyuman oleh Aditya.


" Hafidz, Zahira, salim nenek sama kakek,sama ayah juga " ucap Nabila.


Hafidz langsung berlari ke arah Fajar dan kedua orang tuanya, kedua orang tua Fajar dan juga Fajar memeluk erat Hafidz, dan menciumi wajah tembem Hafidz, sedangkan Zahira masih setia di samping Aditya.


" Zahira kenapa diam saja " ucap Nabila.


" Zahira gak mau Bunda, yah, hiks.. hiks.. " Zahira menangis lalu berlari ke kamarnya.


Semua orang terkejut melihat Zahira, Nabila dan Aditya bergegas menyusul Zahira.


" Zahira sayang, kenapa menangis? " ucap Nabila.


" Hiks.. Hiks.. Zahira gak mau ketemu sama ayah Fajar, sama nenek kakek juga, mereka jahat, dulu mereka tinggalin Zahira, adek sama bunda "


" Kamu temui mereka di luar sayang, biar Mas yang bujuk Zahira " ucap Aditya dan Nabila mengkuti perintah suaminya.


Aditya membawa Zahira kedalam pelukan nya.


" Zahira, jangan menangis lagi ya sayang, mereka adalah ayah, kakek dan nenek Zahira, mereka sayang sama Zahira, dan mereka tidak akan jahat lagi sama Zahira, ada Ayah di sini, ayah akan selalu melindungi Zahira "


Zahira mendongakkan kepalanya dan menatap Aditya, dan Aditya menghapus air mata Zahira.


" Benar yah, kalau kakek, nenek, dan juga Ayah Fajar sayang sama Zahira "


" Ya benar, Zahira liat sendiri kan bagaimana mereka menyanyangi adek Hafidz "


" Mereka tidak akan menyakiti Zahira, bunda atau Hafidz, Zahira a tenang saja, ada Ayah yang akan selalu melindungi kalian "


" Janji ya Yah "


" Ia Ayah janji, sekarang kita keluar ya, kasihan Ayah Fajar, nenek dan kakek Zahira sudah menunggu di luar "


Zahira manggut - manggut lalu bersama dengan Aditya keluar dari kamar dan kembali ke ruang tamu.


" Zahira, jangan takut sama Ayah ya nak, ayah, nenek sama kakek sayang sama Zahira " ucap Fajar sembari berlutut di depan Zahira.


Zahira masih saja berpegang erat dengan ke tangan Aditya, lalu ia melihat ke arah Aditya, dan Aditya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Zahira tersenyum lalu tatapan nya beralih ke Fajar, Zahira tersenyum ke Fajar dan memeluk Fajar, Fajar langsung saja menangis, ia senang sekali, akhirnya Zahira mau menerimanya.


Semua orang di sana terharu, dan tersenyum bahagia, kedua orang tua Fajar juga ikut memeluk Zahira dan menciumi wajah Zahira.


Dan setelah mendapat persetujuan dari Aditya dan Nabila, mereka mengantar Zahira dan Hafidz ke sekolah, tetapi tetap di iringi Alex dan juga Sumi yang memakai kendaraan lain yang mengekor di belakang mereka.


**Bersambung...


jangan lupa kritik dan saran nya ya teman - teman... 😊


jangan lupa mampir ke novel kedua aku, baru satu bab yang ke up, tapi jangan lupa masukkan ke daftar favorit ya, biar kalian bisa pantengin terus kalau ada up terbaru dari aku,, semoga kalian suka dengan novel kedua aku ini... 😘😘**

__ADS_1



__ADS_2