
Sayup-sayup kedua mata Nabila mulai terbuka, pandangan Nabila lurus ke atas, menatap langit-langit kamar yang berwarna putih, ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya.
Nabila mencoba menggerakkan tangan nya sebelah kiri, namun terasa seperti ada yang menahannya, begitu melihat ke samping, ternyata Aditya sedang duduk sembari tertidur di samping Nabila, kepala Aditya tertunduk sembari tangannya yang masih menggenggam jemari tangan Nabila.
Perlahan Nabila melepas jemari tangannya yang masih di genggam oleh Aditya, Nabila kemudian meng elus-elus lembut pucuk kepala suaminya itu.
Merasakan sentuhan di kepalanya, Aditya terbangun dan melihat Nabila yang sudah sadarkan diri.
" Sayang " ucap Aditya langsung memeluk Nabila.
" Mas"
" Syukurlah kamu sudah sadar, Mas sangat khawatir sayang, kamu membuat Mas takut "
" Maaf ya Mas, sudah membuat Mas khawatir "
" Tidak sayang, tidak perlu meminta maaf " ucap Aditya mencium kening Nabila kemudian melepas pelukannya.
" Mas, ada apa denganku, aku sakit apa Mas " tanya Nabila.
Aditya meraih tangan Nabila, kemudian mencium punggung tangan istrinya itu.
" Kamu tidak sakit apa-apa sayang, kamu tau apa yang membuat perut mu keram, itu karena kamu sedang mengandung sayang "
" Maksud Mas aku hamil? "
" Iya sayang, kamu hamil " ucap Aditya.
" Hiks.. hiks.. hiks.. " Air mata Nabila jatuh begitu saja, Nabila nangis sesegukan.
" Kenapa kamu menangis sayang " ucap Aditya kembali memeluk Nabila.
" Hiks.. Hiks.. aku bahagia banget Mas, ternyata aku beneran Hamil "
" Maksud mu, kamu sudah tau tentang hal ini? "
" Sebulan ini aku sudah terlambat datang bulan Mas, sebelum ke kantor Mas tadi, aku sempat ke apotik sebentar beli alat tes kehamilan, rencananya mau tes di Rumah, eh ternyata beneran Aku hamil Mas "
" Ia sayang, sudah jangan menangis lagi ya"
Tok.. Tok... tok..
Dokter Rossa datang bersama seorang perawat yang membawakn sebuah alat USG untuk pemeriksaan kandungan Nabila.
" Ibu Nabila sudah sadar ya, alhamdulillah " ucap Dokter Rossa.
" Saya akan mulai pemeriksaan nya, sekarang ibu sebaiknya berbaring "
Aditya berpindah duduk ke sebelah kiri Nabila, sedangkan dokter Rossaa duduk di sebelah kanan Nabila, Dokter Rossa menyingkap sedikit pakaian Nabila sehingga perut Nabila terlihat, dan mulai menyemprotkan gel ultrasonic di perut Nabila.
Aditya begitu memperhatikan setiap gerak-gerik dokter Rossa, ia tampak begitu semringah, ia ingin sekali melihat calon anaknya itu.
" Benar dugaan saya kan Pak, Buk, ibu sekarang sedang mengandung, dan ini adalah kantung janin, sedangkan yang didalam ini adalah janin nya, perkiraan usia kandungan ibu sekarang sudah memasuki 6 minggu "
" ukuran janin 6 minggu ini bentuknya seperti kacang polong, seperti yang Bapak dan ibu lihat sekarang, pada saat usia 6 minggu ini organ tubuh seperti mata, hidung, telinga, lengan, dan juga kaki janin sudah mulai membentuk"
" Maka dari itu, ibu harus selalu menjaga pola makan dan gizi ibu harus terpenuhi, agar perkembangan janin bisa terbentuk dengan sempurna"
Aditya begitu memperhatikan layar monitor didepannya yang hanya menampilkan bintik-bintik hitam, dan tatapan Aditya fokus kepada kantung dan juga janin yang di perlihatkan oleh dokter Rossa.
Tanpa sadar, air mata Aditya menetes, ia begitu bahagia melihat janin yang kini tumbuh di rahim istrinya itu.
Nabila juga begitu bahagia begitu melihat janin kecil yang kini tumbuh di rahimnya, walaupun ini bukan kehamilan pertamanya, ia bahagia karena bisa mempunyai anak dari hasil buah cintanya dengan Aditya.
" Bapak, ibu, coba lihat, subhanallah... ada kantung lagi di sebelahnya bu, Pak, ternyata anak ibu dan bapak kembar " ucap Dokter Rossa.
Aditya dan Nabila saling memandang, kebahagiaan mereka bertambah begitu Dokter Rossa mengatakan jika mereka mempunyai anak kembar.
" Mas, anak kita kembar, lihat Mas "
" Iya sayang, Alhamdulillah.. Allah telah memberi kita kepercayaan dengan memberikan kita anak kembar "
" Kalau begitu, pemeriksaan nya sampai di sini ya Bu Nabila, kita akan ketemu empat minggu lagi " ucap Dokter Rossa.
" Terima kasih ya Dok " ucap Aditya bersamaan dengan Nabila.
" Sama-sama Pak, Bu "
" Saya sudah meresepkan vitamin untuk ibu Nabila, harus rutin di minum ya Bu, dan tolong ibunya di jaga ya Pak Aditya,jangan terlalu stres atau kecapean, karena kondisi Bu Nabila saat ini masih lemah, dan juga usia kandungannya yang masih muda"
" Iya Dok, saya pasti akan menjaga istri saya dengan baik "
Dokter Rossa keluar dari ruang rawat bersama dengan seorang perawat yang mendampinginya.
" Sayang, tunggu sebentar ya " ucap Aditya kemudian keluar dari ruangan ingin segera menemui Dokter Rossa.
__ADS_1
" Dokter Rossa tunggu " Panggil Aditya dan Dokter Rossa pun menghentikan langkahnya,
" Iya ada apa Pak Aditya?"
"Hmm..hmm begini dok, apakah saya masih bisa berhubungan badan dengan istri saya " ucap Aditya ketika mengingat jika keram di perut Nabila disebabkan karena hubungan badan yang mereka lakukan.
Dokter Rossa tersenyum mendengar pertanyaan Aditya, sedangkan Aditya berusaha menahan malunya karena harus menanyakan soal ini kepada dokter Rossa.
" Melihat kondisi istri bapak yang saat ini kondisi nya lemah dan juga usia kandungannya masih muda, saya sarankan untuk tidak melakukannya dulu ya Pak hingga usia kandungan istri Bapak berusia 16 minggu atau sekitar 4 bulan "
" Jadi begitu ya Dok, baiklah sekali lagi Terima kasih dok "
" Sama-sama Pak "
Aditya kembali kedalam kamar rawat menemui istrinya, dan melihat Nabila yang tengah cemberut karena ditinggal olehnya.
" Sayang, kenapa cemberut gitu "
" Mas ngapain sih diluar, lama banget "
" Perasaan aku gak lama berbicara dengan dokter Rossa " batin Aditya.
" Maaf ya sayang, tadi ada yang mau Mas tanyain sama dokter Rossa"
" Emangnya Mas tanya apa, kenapa gak tanya dari tadi waktu Dokternya di sini "
" Mas lupa sayang, tadi Mas nanya apa kita boleh melakukan hubungan badan saat kondisi kamu sekarang ini "
" Iihh Mas, ngapain tanya kayak gitu, malu tau Mas sama dokternya " ucap Nabila kembali cemberut.
" Mas cuma mau memastikan saja sayang, agar kamu dan anak kita baik-baik saja, karena kata dokter tadi perut kamu keram di sebabkan karena kita habis berhubungan badan"
" Terus dokternya bilang apa "
" Kata dokter Mas harus puasa selama 4 bulan "
" Hah.. puasa.. apa hubungan sama puasa Mas, aku gak ngerti maksudnya Mas itu apa "
" Maksud Mas itu, ya harus puasa, puasa untuk makan kamu " ucap Aditya berbisik di telinga Nabila.
" Mas... ahh... nyebelin..hahaha.. " ucap Nabila sembari tertawa.
"Gitu dong tertawa, jangan cemberut terus " ucap Aditya.
" Hehehe.. iya Mas, oh ya anak-anak gimana Mas, sudah kasih tau orang rumah, kan kita besok baru pulang Mas"
" Sahabat, maksud Mas Risa "
" Tadi dia telpon kamu, karena kamu belum sadar, jadi Mas yang angkat telponnya, dan bilang kalau kamu ada di rumah sakit "
" Hmm ia Mas, oh ya Mas, aku gerah Mas, pengen mandi? "
" tapi ini sudah malam sayang, ganti baju aja ya "
" Aku gak mau Mas, aku pengen mandi "
" Iya.. iya.. ayok kita mandi " ucap Aditya mengalah kepada Nabila, karena ia tau jika kemauan Nabila tidak di turuti, pasti Nabila akan ngambek lagi padanya.
Aditya menggendong Nabila menuju kamar mandi, Nabila teringat jika dulu Aditya juga pernah menggendongnya seperti ini menuju kamar mandi, saat ia dan Aditya belum menjadi suami istri.
Aditya menurunkan Nabila didepan pintu, kemudian membuka pintu kamar mandi, dan menuntun Nabila sampai kedalam.
" Mas, aku mau buang air kecil "
" Ehh Mas mau kemana? "
" Katanya mau buang air kecil, jadi Mas keluar dulu "
" Gak usah Mas, di sini aja, aku takut sendirian "
Aditya hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah manja Nabila.
" Ya sudah Mas temenin "
" Hadap sana Mas, aku malu kau di liatin sama Mas"
" Hmm " ucap Aditya sembari berbalik badan membelakangi Nabila.
" Aku kan sudah liat seluruh tubuhmu sayang, buat apa kamu harus malu lagi " batin Aditya.
" Sudah? "
" Sudah Mas"
" Mas, bantuin buka baju aku"
__ADS_1
" Ehh tunggu Mas " ucap Nabila menghentikan langkah Aditya yang sedang menarik baju dress Nabila dari bawah ke atas, membantu Nabila membuka bajunya.
" Kenapa lagi sayang "
" Mas gak boleh nafsu nantinya kalau liat aku gak pake baju "
" Paling juga kamu yang nafsu " ucap Aditya.
" Kok aku sih Mas "
" Kamu gak ingat di kantor tadi siang yang minta duluan siapa? " tanya Aditya kepada Nabila yang alhasil membuat wajah Nabila memerah menahan malu.
" iihh Mas Adit, ya sudah gak usah aja bantuin aku buka baju, Mas keluar aja sana "
Aditya menangkup wajah Nabila kemudian mencium sekilas bibir istrinya itu, Nabila terdiam mendapat ciuman dari suaminya.
" Mas.. kenapa malah... "
" Cup " Aditya kembali mencium bibir Nabila.
" Mas sud.. "
" Cup " cium Aditya kembali bibir Nabila.
" Kalau kamu ngomel lagi, Mas gak akan berhenti cium kamu "
Mendengar ucapan Aditya, Nabila akhirnya mengalah dan memilih untuk diam. Melihat Nabila yang sudah berhenti mengomel, Aditya melanjutkan tugasnya membuka baju Nabila, menarik baju dress Nabila dari bawah ke atas dengan perlahan, terutama membuka bagian lengan Nabila, yang masih tertancap jarum infus.
Kemudian dengan telaten, Aditya mengikat rambut Nabila, menggulung nya hingga berbentuk cepolan ke atas, karena Nabila tidak ingin membasahi rambutnya.
Aditya menelan ludah melihat tubuh istrinya yang kini sudah setengah tela*njang.
Perlahan Aditya membuka Bra Nabila dan juga ****** ***** Nabila, dan terlihatnya buah dada Nabila yang tampak mengencang dan juga terlihat lebih berisi.
" Ahh sial.. aku benar tidak tahan melihatnya sayang " batin Aditya.
Dengan secepat kilat Aditya membantu Nabila mandi, melumuri tubuh Nabila dengan sabun, kemudian dengan cepat membilasnya dengan air, dalam batinnya Aditya tidak henti mewanti - wanti dan mengingatkan jika ia harus menahan nafsu nya karena kondisi istrinya yang saat ini sedang Hamil.
" Sabar.. sabar dit.. tunggu hingga 4 bulan, ingat istrimu sedang hamil sekarang, sedang mengandung anakmu " batin Aditya.
Aditya berusaha menahan hawa nafsunya untuk tidak menerkam Nabila, sedangkan Nabila tampak biasa saja, merasakan sentuhan dari suaminya itu.
Selesai mandi, Aditya membantu Nabila mengeringkan tubuhnya dengan handuk, kemudian kembali memasangkan baju untuk Nabila, yang sudah di bawakan oleh Haris sebelumnya, yaitu baju daster andalan emak-emak.
" Sudah sayang, sekarang kamu sudah cantik "
" emangnya tadi gak cantik " jawab Nabila.
" aduh.. salah ngomong lagi kayaknya aku " batin Aditya.
Aditya menggendong Nabila kembali ke ranjang rawatnya, kemudian menyuruh Nabila untuk makan.
" Ayo makan sayang, kamu dari tadi siang belum makan kan"
" Aku gak mau Mas "
" Tapi kamu harus makan, kamu gak dengar ucapan dokter Rossa tadi "
" Dengar Mas, tapi aku gak mau makan itu "
" Terus kamu mau makan apa? "
" aku pengen makan ciloknya Bang Jaya Mas "
" ini sudah malam sayang, Bang Jaya kan jualan cuma sampe sore "
" Tapi aku mau makan cilok Mas"
" Ya sudah, tunggu ya Mas telpon Haris dulu untuk beliin kamu cilok di tempat lain "
" Gak mau Mas, Aku maunya buatan Bang Jaya "
" Iya tunggu sebentar "
Aditya merogoh ponselnya di nakas, ia mencoba menghubungi Haris agar membelikan ia cilok Bang Jaya, dan memberi tahu alamat tempat biasa Bang Jaya berjualan.
" Tunggu info dari Haris ya sayang, semoga aja Bang Jaya masih buka "
" Iya Mas " ucap Nabila
" Apa begini ya yang di namakan ngidam, sayang... sayang.. ada-ada aja kemauan kamu " batin Aditya sembari tersenyum menatap istrinya itu.
**Bersambung...
Harus sabar mengahadapi bumil ya Babang Adit.. ☺
__ADS_1
Tetap stay tune ya gaes.. jangan lupa like, vote dan kasih hadiah yang banyak buat akuhh..😘😘