
Aditya, Nabila dan juga Haris kini tengah berada di perjalanan menuju proyek pembangunan apartemen terbaru milik Aditya.
Sesampai di sana, Aditya, Nabila dan juga Haris sudah di tunggu oleh seseorang kepala proyek yang bernama Pak Slamet.
" Selamat datang Pak Aditya " ucap Pak Slamet sembari mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan Aditya.
" Sebelum kita masuk kedalam, saya sarankan untuk memakai ini dulu ya Pak untuk safety kita saat di lapangan nanti " ucap Pak Slamet sembari memberikan sebuah topi berwarna kuning dan juga baju rompi yang berwarna kuning yang biasa di pakai oleh pengurus - pengurus proyek.
Aditya dan lainnya sudah selesai memakai topi dan juga baju rompi, terkecuali Nabila yang kelihatan sulit mengaitkan pengait topi yang seharusnya terpasang di bawah dagu di antara wajahnya.
Aditya yang melihat itu dengan sigap menghampiri Nabila dan memasangkan pengait topi tersebut, Nabila tercengang melihat wajah tampan Aditya yang jaraknya sangat dekat dengan nya, bahkan mereka berdua sama - sama bisa merasakan hembusan nafas masing - masing.
" Sudah.. dasar bodoh.. begitu aja gak bisa " ucap Aditya sembari menepuk ringan topi yang sudah terpasang di kepala Nabila dan alhasil membuat Nabila terbangun dari lamunan nya karena sedang asyik memperhatikan wajah tampan Aditya.
" Huh.. dasar sombong " cibir Nabila pelan.
Haris dan juga Pak Slamet saling bertatapan ketika melihat tingkat bos mereka tadi.
" Mari Pak.. saya antar untuk berkunjung kedalam " ucap Pak Slamet.
Mereka pun mulai melangkah kan kaki menyusuri lorong demi lorong apartemen tersebut yang hampir sekitar 50 persen pembangunan nya sudah rampung.
Aditya bejalan di depan bersama Pak Slamet, sedangkan Haris dan juga Nabila berada di belakang mereka, sesekali Pak Slamet menjelaskan beberapa detail mengenai proyek kepada Aditya dan Nabila juga sesekali mencatat hal - hal penting yang di katakan oleh Pak Slamet dan juga Aditya.
Sekitar 30 menit berkeliling, rasa penat di kaki Nabila mulai terasa, karena ada beberapa lantai yang harus mereka naiki dengan tangga.
" Pak Haris, duluan saja ya, kaki saya agak sedikit keram Pak " ucap Nabila sembari membungkuk memegang kedua lututnya.
" Baik.. tapi jangan lama - lama " ucap Haris.
" Dia kenapa Ris " ucap Aditya yang ternyata sejak tadi memperhatikan Nabila.
" Katanya kakinya sedikit keram Pak, jadi Nabila istirahat sebentar " ucap Haris.
Aditya hanya diam saja, menoleh sejenak ke arah Nabila kemudian kembali memperhatikan Pak Slamet yang sedang berbicara.
Tanpa di sadari oleh Aditya, Haris dan juga Pak Slamet, tiba - tiba ada sebuah kayu papan besar yang tidak sengaja jatuh dari atas tepat di atas kepala Aditya.
Nabila yang melihat itu dari kejauhan reflek berlari ke arah Aditya dan mendorongnya, sehingga kayu itu tepat mengenai tubuh Nabila.
" Pak Aditya... AWAS..." ucap Nabila mendorong tubuh Aditya sehingga Aditya hampir saja jatuh.
Semua karyawan proyek, terutama Aditya sangat terkejut ketika melihat kayu itu jatuh dan tepat mengenai Nabila.
Aditya dengan sigap berlari ke arah Nabila, begitu pun juga dengan Pak Slamet dan Haris. Aditya mencoba menyingkirkan kayu itu dan memeluk Nabila.
" Nabila.. Nabila.. bangun.. ayo bangun.. " ucap Aditya panik.
Aditya langsung mengangkat tubuh Nabila dan membawa nya ke dalam mobil, di ikuti dengan Haris dan Pak Slamet.
" Pak Slamet, kami akan kerumah sakit segera " ucap Haris.
" Baik Pak, maafkan atas kelalaian kami Pak " ucap Pak Slamet.
" Ayo cepat Haris, kita harus segera membawa Nabila ke rumah sakit " teriak Aditya panik.
Haris pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
" Nabila, ayo kamu harus sadar " ucap Aditya sembari mengelus - elus pipi Nabila.
__ADS_1
" Haris, lebih cepat lagi "
" Baik Tuan "ucap Haris.
Mobil yang di kendarai Haris, Aditya dan juga Nabila akhirnya sampai di rumah sakit, Haris segera mengarahkan mobilnya ke depan pintu UGD.
Aditya dengan sigap dan cepat keluar dari mobil menggendong Nabila dan membawa nya kedalam.
Didalam, suster dan dokter yang ada di ruangan UGD itu dengan sigap menyuruh Aditya membaringkan Nabila di ranjang pasien dan memeriksanya.
" Pak, apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita ini " tanya seorang dokter di ruangan itu.
" Kayu papan besar tidak sengaja jatuh dan mengenai tubuhnya dok, tolong segera diperiksa " ucap Aditya.
" Bapak tunggu di sini ya, kami akan memeriksa nya lebih lanjut " ucap salah seorang perawat, kemudian membawa Nabila masuk keruangan intensif.
Aditya terpaksa merelakan Nabila yang dibawa oleh dokter dan perawat masuk dan menunggu di luar ruangan.
Aditya kemudian duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas.
" Tenang ya Tuan, Nabila pasti baik - baik saja " ucap Haris mencoba menenangkan Tuannya.
Aditya tidak menjawab perkataan Haris, Aditya menyandarkan kepala nya di tembok sembari memejamkan kedua matanya.
" Nabila.. semoga kamu baik - baik saja " doa Aditya dalam hati.
Tak lama kemudian, seorang dokter wanita keluar dari ruangan yang membawa Nabila tadi, dengan cepat Aditya berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
" Bagaimana Dok keadaan nya " ucap Aditya.
" Bapak tidak usah khawatir, saat ini pasien hanya pingsan dan syok karena sepertinya pasien tertimpa beban yang cukup berat, tapi sekarang keadaan nya sudah stabil dan mungkin sebentar lagi akan sadar " ucap dokter menjelaskan.
" Boleh.. boleh.. silahkan tapi hanya cukup satu orang saja ya Pak, kalau begitu saya permisi " ucap Dokter kemudian meninggalkan Aditya dan Haris.
" Saya tunggu di luar saja Pak " ucap Haris.
Aditya pun masuk kedalam, ia duduk di samping Nabila yang masih terkapar di atas ranjang dan belum sadarkan diri.
Aditya menatap erat wajah Nabila yang tampak pucat,namun tidak mengurangi sedikit pun aura kecantikan dari seorang Nabila.
Perlahan, Aditya meraih tangan Nabila, mengelus nya dengan lembut.
" Nabila, kenapa kau lakukan ini, seharusnya aku yang tertimpa kayu itu bukan kamu "
" Maafkan Aku Nabila, seharusnya aku tidak membawa mu ke tempat itu" ucap Aditya.
Perlahan Nabila mencoba membuka kedua matanya, Aditya yang merasakan ada pergerakan dari tangan Nabila mencoba melihat ke arah Nabila dan ternyata Nabila sudah sadar.
" Nabila, kamu sudah sadar " ucap Aditya lembut.
" Pak Aditya, saya ada dimana Pak "
" Kamu sekarang ada di rumah sakit Nabila " ucap Aditya.
Nabila mencoba mengingat kejadian yang tadi menimpanya.
" Kenapa kamu berbuat bodoh begini" ucap Aditya.
" Kenapa tidak menghindar setelah mendorongku,kenapa diam saja dan membiarkan kayu itu jatuh menimpamu " ucap Aditya.
__ADS_1
" Bukannya berterima kasih,ni orang malah marah - marah" batin Nabila.
Aditya sebenarnya ingin meminta maaf dan berterima kasih kepada Nabila, karena Nabila telah menyelamatkan nyawa nya.
Hanya saja karena gengsi nya tinggi, Aditya tidak mengatakan itu kepada Nabila malah memarahi Nabila.
Tok.. Tok.. Haris mengetuk pintu.
" Permisi Tuan, ponsel Nabila berdering terus sejak tadi, apa perlu saya angkat " ucap Haris berbicara dari luar.
" Masuk saja Ris, bawa ponsel nya kesini "
" Nabila, alhamdulillah sudah sadar " ucap Haris melihat Nabila yang sudah sadarkan diri.
" Ini Nabila, ponsel kamu berdering terus dari tadi sepertinya ada yang menelpon " ucap Haris sembari memberikan ponsel itu kepada Nabila.
" Terima kasih Pak Haris " ucap Nabila kemudian melihat jika ada panggilan tidak terjawab dari Risa dan juga Bara.
Nabila baru ingat jika ia ada janji hari ini dengan Bara, namun ia mencoba untuk menghubungi Risa terlebih dahulu.
" Hallo Bila... iih kamu kemana aja sih kok gak angkat telpon aku dari tadi "
" aku lagi di rumah sakit Sa "
" Apa..!! rumah sakit, siapa yang sakit Bila.. kamu.. kamu baik - baik aja kan.. " ucap Risa panik.
" Aku tadi pingsan Sa, jadi di bawa ke rumah sakit " ucap Nabila tidak ingin menjelaskan secara detail karena takut Risa semakin khawatir.
" Pingsan.. O.. M... G.. oke kalau gitu kamu tetap di situ ya, aku segera kesana " ucap Risa.
" Iya.. iya.. hati - hati di jalan " ucap Nabila.
" Siapa yang menelpon " tanya Aditya.
" Risa Pak, sahabat saya "
" Oh "
" Aww.. " pekik Nabila merasa sakit di area pundak nya karena berusaha untuk duduk.
" Sakit.. yang mana sakit Bila.. Suster.. suster.. " ucap Aditya Panik kemudian memanggil perawat.
" Sst.. sst.. Pak.. sudah.. sudah.. saya gak pa- pa..gak usah panggil perawat "
" Gak pa- pa gimana.. itu kamu kesakitan, ayo dimana.. bilang yang mana yang sakit " ucap Aditya.
Nabila hanya diam dan tersenyum menatap Aditya yang begitu terlihat khawatir dengan keadannya.
" Kenapa kamu senyum - senyum gitu " ucap Aditya tersadar jika Nabila sejak tadi memandangi nya.
" Gak pa - pa Pak, senang aja kayaknya Bapak khawatir banget sama saya " ucap Nabila sembari tersenyum, entah mengapa Nabila tiba - tiba saja tidak malu mengatakan itu kepada Aditya.
" Aww.. " pelik Nabila ketika Aditya menjentik hidungnya.
" Sudah gak usah mikir yang aneh - aneh, bagaimana pun kamu begini gara - gara saya " ucap Aditya sembari mencoba mengatur detak jantung nya yang berdetak tidak karuan gara - gara tingkah Nabila.
" Sudah istirahat sana, aku mau keluar sebentar menemui Haris " ucap Aditya kemudian keluar meninggalkan Nabila.
***Bersambung..
__ADS_1
Tetap stay tune.. jangan lupa comment, vote dan like nya ya readers setia kuhh.. 😍😍***