Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
100. Aziel & Thifa


__ADS_3

"Deeek ...." Keesokan hari, di saat Yuvi asik berada di dapur, terdengar suara wanita yang terburu-buru masuk ke dalam rumah. Wanita itu  sedang menggandeng anak perempuan dengan kisaran usia dua tahun.


"Yah, mana Yuvi-nya?"


Yuvi yang penasaran dengan kehebohan yang terjadi, mengintip ke arah luar. Saat wanita yang baru sampai itu melihat Yuvi muncul dari arah dapur, wanita itu histeris dan langsung memeluk sang adik.


"Syukur lah. Alhamdulillah kamu selamat. Kami sudah sangat pasrah ketika kecelakaan tersebut membuatmu benar-benar tidak bisa dihubungi."


Yuvi masih memasang wajah penuh kebingungan. Namun, akhirnya ia tersenyum membalas senyuman saudaranya ini. "Aku juga bersyukur, masih diberi umur panjang dan bisa bertemu kalian lagi."


Sementara Aziel melihat gadis kecil yang tampak malu-malu berdiri di belakang wanita itu. Aziel melambaikan tangan dan memainkan alisnya naik turun beberapa kali. Namun, ia mendapat balasan yang berbeda. Gadis kecil itu memasang muka masam dan mencibir. Setelah itu, sang gadis kecil berlari ke arah luar.


"Ma, yang itu namanya siapa?" Aziel menunjuk gadis kecil tadi.


Pelukan pun dilepaskan. Sang kakak melirik ke arah Aziel. "Ah, siapa ini? Kenapa tiba-tiba ada bocah tampan di sini memanggilmu Mama?"


Yuvi belum sempat menjawab, tetapi sang kakak seakan mendapat jawabannya sendiri.


"Jangan-jangan ini anak suamimu? Ternyata, diam-diam dia udah punya anak sebesar ini ternyata?" April melirik Aziel yang mengerutkan wajah kepadanya.


"Apa yang Mbak katakan? Kamu jangan sembarangan percaya aja dengan dunia maya! Semua itu hanya lah kebohongan!" April tiba-tiba saja menjadi sarkas.

__ADS_1


"Mbak, dia anak dari orang yang bisa kita sebut telah menyelamatkan nyawa aku dulu. Dia bukan anak Mas Axel. Aku terpisah cukup lama usai kecelakaan dulu dengan suamiku. Selama itu juga aku tinggal bersama Aziel dan ayahnya."


April tersentak menggigit bibir. Ia melirik Aziel kembali yang telah melipat tangan meliriknya dengan tajam. April yang merasa kikuk mendekati Aziel dan mengulurkan tangannya.


"Jadi, nama kamu Aziel ya? Maaf ya? Aku sudah salah menduga."


Aziel hanya melirik tangan itu. Setelah itu, ia melihat ke arah Yuvi. Sang Mama menganggukan kepala, membuat Aziel menyambut tangan yang masih mengambang di hadapannya. Aziel menciumnya lalu segera pindah ke belakang Yuvi.


"Waah, kehamilanmu sudah besar yah? Tak lama lagi akan launching. Mau lahiran di mana?" April mengusap perut Yuvi beberapa kali.


Aziel melirik kelakuan kakak dari Yuvi ini. "Jangan pegang-pegang adik Aziel. Itu adik Aziel," celetuknya dari arah belakang Yuvi.


Yuvi menggeleng cepat. "Ini anak suamiku, Mbak. Mbak jangan berpikiran yang aneh-aneh seperti itu?"


"Maaf, habisnya ucapan bocah ini sungguh sangat ambigu." Lalu April melirik bocah yang ada di belakang Yuvi.


"Waaah, anak ganteng. Udah kelas berapa?" tanyanya kembali.


"Aziel sudah TK."


"Ooh, baru sekolah? Itu yang tadi kamu tanyakan anak Tante, namanya Thifa."

__ADS_1


Axel yang baru saja mandi dan mengganti pakaian keluar dari arah kamar. Ia segera mendekati kakak iparnya itu. Sebenarnya usianya lebih tua dibanding sang kakak ipar. Akan tetapi, karena statusnya, dengan canggung turut memanggil Mbak.


"Apa kabar, Mbak?" Ia mengulurkan tangan kepada April.


April melihat ke arah Axel yang telah berada di sampingnya. Ia menyambut uluran tangan itu.


"Waah, jadi kalian ramai-ramai pulang ya? Syukur lah ...."


Pada malam harinya mereka semua bercengkrama. Aziel masih lirik-lirikan menatap adik kecil bernama Thifa. Namun, Thifa masih memasang wajah juteknya kepada Aziel.


Saat bersiap pulang, terdengar tangisan Thifa saat berada di luar berdua saja dengan Aziel. Ketika mereka semua melihat, tampak Thifa sedang tengkurap di lantai, dan Aziel sedang berdiri menatap Thifa yang menangis.


...****************...


Yuhuu, Author membawa cerita lain lago ni ... Seru lhooo...


Judul: Gigoloku Suamiku


Author: Farhati Fara


__ADS_1


__ADS_2