
Berita tersebut tersebar luas dengan cepat, hingga dalam hitungan waktu singkat. Karena itu lah mereka semua berkumpul di sini. Axel membawa mereka menuju sebuah hotel.
Aziel dengan wajah kebingungan menatap Yuvi dan Axel secara bergantian. "Katanya kita tinggal di rumah Papa Axel? Kenapa kita tinggal di sini?" ucapnya polos.
"Ini untuk sementara aja kok, nanti kita pikirkan kembali mau ke mana," ucap Axel memijit-mijit pelipisnya.
"Seandainya aja Mama tidak begini, mungkin semua akan baik-baik saja."
Yuvita melihat kepanikan pada sang suami membuatnya tergerak sendiri untuk memeluknya mengusap punggung sang suami.
"Terima kasih ... terima kasih suamiku. Kamu sudah berusaha keras. Aaah, dulu biasanya aku memanggilmu dengan apa?"
Axel sedikit terkejut dipeluk duluan oleh istrinya ini. Akhirnya membalas pelukan dan bibirnya terulas senyuman. Rasa cemas yang tadinya mendera, kini seolah sirna dengan begitu saja.
"Dulu kamu selalu memanggilku dengan Cayank. Atau mulai hari ini bisa memanggilku Ayang, Babe, Honey ... atau bisa memanggilku dengan Yeobo." Axel tersenyum jahil di punggung Yuvi.
"Suamiku ... pokoknya kamu adalah suamiku. Apa pun itu, aku mencintaimu."
Hati Axel meleleh begitu saja. "Aku juga sangat mencintaimu. Jika tidak, aku tak akan mungkin menjemputmu hingga ke ujung dunia asing itu."
"Terima kasih, aku beruntung memilikimu meskipun memori di antara kita di masa lalu terhapus di dalam benakku. Tapi, aku yakin ... aku sangat mencintaimu."
Axel mengusap punggung istrinya itu. Lalu menangkap sosok kecil sedang menutup mata dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Mama sama Papa selalu aja begitu? Aziel kan malu melihatnya." celetuknya.
"Loh? Kemarin nggak begini kamunya?" goda Axel.
"Abis, Aziel juga malu lihatnya."
Axel terkekeh, dan Yuvi melepaskan pelukannya.
"Aziel, nanti kamu tidurnya harus cepet ya?" ucap Axel.
"Kenapa harus cepat-cepat?" tanya bocah itu dengan polos.
Axel hanya melirik istrinya yang terlihat bingung dengan tatapan aneh dari laki-laki itu.
Namun, mereka tidak mengetahui bahwa seorang wartawan kelas kakap sedang berdiri tepat di beranda hotel yang saat ini mereka tempati.
"Ini harga beritanya pasti akan sangat mahal. Gue harus segera mendapatkannya. Jika gue jadi yang pertama menyebarkannya, gue akan kaya raya!"
Saat malam datang, Axel menjepit Aziel di atas ranjang hotel yang sangat empuk itu. Aziel terus meronta merengek mencoba melepaskan diri.
"Gak maaau ... gak maauuu." Aziel menggeliat terus mencoba melepaskan diri dari pelukan Axel.
"Ayo tidur! Udah malam!" Axel terus menahan Aziel supaya tidak turun dari ranjang itu.
__ADS_1
"Aziel belum ngantuk," rengeknya.
"Kenapa sih, Mas? Biarin aja dia main dulu," ucap Yuvi menggelengkan kepala.
"Kalau dia bobok cepet, aku bisa main-main denganmu hingga puas."
"Main apaan sih?"
Raut Axel berubah sendu. "Beneran kamu tidak ingat bagaimana proses terbentuknya anak di dalam rahim kamu itu?"
Bola mata Yuvi bergerak ke kiri dan ke kanan. "Hmm, entah lah."
"Nanti aku akan membantumu untuk mengingat semuanya." Axel memasang senyuman penuh arti.
"Yang penting, bocah ini harus tidur dulu." Axel kembali menjepit Aziel hingga tidak bisa bergerak.
"Aku udah ngantuk." Yuvi pun naik ke atas ranjang.
"Eeeit! Kamu tidak boleh tidur. Makanya aku yang ngelonin Aziel. Kalau kamu yang ngelonin, nanti malah ikutan tidur. Nanti gagal rencana permainan di antara kita berdua." sungut sang pria yang sudah tidak kuat lagi ingin berbuka.
"Tapi Aziel nggak mau bobok sama Papa Axel," ringis Aziel masih memberontak ingin lepas.
Sementara itu, wartawan yang masih menunggu di luar hotel, sedang mengetik berita dengan laptop yang ia bawa.
__ADS_1
Anak laki-laki dokter Arsenio Wijaya, Kepala Rumah Sakit Medika Jaya, sudah berada di Kota B, semenjak tadi subuh.
Saat ini, anak itu dirawat oleh Pengacara seorang dokter yang tertuduh tanpa dasar karena kasus ilegal yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerja di rumah sakit Medika Jaya.