Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
52. Plus Enam Dua


__ADS_3

Setelah memastikan tak ada lagi bayangan Arsen, Mila kembali mengecek ke bawah meja makan. Namun, tak tampak potongan kertas tadi.


"Bagaimana ini? Di mana ya?" Mila merangkak menyusuri bagian bawah meja dengan seksama.


"Mama lagi main kucing-kucingan?" Aziel berjongkok tertawa menyaksikan kegiatan yang dilakukan oleh Mila.


"Eh, bukan ... Mama lagi mencari sesuatu." Mila melanjutkan aktifitasnya melirik kaki-kaki kursi dan meja.


"Emang, Mama cari apa?" Mata Aziel membulat karena penasaran.


"Mama lagi cari potongan kertas, tapi potongannya kecil banget Ziel." Mila tidak menemukan apa pun di bawah sana, akhirnya memilih untuk keluar dengan rasa kecewa.


"Tidak ada lagi. Kertasnya kecil banget, jadi susah mencarinya." Mila bangkit dan bergerak menuju sofa yang ada di dekat sana. Mila menghela napas panjang.


"Mama capek?" Aziel turut duduk di sampingnya menyandarkan diri manja kepada Mila.


"Enggak, hanya saja Mama menjadi kehilangan sesuatu yang mungkin saja sangat berharga." Mila mengusap rambut lurus Aziel yang pendek.


Aziel memegang perut Mila. "Ma, apa benar di dalam sini ada adik?"


Mila tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Iya, di sini ada adik bayi." Mila memainkan jemari menghitung dengan mulutnya. "Sepertinya, lima bulan lagi dia akan hadir di dunia ini."


"Lima bulan lagi itu berapa lama, Ma?"


Mila merangkul Aziel dalam dekapannya. "Hanya beberapa kali hari Minggu lagi kok. Pokoknya nggak lama lagi, nanti Aziel bisa ketemu dengan adik."


"Lalu, papa adik ini siapa, Ma?"

__ADS_1


"Papa adik? Entah lah, Ziel. Mama hanya berharap ia sedang mencari keberadaan kami." Mata Mila menerawang kembali merasakan sebuah rindu yang luar biasa, tetapi entah rindu kepada siapa.


"Nanti kalau udah ketemu dengan Papa adik, Mama tetap bersama Papa dan Aziel kan?"


Mila hanya tersenyum, memeluk Aziel. Dia sudah terlanjur sayang kepada Aziel. Namun, ia harus kembali bersama orang-orang yang memang seharusnya bersamanya.


Pada sebuah rumah sakit, Arsen memaksakan diri untuk tersenyum menerima lansia yang sedang melakukan kontrol rutin di rumah sakit ini.


"Are you new to work here?" (Apakah kamu baru bekerja di sini?)


"Yes, i are." Wajah Arsen menegang saat ia harus dipaksa untuk tersenyum. Ia sudah sangat lama tidak tersenyum lepas. Semenjak menduduki jabatan kepala rumah sakit, ia tak pernah lagi memeriksa pasien biasa.


"Kamu terlihat seperti orang Asia. Kamu berasal dari mana?" Wanita lansia itu memainkan dagu Arsen dengan gemas.


"Kamu itu sangat tampan. Apakah kamu mau berkenalan dengan cucu perempuanku?" Dia masih menggoyangkan dagu Arsen.


Arsen tertawa kaku diperlakukan seperti ini. Ia melepaskan tangan lansia tersebut. "Maaf, Nyonya. Sekarang giliran pemeriksaan yang lain."


Arsen bangkit dan membantu pasiennya untuk segera berdiri. "Saya akan mengantarkan Anda keluar, Nyonya Bianca."


"Saya masih ingin berbicara denganmu ..." protesnya.


"Saya masih memiliki banyak pasien." Setelah berhasil mengantarkan pasien lansianya itu keluar dari pintu, Arsen melangkah cepat kembali ke kursi kerjanya.


"It looks like our patients will enjoy talking to you for a long time." (Sepertinya pasien kita akan betah berbicara berlama-lama dengan Anda.) ucap Ester, perawat yang bertugas menjadi asisten untuknya.


Arsen yang tidak terbiasa seperti ini mengusap kepalanya dengan kesal. Ia tidak menyadari, bahwa beberapa pihak interpol sedang berjaga di parkiran.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan di sana?" tanya seseorang lewat handy talkie (HT) yang dipegang oleh pria berseragam.


"Masih aman dan terkendali. Orang itu sedang melayani masyarakat pada sebuah fasilitas kesehatan. Kita tidak bisa mengganggu kenyamanan masyarakat yang sedang memeriksakan diri di sana."


"Baik lah ... terus pantau, tetapi tetap aman dan terkendali!"


"Yes, Sirr!"


Pada sebuah apartemen Mila sudah melupakan perkara sobekan kertas tersebut. Ia sedang menemani Aziel yang sedang menyusun lego. Aziel mengacak-acak lego tersebut hingga membuat benda-benda itu tercecer ke mana-mana.


"Ayoo, dipilih lagi mainannya!" ucap Mila mengumpulkan lego yang berada di dekatnya.


Aziel berlari kecil memilih lego-lego yang berserakan tersebut. Saat memilih satu lego bewarna merah, ia melihat benda kecil berwarna putih.


"Maaa, ini apa yaaa?" Aziel berlari kecil menyerahkan benda itu kepada Mila.


Mila membulatkan mata dan mulutnya. "Ini yang Mama cari tadi. Akhirnya ketemu juga." Mila bangkit menuju kamar dan menyatukan potongan puzzle itu menjadi utuh.


"Kamu, sangat mirip dengan istriku yang bernama Yuvita. Apa kamu bersedia menghubungiku pada kontak 0 8 x x x x x x x x x x ."


Potongan kertas itu sudah tertempel dan menyatu dengan lengkap. Mila segera menuju telepon rumah yang ada di apartemen ini. Ia menekan kontak yang sesuai dengan nomor yang tertera.


"The number you're calling not found. Please check again the number you're calling!"


Mila kembali mengecek nomor panggilan tersebut. Tetapi panggilan tidak ditemukan. Mila melihat buku telepon yang ada di samping pijakan telepon rumah tadi.


Ia mencari kode untuk Indonesia dan mengerutkan keningnya. "Plus enam dua?"

__ADS_1


Mila mencoba menekan nomor diawali dengan plus enam dua sebagai pengganti angka nol. Namun, kali ini masih dijawab oleh operator.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Mohon tunggu beberapa saat lagi!"


__ADS_2