Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
117. Ibu Jatuh Sakit


__ADS_3

Aroma wangi tercium dengan jelas. Ini menandakan bahwa sang kakak sedang memasak di dapur, tanpa ibu. Sepertinya ibu dan ayah belum pulang.


Ia kembali melirik benda yang ada di tangannya. Ada seseorang yang tak berhenti menatapnya tak bergerak bagai patung.


πŸ“²"Kenapa diem? Siapa Kak Ros? Emangnya ada Upil dan Ipil di rumahmu?"


"Itu, Mbak-ku ... dia bawel kayak Kak Ros-nya Upil dan Ipil. Dia itu SMS banget."


πŸ“²"SMS?"


"Iyah, Senang Melihat Susah. Kenapa lah Ayah Ibu memberikanku kakak seperti dia." Yuvi menghela napas panjang.


πŸ“²"Mungkin dia juga mikir sama. Kenapa lah punya adik kayak kamu?"


Yuvi kembali mengerutkan wajahnya. "Ih, emangnya aku kayak apa, coba? Dia itu ngeselin. Makanya aku lihatin sekalian kamu kayak gimana kan?" Yuvi memanyunkan bibirnya kembali.


πŸ“²"Ooh, tadi itu kakakmu? Yaah, wajar dia begitu, soalnya kamu suka asal nyablak, suka ngambekan, gampang marah, pemalunya udah naik ke kelas 'malu-maluin,' apa lagi ya?"


Yuvi tertegun mendengar penilaian dari pacar jauhnya ini. "Iyah, aku memang gini orangnya? Jadi gimana? Gak suka? Lalu batal nikahnya? Terus, hapenya aku balikin lagi?" Yuvi menjadi semakin merajuk memanyunkan bibir


Orang di seberang sana tertawa dengan terbahak bahkan terpingkal-pingkal.


πŸ“²"Untung aku yang kamu ajak nikah? Kalau ketemunya orang lain, gimana? Kamu bisa aja jadi korban pel3cehan, pencul1kan, dan lain sebagainya."

__ADS_1


Yuvi memasang wajah sedih. "Kata-katamu persis dengan kata Mbak-ku."


πŸ“²"Itu tandanya dia sayang sama kamu. Menurutku wajar keluargamu berlaku seperti itu." Axel kembali menatap gadis yang memasang wajah sendu.


"Aku ini sudah besar! Bukan anak kecil lagi yang terus dipantau setiap geraknya." Yuvi mendelik mengernyitkan wajah.


πŸ“²"Sudah, sudah ... yang penting kamu dan aku sudah bisa saling berkomunikasi kayak gini. Aku akan merasakan hidup bagai nano-nano menanti kamu siap untuk aku jemput."


"Ya, kali? Permen itu mah. Kapan jemput aku? Aku bosan jadi adiknya Mbak."


Sebelum menjawab pertanyaan Yuvi, terdengar suara panggilan membuat Axel menoleh ke belakang. Dia terlihat mengangguk dan tatapan mereka beradu kembali.


πŸ“²"Aku mau balik dulu. Nanti kalau udah santai, aku hubungi lagi."


"Oooh, ingat aku kalau lagi santai aja ya? Ooh ... begitu ...."


Wajah Yuvi seketika terasa panas. Bibirnya yang sedari tadi manyun, kini terukir senyum manis mendengar janji yang diucapkan pria yang ada di dalam layar itu. Sang kekasih melambaikan tangan dan ia mengangguk dengan wajah sumringah.


"Hapeee teroooss! Dah kena gombalan dia, kamu tuuu!" ucap April sambil berlalu sekedar lewat.


Mendengar nyinyiran sang kakak, membuat Yuvi memilih untuk tenang. Dia menghirup udara dalam hingga memenuhi paru-paru,Β  perlahan menghembuskannya kembali.


Seperti kata Mamas, sebenernya dia sayang. Tidak boleh negatif thingking! Ini calon suami sendiri yang ngomong. Ihiiw, calon imamku baik sangaad!

__ADS_1


Yuvi bangkit mengejar sang kakak. April pun menautkan alisnya. "Kamu mau apa?" Dia semakin mundur ketika Yuvi semakin dekat.


Cup


Cup


Yuvi mengecup pipi kiri kanan kakaknya. "Makasih yah?" Lalu dengan berlonjak girang, ia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.


April yang keheranan, mengusap bekas kecupan sang adik. "Ini sungguh mencurigakan!" Tangan itu diendus dan wajah heran sang kakak masih belum menghilang.


*


*


*


Dua bulan kemudian, Feli mendatangi rumah Yuvi. Entah kenapa tiba-tiba merasa rindu dengan sahabatnya ini. Namun, di beranda rumahnya, Yuvi terlihat lelah duduk lesu memandangi ponsel.


"Kamu kenapa, Neng?" tanya Feli heran melihat reaksi sahabatnya ini yang tampak terus memandangi ponselnya.


"Ibuku sakit, Fel. Tadi malam tiba-tiba keluar d4rah lewat hidung, telinga, dan terus muntah keluarkan d4rah," ucapnya sedih.


Feli yang baru mengetahui, langsung berubah rautnya. "Lalu sekarang gimana? Udah dibawa ke rumah sakit?" tanyanya ikut cemas.

__ADS_1


"Pagi ini pend4rahannya udah berhenti. Tapi, kami nggak punya biaya untuk membayar pengobatan Ibu. Jadinya hanya dirawat di rumah aja." Yuvi terus membolak balik ponselnya.


"Apa aku jual aja kali ya, buat berobat Ibu?"


__ADS_2