Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
78. Hukuman


__ADS_3

"Aa mau pindah, Pa. Jadi, semua ini mau Haddy kasih ke Aziel aja. Dari pada nggak kepakai juga kan?"


Indra terlihat keberatan akan kepindahan putra sulungnya, ia pun memegang pundak putra bungsunya ini. "Kenapa Aa-mu itu buru-buru pindah? Baru juga beberapa saat di sini."


"Abis Mama, Pa. Sebenarnya tadi pagi, Haddy mendengar para pekerja diberhentikan oleh Mama."


Kening pria paruh baya itu terlihat berkerut. "Semua? Mama memberhentikan semua?" tanyanya memastikan kembali.


"Iya, Pa. Haddy pikir, Mama mau ganti pekerja. Eeh, ternyata ... Mama marah-marah sama Kakak Ipar. Kata Mama dapur makin kotor, makanan gosong, pakaian tidak kejemur. Terus es krim yang buat stok, mencair semua. Itu dilakukan di depan teman-teman Mama, Pa. Haddy kasihan sama Kak Ipar. Hanya saja, Haddy nggak bisa berbuat apa-apa."


"Hmmfff ... mamamu sungguh terlalu." Indra segera masuk ke dalam suasana ramai tetapi canggung itu. Semua mata memandang Axel menarik koper yang disatukan dengan travel bag.


"Ada apa ini?"


"Kami akan pindah, Pah." Axel menarik terus koper diikuti oleh Yuvi menggandeng tangan Aziel.


"Siapa yang mengizinkan kalian meninggalkan rumah ini?" Suara berat sang kepala keluarga membuat suasana rumah itu menjadi semakin canggung.


"Kalau begitu, kami pulang dulu yah? Lain kali kami main lagi ke sini." ucap salah satunya dibalas dengan anggukan ketakutan oleh yang lain.

__ADS_1


Mereka berjalan tergesa keluar dari rumah menaiki kendaraan masing-masing, melambaikan tangan kepada Haddy, yang masih menyusun barang-barang ke dalam mobil kakaknya.


"Ehm ...." Indra menatap istrinya. Sang istri telah menciut sedikit takut karena tatapan suami serasa akan membuat napasnya terhenti karena ketegangan yang sudah mencapai ubun-ubun.


"Ma, ke mana semua pekerja di rumah ini?"


Sang istri sedikit meringis tidak berani menegakkan kepalanya.


"Ayo jawab! Di mana mereka?"


"Me-mereka libur, Pa. Mama kasih cuti."


Axel menarik Aziel berjalan keluar dan diikuti juga oleh Yuvita.


"Papa gak usah khawatir, kami akan rajin main ke sini kok."


"Tunggu!" ucapnya lagi mengeluarkan dompet. Indra berjalan menyerahkan sebuah kartu bewarna hitam.


"Rumah barumu masih kosong pastinya. Pakai lah ini untuk mengisi perabot di sana. Jangan sampai keluargamu tidur di lantai. Apalagi istrimu sedang hamil."

__ADS_1


Axel melirik kartu sang jawara dalam dunia bisnis ini. "Tidak usah, Pa. Aku juga punya kok." Ia mengeluarkan kartu, tetapi bewarna gold.


"Ambil lah! Ini adalah hadiah pernikahan kalian dari Papa. Kapan lagi Papa memiliki kesempatan untuk memberikanmu sesuatu.


"Nah, ini kesempatan Papa untuk memberimu sesuatu dari hal yang tak pernah Papa berikan semenjak kamu bekerja. Harusnya kemarin kamu katakan kepada Papa. Biar Papa saja yang membelikan kalian rumah."


Axel melirik istrinya. Ia juga mengingat keuangan yang memang langsung menipis karena membayar rumah dengan tabungan yang telah disiapkan. Meskipun saat ini dananya sudah terkuras, ia tetap merasa tidak enak.


"Tidak usah, Pa. Nanti disesuaikan dengan dana yang ada aja," tolaknya.


"Ambil!" titah sang ayah dengan tegas.


Axel melirik istrinya yang menyaksikan ini semua. Akhirnya terpaksa menerima benda itu, meski ada rasa malu saat mengambilnya.


"Papa tahu kamu bisa menggunakannya dengan baik. Nanti, kalau Papa nggak kerja, Papa akan rajin main ke sana. Kamu juga harus rajin main ke sini bawa keluargamu." Indra menepuk pundak anaknya itu.


"Baik lah, Pa. Papa tidak perlu khawatir akan hal itu." Axel menatap ibunya yang masih tertunduk. "Ma, kami pergi dulu."


Setelah itu, Axel kembali menarik benda-benda mereka pindah.

__ADS_1


Indra mendekat pada istrinya. "Kamu sengaja memecat mereka ya? Baik lah, Papa tidak akan mencari asisten lagi. Kamu boleh mengerjakan semuanya sendirian." Indra menarik dasi dan menuju ke kamarnya.


"Apa, Pah? Mama mengerjakan semuanya sendirian? Rumah seluas ini?"


__ADS_2