Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
33. Laporan yang gagal


__ADS_3

"Tapi, Anda bisa lihat sendiri! Saya sudah mendapatkan semua bukti ini!" Axel terus memperkuat pernyataan dan tuntutannya.


"Tidak hanya itu, Anda juga akan dikenakan sanksi lain karena dianggap telah memata-matai tempat itu!" Brigpol Luki terus memberikan peringatan kepada Axel.


"Saya tidak memata-matai dengan sengaja! Saya hanya berencana mencari seorang anak bernama Doni, karena dia diculik oleh orang-orang jahat. Dan saya tak menyangka, ini semua mengantarkan saya ke rumah sakit tersebut." Axel membela diri karena Brigpol Luki malah menyalahkannya.


"Tapi Anda tidak memiliki izin untuk menyelidiki tempat itu. Kecuali jika pihak kejaksaan memang mengutus Anda turun lapangan secara langsung, maka kami tidak bisa mencegahnya. Namun, saat ini Anda telah bekerja tanpa perintah dan izin dari pihak kepolisian. Maka, Anda telah melakukan penyelidikan secara ilegal, alias memata-matai instansi tertentu!"


Axel menghembuskan napas kesalnya. Ia tak menyangka, apa yang diharapkannya, tidak berjalan mulus sesuai rencana. "Baik lah, saya akan melaporkan kembali kepada atasan, untuk segera menurunkan perintah tugas."


Dengan sedikit amarah, Axel mendorong tubuhnya yang duduk di atas sebuah kursi, lalu ia bangkit. Axel menarik tas kerjanya dan pergi sembari menghubungi atasannya.


Sementara itu, Brigpol Luki terlihat hening. Ia pun segera mengeluarkan ponsel, mencari nama pada sebuah kontak. Ia terpaku saat menemukan 'Arsenio-Rumah Sakit Medika Jaya,' lalu menekan tanda panggilan.

__ADS_1


...****************...


Setelah mengantarkan Aziel dan Mila pulang, Arsen kembali ke rumah sakit. Ia tengah memeriksa kondisi kesehatan Danisha yang dirawat di ruang ICU. Layar monitor EKG menggambarkan jelas bahwa denyutan jantung  Danisha, terus saja semakin lemah.


"Hhff ... hhff ... hhff...." terdengar tarikan napas Danisha yang sangat cepat. Di samping brangkar, ibunya bergetar menahan tangis tak kuasa melihat kondisi putri semata wayangnya seperti ini.


"Bagaimana, Dok? Kapan operasi transplatasi jantung untuk Danisha dimulai?" tanya ayah Danisha.


"Bapak tenang dulu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meminta kepada jaringan di seluruh rumah sakit yang ada di provinsi ini."


Tuan Setto, sang CEO bidang properti di kota ini terlihat memasang wajah gusar. "Sepertinya, kami telah salah memilih tempat ini sebagai pengobatan bagi Danisha. Kami pikir karena prestise yang selalu gembar-gembor orang bicarakan, membuat rumah sakit ini memiliki pelayanan yang paling prima."


Arsen tertegun mendengar sindirian yang baru saja dilontarkan oleh Tuan Setto. "Bukan begitu, kami ini sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencarikan jantung yang cocok bagi putri, Anda."

__ADS_1


Tuan Setto mengabaikan penjelasan yang diberikan oleh Arsen. Ia membuka pintu kamar perawatan sang putri. Di luarnya, tiba-tiba saja muncul sebuah brangkar yang dibawa oleh beberapa pria yang menggunakan jas.


Tuan Setto menatap Arsen dalam tatapan dingin. Hal ini membuat suasana dalam ruangan sejuk itu menjadi semakin dingin. "Lepaskan peralatan yang Anda pasangkan pada tubuh putri saya! Saya akan memindahkannya ke Singapura!"


"Tapi, Pak? Sebentar lagi jantung itu akan segera sampai. Perjalanan anggota kami tidak lah mudah untuk menemukan jantung yang cocok bagi putri Anda." Arsen mencoba menahan sang tambang uang yang memilih untuk pergi mencari tempat lain.


"Sampai kapan Anda membuat kami menunggu? Sampai anak kami benar-benar pergi, tidak terselamatkan karena kelalaian kalian?" Tuan Setto melepas sendiri alat-alat yang melekat pada tubuh Danisha.


Terkecuali infus dan kateter yang terikat pada sisi bawah brangkar yang hampir penuh. "Berapa semua ini?"


Danisha pun diangkat secara bergotong royong oleh para pengawal Tuan Setto pindah ke brangkar yang telah mereka bawa.


"Anda tidak bisa begini, Pak?" Arsen masih berusaha untuk mencegah kepergian pasien istimewanya ini.

__ADS_1


__ADS_2