
Axel masuk ke dalam rumah, disambut oleh para kaum ibu-ibu bergaya necis. Melihat kehadirannya, semua yang berada di sana menyambut kehadirannya tanpa kecuali.
"Waaah, ini dia ... Pak Pengacara tampan kesayangan kita. Kami sudah menunggumu semenjak tadi lho?" ucap salah satu dari mereka.
"Iya nih, tumben kamu pulang terlambat dari biasa? Ayo sini, perkenalkan dulu temen-temen Mama!"
Namun, kepalanya liar mencari sosok yang seharusnya turut bergabung dengan mereka. "Istriku di mana? Kenapa tidak diajak bergabung?"
Tak beberapa lama, istrinya muncul membawa makanan ringan yang tersaji di atas nampan. Axel mengerutkan keningnya mendekati sang istri yang masih terlihat lesu.
"Kenapa kamu malah begini? Mana asisten yang lain?" tanyanya.
"Nggak apa, sesekali nolongin juga gak masalah kan." Yuvi membawa piring-piring kecil yang berisi potongan-potong bolu dan brownis ke hadapan para kaum sosialita yang ada di sana.
"Waaah, ini asistenmu yang pernah kerja di sini kan? Kenapa kamu pakai kembali? Lihat! Kerjanya lelet banget, Na?" ucap salah satu dari teman ibu mertuanya.
Yuvi tertunduk menahan hati mendengar ucapan teman mertuanya itu, meski pun saat ini matanya mulai berkaca-kaca.
Axel yang kesal mendengar ucapan seseorang itu, menarik tangan istrinya dan menggenggamnya. "Asal kalian semua tahu ya, dia ini wanita yang katakan pembantu ini, adalah orang yang sedang mengandung anakku."
Axel memamerkan jemari mereka berdua yang telah melekat cincin yang mirip. "Dia ini istriku, bukan pembantu seperti yang kalian pikir!"
__ADS_1
"Lho? Bukannya kamu bilang istri anakmu kabur dengan pria lain?"
Axel melirik sang ibu kesal. Nana terlihat salah tingkah karena ketahuan oleh sang anak. Axel beralih pada teman mamanya itu.
"Ini Yuvita istriku. Seperti yang kalian lihat, dia berada di sini. Beberapa waktu lalu ia memang menghilang, tetapi bukan karena kabur bersama pria lain." Axel melirik ibunya kembali.
Teman ibunya terdiam melirik anggota sosialita yang lain yang juga terlihat canggung.
Setelah semua tak bergeming, Axel menarik nampan yang dipegang oleh Yuvi dan menaruhnya asal di atas meja. "Kenapa kamu malah mengerjakan semua pekerjaan itu? Kamu harus ingat! Di sini itu kamu bukan lah babu. Kamu itu menantu mamaku!" Ia menarik istrinya masuk ke dalam kamar.
Axel menurunkan beberapa koper dan travel bag yang terletak di pucuk lemari di dalam kamar mereka.
"Bajumu memang nggak banyak kan? Bagus lah, jadi kita tidak perlu membawa banyak dari rumah ini. Kita beli yang baru saja." Axel membuka koper dan travel bag yang ia turun kan tadi.
"Kamu mau pergi ke mana?" Yuvi berjalan mendekati memeluk Axel dari belakang. Bola matanya bergantian menatap isi tas yang mulai diisi oleh pakaian dan benda-benda lainnya.
Axel melirik istrinya yang terlihat kebingungan. "Kita pergi dari rumah ini sekarang juga! Tidak boleh ditunda lagi."
Yuvi melepaskan pelukan dan terlihat sedikit bersemangat. Ia membantu memindahkan isi lemari ke dalam tas.
Kepala Acel sedikit liar mencari sesuatu yang biasanya menempel dengan istrinya di mana pun berada. "Ke mana dia?"
__ADS_1
"Oh, Aziel dia di atas bareng Haddy. Untung saja Haddy gak marah gara-gara mainannya rusak telah dirusak olehnya. Sekarang mereka lagi asik di atas sana."
Axel menghela napas, beruntung di antara mereka tidak satu pun yang meniru sifat sang ibu. Mungkin berbeda lagi jika ia memiliki saudara perempuan.
"Pakaianmu dengan Aziel, akan kita beli yang baru aja. Nah, sekarang kamu lepas celemek itu! Aku akan memanggil Aziel."
Saat Axel sampai di atas, terdengar Aziel asik bermain dengan Haddy sambil tertawa. Haddy memang ingin memiliki adik semenjak dulunya. Hanya saja, sang ibu menolak dengan alasan faktor umur yang telah menua.
"Ah, Papa udah pulang." Aziel berlari mengejar Axel memamerkan kepala karakter superman tadi sudah terpasang kembali dengan baik.
"Haddy, makasi ya? Udah mau bermain dengan Aziel. Dia mau kubawa pergi. Kalau kamu merindukan kami, kamu boleh ke rumah kami yang baru." Axel menggandeng tangan Aziel.
"Kita mau pergi lagi ya, Pa? Apakah mau ke tempat Papa Arsen lagi?" tanya Aziel.
"Aduh, adikku mau dibawa ke mana? Aku kan baru memiliki adik nih. Masa iya udah dipisahin lagi. Aku dah siap mewariskan semua mainaku kepadanya tau nggak?" Haddy memamerkan semua benda yang sudah masuk ke dalam box yang sangat besar.
"Kalau begitu, kamu angkat masuk ke dalam mobilku. Mau diangkut aja ke rumah baru."
Aziel memasang wajah kecewa. Ia baru saja menikmati suasana rumah ini, meskipun ada Nenek Sihir. Walau begitu, semua yang ada di rumah ini terlihat sayang padanya.
"Nanti, kamu sering-sering aja main ke sana ya? Nggak jauh kok dari sini." Axel mulai menarik Aziel untuk mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Seperti permintaan sang kakak, Haddy segera mengangkat box berisi mainan tersebut dibawa turun menuju mobil saudaranya. Di sana, Haddy bertemu dengan sang ayah yang baru saja pulang.
"Kenapa mainanmu dibawa keluar semua?" tanya Indra, kepala keluarga di rumah ini.