Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
15. Dua Mama


__ADS_3

Mila bergetar mendapat bentakan itu memegangi dadanya. "Ma-maaf." Ia kembali menundukkan kepala memainkan jemari menahan rasa gentar dan takutnya pada pria ini.


Kruuucuuuk


Terdengar suara aneh yang berasal dari perut Mila. Mila menggenggam perutnya menggelengkan kepala. Sejenak ia mengangkat wajah melirik pria yang tepat berdiri di hadapannya. Pria itu memasang wajah dingin dan memutar tubuh.


"Sepertinya kau pulang saja!" Lalu pria itu melangkahkan kaki menjauh dari Mila menggaruk kepala bagian belakang.


Mila menatap punggung sang majikan arogan itu, dan menggelengkan kepala. "Aku tidak boleh pulang sebelum Aziel ditemukan."


Krucuuuuuk


Gemuruh yang keluar dari lambungnya kembali bernyanyi dengan suara yang lebih tinggi. Mila mengusap perutnya. "Kamu sabar ya? Nanti, kita berdua akan makan dengan porsi besar, setelah Kak Aziel ditemukan."


*


*


*

__ADS_1


Sebuah kendaraan melintasi aspal yang mulai dingin karena suhu malam yang semakin sejuk. Di dalam kendaraan itu, tampak seorang pria dewasa yang tengah menyetir, di sampingnya terlihat anak kecil yang terus menunduk memainkan roti yang ada di tangannya.


"Makan lah! Setidaknya perutmu bisa terisi karena kamu tidak makan satu apa pun semenjak tadi. Nanti orang tuamu bisa mengira aku ini orang jahat, yang membiarkan anak kecil tidak makan satu apa pun."


Namun, lelaki kecil itu masih menunduk menatap roti yang masih berada dalam bungkusnya.


"Maaf ya? Karena Om kamu jadi terpisah dengan mamamu."


Aziel mengangkat wajahnya melirik pada orang yang membawanya kembali menuju rumah sakit. Aziel mengatakan bahwa papanya bekerja di rumah sakit tadi. Mamanya pasti sedih mencarinya.


Hal ini lah yang membuat Axel memutuskan untuk segera mengantarkan Aziel, yang sedari tadi tidak  bergeming dan tidak memakan satu apa pun yang diberikan kepadanya.


Axel tersenyum tipis mengusap kepala bocah yang terikat di balik sabuk yang duduk di sampingnya. "Lalu bagaimana dengan mamamu? Kamu pasti sangat menyayangi mamamu kan?"


Raut wajah Aziel yang tadinya redup, sedikit berubah bercahaya. Matanya berkaca-kaca mengingat wajah Mila, tak lama kemudian ia menganggukkan kepala.


"Aziel sayang sama Mama Mila. Mama Mila selalu baik kepada Aziel, Om."


Akel kembali tersenyum. "Sepertinya orang yang memiliki wajah seperti mamamu itu selalu menjadi orang yang baik dalam hidupnya."

__ADS_1


"Iya, Mama Mila memang baik sekali. Aziel sayang sama Mama Mila. Tapi, Aziel tidak sayang sama Papa. Papa suka jahatin Aziel. Papa selalu aja marah-marah tiap hari. Mama Mila juga selalu saja dimarahi. Aziel kasihan sama Mama Mila."


Wajah Axel seketika menjadi kaku membayangkan tindakan pria arogan itu kepada wanita yang sangat mirip dengan istrinya itu. Namun, ia baru menyadari ada hal yang aneh dengan anak ini yang selalu memanggil wanita itu dengan Mama Mila.


"Kenapa kamu selalu memanggil mamamu disertai dengan namanya?"


Aziel kembali melirik Axel lalu menyengir melihat menggaruk kepalanya. "Aziel kan punya dua Mama, Om."


Sreeeet ... ciiiitt ....


Spontan Axel menginjak rem kendaraan itu dengan dalam membuat kendaraan tersebut berhenti dengan mendadak. Tangan Axel menahan tubuh Aziel agar tidak terhentak kuat meski Aziel telah terikat dalam sabuk pengaman.


Setelah itu ia merenung sejenak mencoba memahami setiap kata demi kata yang keluar dari mulut Aziel, ia akhirnya bersuara.


"Kamu memiliki dua Mama? Apa papamu memiliki dua istri?"


Aziel menggelengkan kepala. "Bukan Om, Papa hanya menikah sama mama Aziel. Tapi mama Aziel udah berada di surga semenjak Aziel lahir. Sekarang, Aziel udah sudah punya mama Mila. Mama Mila sakit, Om. Papa bantu rawat. Tapi, akhirnya Mama Mila hadi mamaku."


Axel mengerutkan keningnya semakin merasa heran dengan ucapan Aziel. "Jadi intinya mama Mila ini bukan mamamu kan?"

__ADS_1


__ADS_2