Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
84. Mencari Aziel


__ADS_3

"Kita keliling kompleks dulu. Siapa tau mereka main bareng keliling-keliling sini." ajak Hani.


Yuvi dan tiga ibu muda lain setuju. Mereka segera mencari anak-anak yang menghilang bersamaan.


Berpencar mencari ke setiap blok yang ada di perumahan itu. Akan tetapi, tak satu pun bayangan empat bocah yang mereka lihat ada di sekitar sana.


"Aziel, kalian di mana?" ringis Yuvi putus asa.


"Apa ada yang melihat mereka?" tanya Kiky yang tampak mulai frustrasi.


Namun, hanya gelengan kepala yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.


Mereka pun pulang dan menghubungi suami masing-masing. Namun, Yuvi tidak berhasil menghubungi Axel.


*


*

__ADS_1


Axel sedang berada dalam persidangan, semenjak usai istirahat siang tadi. Ponselnya sengaja menggunakan mode pesawat, hingga ia bisa fokus pada kasus yang ia tangani saat ini.


Di tempat lain, beberapa pasangan anggota ngerumpi telah datang. Ada yang marah-marah kepada istrinya, batin sang istri yang tadinya sudah kacau kehilangan buah hati, tampak semakin pilu.


Di sisi lain, sang tuan rumah bernama Hani, tampak diusap oleh suaminya. Beruntung, suaminya tidak searogan yang lain. Hani menyadari Yuvi sedang duduk merenung sendirian, ia pun berjalan mendekati Yuvi yang tampak sedih dan gelisah sendiri.


"Mana suaminya, Mba Yuvi?" tanyanya.


"Entah, Mbak. Aku sudah mencoba menghubunginya, tetapi tak ada jawaban."


"Suami macam apaan itu? Istri menelepon, tetapi tidak dijawab?" Ucapan tersebut, keluar dari mulut suami Kiky, yang tadinya marah-marah membuat hati sang istri menjadi semakin nelangsa.


Ucapan itu, keluar begitu saja dengan lancar dari mulut Yuvi. Semua orang memandang ke arah Yuvi dan suami Kiky tadi secara bergantian.


"Terserah kau lah!" Ia kembali pada posisi sang istri yang sudah tidak sanggup menegakan kepala.


Polisi telah datang, terkait atas laporan kasus anak-anak hilang secara bersamaan tadi. Polisi pun mulai mendata warga yang menggunakan CCTV di perumahan tersebut.

__ADS_1


Di lokasi lain, sebuah komplotan berpakaian serba hitam tengah mengelilingi ahli IT mereka yang disebut dengan hacker.


"Bagaimana? Apakah sudah kau temukan keberadaan anakku?"


"Belum, Boss ... masih usaha."


Beberapa waktu kemudian, sang hacker melakukan scan wajah Aziel secara menyeluruh. Peta yang mencakup kota secara keseluruhan, secara otomatis mulai terfokus pada satu titik.


Titik itu datang dari penarikan data lewat CCTV pada sebuah perumahan. Ia menemukan rekaman CCTV yang menangkap wajah dengan rasio kemiripan 99 persen dengan foto yang tadinya digunakan sebagai titik fokus. Bocah yang mirip dengan foto itu tengah bermain dengan beberapa bocah yang lain.


"Bukan kah ini Tuan Muda Aziel, Boss?" tanya sang Hacker.


"Perbesar!" titah pria yang dipanggil Boss tersebut.


Pria yang berada di depan layar itu kelakukan beberapa kali pembesaran gambar. Tampak semakin jelas, wajah Aziel yang terlihat ceria bermain dengan teman-teman sebayanya.


"Jadi, mereka membiarkan anakku bermain dengan bocah-bocah gembel itu?" Arsen mengusap dagu memperhatikan wajah ceria anaknya.

__ADS_1


'Dia terlihat sangat bahagia.'


Namun, dari rekaman CCTV itu terlihat seorang pemuda mendatangi pasukan anak kecil itu. Hal ini sontak membuat Arsen mendekat pada layar memperhatikan tindak tanduk pria yang tidak dikenal mendekati anak-anak tersebut. Pria itu terlihat melirik ke kiri dan ke kanan.


__ADS_2