Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
61. Perjuangan Mendapatkan Aziel


__ADS_3

"Kamu?"


Tangan Arsen bergetar, hatinya bergemuruh. Testpack yang ada di tangannya saat ini terhempas ke atas meja. Dengan cepat, Arsen menarik tangan Jovita membuat istrinya itu kelimpungan mengikuti langkah sang suami.


"Mau ke mana?" tanya Jovita menjadi panik.


"Kita gugurkan! Untuk alasan kesehatan, pihak rumah sakit akan mengizinkan secara legal."


Jovita memberontak menarik tangannya. Ia menggelengkan kepala berjalan mundur. "Tidak! Aku ingin memilikinya!"


"Tapi kamu itu tidak boleh hamil!" Arsen berjalan mendekati istrinya kembali.


"Tapi aku ingin memberikanmu hadiah yang paling berharga. Aku ingin seperti istri lainnya. Aku ingin mencoba bagaimana rasanya hamil, melahirkan, dan memberikan ASI kepada bayiku."


Arsen menyugar rambutnya dengan kedua tangan. "Sayang, ayo lah! Kamu sudah tahu alasannya. Ini semua tidak mungkin. Kamu tidak boleh hamil!"


Jovita menangkupkan kedua tangannya. "Mas ... aku mohon. Aku ingin melahirkannya untukmu."


Arsen mengernyitkan wajah menangkupkan kedua tangan menggelengkan kepalanya lagi. "Apa kamu bosan hidup denganku?"


"Bukan! Aku tidak pernah bosan padamu. Aku sangat mencintaimu. Aku bangga memilikimu. Dan aku ingin, anak kita juga bangga memiliki Papa hebat seperti kamu!"


Arsen masih menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku mohon! Sebelum kehamilanmu semakin besar, kita tuntaskan saja!" Arsen menggapai Jovita menyuruh untuk mendekat.


Air mata istrinya terus terjatuh. "Mas, aku mohon ... aku ingin memilikinya," isaknya dalam tangisan.


"Tidak mungkin! Tidak bisa. Aku juga memohon padamu. Kita adopsi saja anak-anak dari panti asuhan. Kamu mau berapa? Satu, lima, atau kesebelasan sekalian pun akan aku turuti."


Jovita menangkupkan wajahnya terduduk di atas lantai rumahnya itu. "Aku mohon, Mas. Sekali ini saja? Aku tidak akan meminta apa-apa lagi kepadamu."


Arsen melangkahkan kaki secara perlahan. Ia pun terduduk mendekap Jovita dalam pelukannya. Akhirnya, hati Arsen luluh. Ia tidak tega melihat wanita yang dicintai memohon seperti ini.


"Baik lah ... baik lah ... aku akan berusaha untukmu. Kalian berdua akan hidup. Hidup bersama denganku."


*


*


*


Akhirnya, mereka sepakat untuk kehadiran bayi yang ada di dalam rahim Jovita. Awalnya semuanya baik-baik saja. Hingga pada akhirnya Arsen mulai menyayangi bayi yang ada di dalam rahim istrinya dan mulai berharap banyak agar keduanya hidup dalam waktu yang panjang bersamanya.


"Dih, dulu aja katanya gak mau memiliki anak? Sekarang tiap mau pergi kerja dan pulang kerja, yang disapa cuma  dia?" Jovita memasang wajah cemberut dan dibalas dengan kecupan pada bibir oleh Arsen.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, Sayang. Kamu jangan terlalu capek ya?" Arsen melambaikan tangan. Wajahnya terlihat bahagia, bersyukur apa yang ditakutkannya tidak terjadi.


Hingga usia kehamilan memasuki bulan keenamj, Jovita dan bayi yang diketahui berjenis kel4min laki-laki dalam keadaan baik-baik saja. Semua berjalan indah dalam kebahagiaan.


"Mas, kamu sudah memikirkan nama untuk bayi kita ini kan? Karena dia seorang laki-laki, dia pasti akan setampan papanya."


Arsen mencium perut sang istri. "Tentu saja, aku sudah menyiapkan satu nama yang indah untuknya."


"Siapa itu? Aku ingin segera memanggil dengan nama yang kamu beri secepatnya," ucap Jovita antusias.


"Aziel Arsenio Jaya ... artinya hadiah terindah yang diberikan oleh Tuhan."


Jovita tersenyum. "Aziel ... ah ... indah sekali." Jovita membelai perutnya. "Papa memberi namamu Aziel, Sayang. Selamat malam Aziel ... sehat-sehat di dalam ya, Nak?"


Lalu, Jovita tersentak sendiri merasakan kejutan hebat mendapat tendangan yang cukup kuat. "Dia baru saja menendangku, Mas. Ah ... sepertinya dia menyukai nama itu." Jovita beringsut turun dari ranjang.


"Mau ke mana?" tanya Arsen yang gagal mencium janin yang ada di dalam perutnya.


"Tendangannya membuatku kebelet pipis."


Arsen menggelengkan kepala melihat istrinya tergesa menuju kamar mandi.


*


*


*


Semakin hari, kondisi kesehatan Jovita menurun dan bahkan pingsan saat ia sedang berdiri. Beruntung saat itu Arsen berada bersamanya hingga ia langsung menangkap sang istri agar tidak jatuh ke lantai.


Kondisi Jovita pun terus menurun. Arsen menggenggam tangan Jovita yang terus terlelap di dalam ruang ICU.


"Bagaimana Dokter Arsen? Apa kita lakukan tindakan caesar secepatnya saja?" tanya Dokter spesialis kandungan yang menangani kasus kehamilan Jovita, istrinya.


"Ja-jangan! Jangan! Aku akan bertahan sekuat tenaga demi dia." tolak Jovita.


"Tapi, Sayang? Kita harus cepat melakukan tindakan dengan segera. Siapa tahu, kalian berdua bisa hidup bersama denganku hingga kita menua melihat anak kita menikah dan melihat cucu-cucu kita." Arsen menggenggam tangan Jovita dengan wajah memohon.


Jovita menggelengkan kepalanya kembali. Ia membelai perutnya dengan senyuman. "Kamu jangan khawatirkan kami. Aku yakin, dia yang ada di dalam sana dalam keadaan sehat. Aku pun akan berusaha untuk sehat."


"Kita harus cepat mengambil tindakan. Agar kalian berdua selamat. Ayo lah! Sekarang giliranmu yang menuruti permintaanku?" pinta Arsen.


Jovita tersenyum, tetapi Arsen jelas mendengar ringisan dari bibir istrinya itu. "Aku akan bertahan hingga ia berusia 38 minggu."

__ADS_1


"Sekarang pun kita sudah bisa, Sayang. Nanti kita bantu tempatkan dia di NICU."


Jovita kembali menggelengkan kepala membuat suaminya ini tidak bisa berbuat apa-apa.


Biaya perawatan ICU sungguh sangat mahal. Membuat Arsen pontang panting mencari pinjaman ke sana ke mari. Bahkan, pihak rumah sakit pun tidak mau memberikan bantuan kepadanya meskipun rumah sakit Medika Jaya ini adalah milik ayahnya sendiri.


"Bagaimana Arsen? Sampai kapan kamu terus menempatkan dia di sana? Hutang perawatan di ICU sudah menumpuk!" ucap Dokter Subagio Jaya, ayahnya sendiri.


"Aku mohon, Pa. Tunggu lah hingga Jovita benar-benar sehat. Aku berjanji akan mengganti semuanya setelah mereka berdua sehat dan hidup bersamaku."


Namun, sang ayah tak bergeming. Bukan karena tidak mau menolong sang anak, tetapi perawatan di ICU benar-benar menguras biaya besar.


Arsen mulai panik mondar mandir ke sana kemari. Saat berada di lorong rumah sakit, ia mendengar seorang yang terkenal dan terpandang memohon kepada salah satu dokter di sana.


Arsen mendengar percakapan bahwa orang itu bersedia memberikan berapa pun bila berhasil mendapatkan pendonor jantung bagi istrinya.


Arsen menunggu dan menawarkan diri kepada pria terpandang tersebut. "Jika saya berhasil mendapatkan jantung untuk istri Anda, berapa Anda berani membayar saya?"


"Saya akan memberikan lima miliar malam ini juga usai operasi transplatasi itu. Jadi, saya mohon agar mendapatkan jantung itu malam ini juga."


"Baik lah, nanti akan saya hubungi kembali."


Arsen menghubungi kawan lamanya bernama Kano, memulai melakukan kegiatan ilegal tersebut demi membayar hutang dan menunjang kehidupan istrinya.


Awalnya karena terpaksa, tetapi lama kelamaan akhirnya ia menjadi keharusan. Hingga praktik yang ia lakukan akhirnya diketahui oleh sang ayah.


Hati nurani Arsen yang sudah mati pun tega memerintahkan anak buahnya untuk mencelakai sang ayah. Hingga kekuasaan rumah sakit itu jatuh ke tangannya.


Pada waktunya, usia kehamilan Jovita sudah masuk pada usia 38 minggu, sang istri telah bersedia melakukan persalinan. Sang bayi berhasil selamat dalam operasi caesar tersebut, tetapi sang istri mengalami pendarahan hebat. Hal ini disebabkan karena seluruh jaringan pada tubuhnya begitu rapuh.


"Sa-Sayang ... Ka-kamu harus jadi anak kuat dan hebat. Kamu harus patuh kepada papamu. Karena Mama tahu perjuangannya sungguh sangat berat agar bisa melihatmu hadir di dunia ini." Jovita tertatih berbisik melihat bayi merah yang digendong oleh bidan yang mendampingi persalinan ini.


"Sayang, kamu bilang apa? Kita akan membesarkan Aziel ini berdua. Kamu akan pulih. Bertahanlah untuk kami berdua." Arsen menggenggam tangan Jovita tiada henti meneteskan air mata.


"Berjanji lah, Mas! Kamu harus menjaganya. Jangan biarkan satu apa pun menyakitinya."


Arsen membenamkan wajahnya dalam dada Jovita tak melepaskan genggamannya sedikit pun. Perlahan, garis pada grafik EKG menunjukan penurunan signifikan dan akhirnya datar mengeluarkan suara yang sangat nyaring. Tubuh Arsen bergetar hebat tak bisa menyimpan lagi rasa sakit dan sedih itu.


"SAYAAANG ... SAYAAANG ... JOVITA ... BANGUN!!!"


Mengingat semua kejadian itu, membuat Arsen meneteskan air mata di dalam gelapnya suasana jeruji besi, meski tidak ada yang mengetahuinya.


"Sayang, aku tahu ... hanya kematian lah yang menjadi hukuman yang pantas untukku. Aku harus membuat anak kita untuk membenciku. Agar dia bisa dengan mudah melupakanku sebagai ayah yang buruk di dalam hidupnya."

__ADS_1


__ADS_2