
Yuvi melepaskan pelukannya mundur beberapa langkah. Kedua tangannya menyilang di depan dada. "A-apa maksudmu?" ucapnya gugup.
Axel melepaskan senyum misteriusnya, masuk ke dalam kamar, menghiraukan ranjang yang terisi oleh seseorang yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Di atas ranjang kosong, tempat ia meletakan Yuvi yang tertidur di dalam pelukannya, ia melihat jaket milik Yuvi dan langsung membawanya.
Setelah itu, Axel menarik tangan Yuvi dan membawanya pergi dari kamar ini. Sambil berjalan, ia memasangkan jaket gadis yang terlihat kebingungan itu.
"Kita mau ke mana?"
"Kamu akan tahu," ucapnya.
Axel menggenggam tangan Yuvi dan mereka berjalan kaki menyusuri kota di malam hari. Wajah Yuvi yang tadinya terlihat was-was, perlahan berubah ceria menatap warna warni kerlap lampu yang menerangi sepanjang perjalanan mereka.
"Kamu belum makan kan?" tebak Axel.
Yuvi menganggukan kepala dan Axel kembali menarik tangan mungil yang ada dalam genggamannya. Perjalanan pun memasuki wilayah sungai yang terlihat sangat luas.
"Waaahh, ini sungai yang sering muncul kalau nonton drakor kaaaan?" teriak Yuvi sumringah.
Meskipun saat ini musim semi, tetapi saat malam datang suhu kota ini tetap lah dingin. Ditambah angin yang datang dari arah sungai, membuat tubuh Yuvi tergidik, menggigil, meskipun saat ini ia telah menggunakan jaket pada tubuhnya.
"Suhu di sini jauh lebih dingin dibanding di Hongkong." Yuvi menarik telapak tangannya dari genggaman Axel, dan meniupnya agar terasa sedikit lebih hangat.
Axel membuka zipper jaketnya yang panjang, lalu mendekati Yuvi dari arah belakang. Lalu, tubuh mungil Yuvi dibungkus bersamaan dengan jaket yang masih terpasang di tubuhnya.
Yuvi tersentak atas perilaku Axel yang membuat tubuh mereka menyatu dalam jaket yang sama. "Apa yang kamu lakukan?"
"Dengan begini, terasa hangat kan?" bisik Axel.
"Tapi aku ini lagi laper. Gak mungkin jalan kayak kembar siam begini?" Yuvi merasa risih dengan perilaku kekasihnya itu. Ia mendorong tubuh Axel yang begitu menempel dengan dirinya.
Axel tanpa ragu merangkul memeluk leher Yuvi dari belakang. "Ternyata kamu bener-bener pemalu ya?" godanya.
Wajah Yuvi mulai mem4nas, jantungnya berdebar hingga membuat tubuhnya benar-benar menjadi pan4s. Yuvi melepaskan kedua tautan tangan Axel dan mendorongnya menjauh dan lepas dari jaket Axel tadi.
"Pergiii, jangan dekat-dekat! Bukan muhrim!" ucapnya.
"Yeeey, bukan muhrim? Tadi aja malah meluk-meluk aku. Sampai tidur dalam pelukanku. Ya udah, terlanjur basah ini." Axel tak mau kalah.
"Iih, tadi itu refleks dan lupa. Kalau lupa itu tandanya rezeki. Nah, kalau sengaja ini gak boleeeeh." Yuvi kembali berjalan kali ini mendahului Axel.
Di pinggir sungai Han, terlihat sebuah kapal pesiar mewah yang terparkir di dermaga yang ada di sana. "Itu apa?" soraknya takjub.
"Ayo ke sana!" Axel menyamakan langkah dan kembali menggandeng Yuvi menuju kapal yang dijadikan sebagai restoran itu.
__ADS_1
Mereka menikmati bebek panggang dengan sedikit goyangan berada di atas kapal pesiar ini.
"Waah, enak banget," sorak Yuvi menyantap makanan yang ada di hadapannya.
"Makan yang banyak, biar cepet gede," ucap Axel.
"Aku ini bukan anak kecil lagi tauk!"
"Bukan anak kecil, tapi anak baru kemarin sore," ucap Axel terus menggodanya.
Yuvi mencibir setelah itu melanjutkan makan hingga semua habis tak tersisa. Setelah itu, Yuvi merogoh kantongnya. Ia baru sadar akan suatu hal.
"Tas aku ketinggalan. Kamu sih? Main tarik aja," celetuk Yuvi kebingungan.
"Buat apa?" tanya Axel menutup sesi makannya dengan minum segelas air.
"Kan mau bayar makanan ini," ucap Yuvi lagi.
"Pfftt." Mulut Axel yang berisi air, tiba-tiba keluar lagi karena mendengar jawaban Yuvi. "Sebelumnya pernah pacaran nggak sih?"
"Enggak," ucapnya pendek.
"Ooh, panteees. Berarti aku beruntung dong jadi cinta pertama kamu?" goda Axel lagi.
Yuvi mengatup bibirnya. Bola matanya terlihat sedikit melirik ke atas sebelah kiri. "Bukan sih!" ucapnya lagi.
"Iya belum pernah. Tapi aku sering banget jatuh cinta."
Kening Axel mengerut mencoba mengartikan apa yang diucapkan Yuvi. "Emang sama siapa? Sama yang di foto dulu?" tanya Axel dengan nada selidik.
"Bukan! Dia mah jelek," ucap Yuvi kembali.
"Lalu siapa?" Axel terus mengintrogasi karena penasaran.
"Rahasia!" cibir gadis itu.
"Katakan! Suka sama siapa?" Axel mulai mengintimidasi.
"Hmmm, nanti kamu bisa nangis kejer kalau aku katakan. Dia jauh lebih ganteng dibanding kamu," ucap Yuvi.
"Katakan saja! Jangan berbelit-belit!"
"Kamu udah lama di sini kan? Kamu pasti kenal dia," ucap Yuvi.
__ADS_1
Axel kembali mencerna ucapan kekasihnya ini. "Orang sini?" Yuvi mengangguk cepat.
"Terus kerjanya apa?"
"Oh, apa yaa. Idol gitu. Semua orang mengenalnya," ucap Yuvi bersemangat.
"Astaga! Aku pikir siapa? Jadi dia anggota yang mana? NCT? EXO? BTS?"
Yuvi tertawa lepas. "Jungkook, Taeyong, Henderi, Chanyeol, dan banyak lagi."
Axel menggaruk keningnya dan menggeleng tipis. "Terserah lah, kalau kamu suka. Aku gak masalah, asal kamu cintanya sama aku."
Yuvi mencabik, tetapi hidungnya ditarik oleh Axel.
"Duuh, anak Ibu ini gemesin banget," ucapnya gemas.
"Sakiit," rengeknya manja.
"Dih, snow white yang garang ternyata cengeng," candanya.
Setelah itu mereka kembali melanjutkan jalan menikmati suasana indahnya malam di kota ini.
"Mas, aku gak bisa mengundur waktu untuk kembali. Aku harus kembali besok siang."
Langkah Axel terhenti, membuat Yuvi turut berhenti. "Kenapa tidak coba minta izin?"
"Aku tak bisa mengecewakan majikanku di Hongkong. Dia baik banget, Mas. Mendapat izin untuk sampai di sini saja, rasanya sungguh luar biasa. Jadi, aku tidak mau kehilangan kepercayaan majikanku."
Axel melepas genggamannya pada tangan Yuvi. Ia berjalan beberapa langkah dan menghembuskan napas beratnya.
"Jadi, kamu lebih mementingkan majikanmu, dibanding aku dan hubungan kita?"
"Aku ke Hongkong buat bekerja, Mas. Buat membayar biaya pengobatan ibuku di kampung halaman."
"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk mengumpulkan biaya itu? Apakah tahun depan kamu sudah bisa kembali?" Suara Axel kali ini, terdengar datar.
Yuvi kembali menggelengkan kepala. "Aku sudah menandatangani kontrak kerja untuk tiga periode. Ini berarti, kontrak kerjaku baru usai setelah enam tahun kerja."
Axel terlihat kecewa. Dia membelakangi Yuvi menatap jauh pada pemandangan malam di kota ini. "Apa kamu mau membatalkan kontrak dan pulang saja?"
Yuvi mengerutkan keningnya. "Maaf, Mas. Aku juga memiliki kehidupan sendiri, memiliki keluarga yang ingin aku bahagiakan, dan jika membatalkan kontrak, aku akan dikenakan pinalti yang sangat besar."
"Aku akan membayarnya," ucap Axel.
__ADS_1
"Mas, kamu itu beneran sayang sama aku nggak sih? Aku itu juga ingin memiliki penghasilan sendiri. Aku bahagia saat orang tuaku bahagia. Jadi, aku tak bisa meninggalkan pekerjaan ini."
Axel terlihat kecewa dengan keputusan Yuvi ini. "Baik lah. Sepertinya malam ini kita cukupkan saja."