Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
91. Merindukan Keluarga


__ADS_3

Di kantor, Axel sibuk dengan pekerjaan yang tiada habis sebagai seorang penasihat hukum. Saat ini, ia tengah berbincang dengan sang selretaris. "Oh ya, Pak, saya dengar saat ini istri Anda yang baru saja pulang, ternyata sedang dalam keadaan hamil kan?"


Akel melirik pada sang sekretaris. "Dari mana kamu tahu?"


Sang sekretaris melirik ke arah luar. Axel menyadari siapa yang dimaksud. Dia hanya bisa menggelengkan kepala.


Axel kembali pada data yang baru saja diserahkan. "Saya akan mempelajari kasus baru ini. Nanti jika saya butuh kamu, maka akan saya panggil kembali."


"Siap, Pak."


Axel segera mempelajari kasus yang baru saja masuk. Kali ini, seorang istri meminta perlindungan hukum, atas kelakuan suaminya atas tindak KDRT dalam rumah tangga mereka.


"Anak-anak saya, telah dianiaya oleh suami saya. Saya sudah tidak tahan lagi. Saya menginginkan perlindungan hukum yang tertulis, sekaligus menggugat cerai terhadapnya."


"Baik lah, Bu. Kasus ini akan segera kita proses secepatnya. Saya harap, untuk gugatan cerai, Anda berpikir dengan matang terlebih dahulu," ucap Axel selalu penasihat hukum.


"Keputusan saya sudah bulat, Pak. Saya sudah lelah hidup bersamanya. Saya kasihan dengan anak-anak yang selalu menjadi sasaran amukannya."


Axel mendengarkan keluhan tersebut dengan seksama. "Baik lah. Kaduan Anda akan segera kami proses."


*


*


*


"Mama, apa Aziel udah boleh main di luar?"


Yuvi kembali sibuk dengan kegiatan hariannya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Kali ini ia sedang menunggu pakaian di dalam mesin cuci.


"Bukannya Aziel masih pegel?"

__ADS_1


"Tapi Aziel udah bisa gerak-gerak ni, Ma." Aziel menggerakkan badannya yang kaku, menjadi patah patah, persis gerakan robot.


Yuvi terkekeh melihat tingkah Aziel yang seperti ini. "Tadi malam aja nangis nangis sampai susah tidur? Ini belum sembuh, udah mau main lagi."


"Abis, Aziel suka main sama teman teman, Ma. Aziel kan ga pernah punya teman, Ma? Waktu main sama mereka, Aziel senang. Apalagi sama Cika, Aziel suka coel-coel pipinya."


Yuvi membulatkan bibirnya. "Kamu nyoel nyoel pipi anak cewek?"


"Cewek itu apa, Ma?"


Yuvi langsung menepuk keningnya. "Gimana cara menjelaskannya ya? Jadi, di dunia ini kita memiliki dua jenis kelamin. Satu perempuan, satu laki-laki."


"Aziel laki-laki kan, Ma?"


"Nah, pinter. Jadi, kalau laki-laki itu biasa disebut cowok. Sama halnya kayak Aziel, Papa Arsen, dan Papa Axel. Kalau perempuan, bisa disebut cewek. Kayak Mama Yuvi, Mamanya Aziel, Cika, dan tante-tante perawat di rumah sakit Papa dulu lho?"


Mulut Aziel membulat. "Jadi, kalau Aziel cowok, Cika cewek?"


Aziep manggut manggut lagi. "Tapi Aziel gemes lihat Cika, Ma. Aziel mau punya yang kayak Cika juga."


"Kamu beneran anak laki-laki ya Ziel. Syukur lah Ziel." Yuvi mengusap kepala Aziel dan terkekeh.


"Ma, kata Mama kan Mama nanti punya adik bayi? Gimana kalau adik bayi Mama kita kasih nama Cika juga?" Aziel mengusap usap perut Yuvi.


"Waaah, iya ya? Cewek apa cowok ya? Aziel mau adik cewek ya?"


"Iyaa ... biar Aziel bisa coel coel. Kalau adik Mama, nggak mungkin Mama marah sama Aziel."


Yuvi memainkan dagu Aziel gemas. "Duuuh, nanti kamu mau bantuin Mama buat ngasuh adik ya? Tapi sebentar lagi Aziel kan mau masuk sekolah."


Aziel tiba-tiba teringat kata sang ayah. "Kata Papa Aziel, disuruh sekolah di rumah aja."

__ADS_1


"Jangan! Kamu sekolah kayak yang lain aja? Biar punya banyak temen. Biar bisa bersosialisasi dengan temen-temen sebaya."


Semakin banyak informasi yang diberikan, makin banyak juga tanya yanh muncul. Hal ini membuat Yuvi pusing sendiri menjawabnya.


*


*


*


Skian bulan, waktu telah berlalu tanpa kendala yang berarti. Selama itu pula, Arsen meminta satu anak buahnya memantau rumah keluarga yang merawat anaknya dengan rahasia.


Perut Yuvi sudah semakin besar. Suatu malam, ia menangis sendiri di dalam tidurnya.


"Ayah ... Ibu ..." gumamnya dalam tidur.


Axel terbangun dan membangunkan sang istri. "Apa kamu sudah mengingat semuanya?"


"Ingat apa?" tanya Yuvi kebingungan.


"Tadi kamu memanggil orang tuamu."


Yuvi merenung sejenak. "Aku merasa rindu, tapi tidak tahu sama siapa." Ia meringsek masuk ke dalam pelukan suaminya.


"Baik lah, aku akan mengurus cuti. Ayo kita pulang ke sana. Demi menjemput ingatanmu yang sudah hilang."


*


*


*

__ADS_1


Keesokan hari, sebuah kendaraan masuk ke perumahan yang ditempati oleh mereka kembali. Di tangannya, telah memegang sebuah foto, dengan kemiripan 60% dengan Arsen.


__ADS_2