Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
32. Mama Aziel yang Sebenarnya


__ADS_3

"Dari pada aku dicap jadi anak durhaka, lebih baik telepon aku tutup." Axel menekan tombol merah. Dalam beberapa waktu ia membenamkan wajah pada kedua telapak tangannya.


Setelah emosinya menurun, Axel kembali fokus pada PC meskipun masih menyisakan rasa kesal. Sungguh batinnya tidak menerima sang ibu begitu cepat memberikan gadis lain kepadanya. Setelah menhela napas panjang, ia menggeser mouse ke bawah mencari informasi yang ia butuhkan. Di dalam benaknya terlintas informasi yang diucapkan oleh Aziel.


"Mila bukan ibu kandung Aziel."


Axel mengecek sosial media Arsen. Dengan susah payah, ia mencoba menebak-nebak siapa nama yang digunakan oleh Arsen untuk sosial medianya. Saat memasukkan nama Arsenio, yang keluar malah wajah lain dan memang orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan orang yang ia cari.


Axel kembali memutar otak. Tak lama kemudian, ia kembali mengetik sebuah nama dengan asal. Aziel ...


Muncul beberapa nama dan ia terpaku pada sebuah profil dengan nama profil Aziel Arsenio Jaya. Di mana, di dalam foto itu, tampak seorang wanita cantik yang sedang mengandung dalam pelukan pria yang tadi ia temukan di rumah sakit. Pria itu tak lain adalah Arsen yang ia cari. Sang pria tampak begitu bahagia dalam wajah penuh cinta dan kasih.


Axel menekan foto tersebut dan terpampang dengan nyata postingan-postingan yang terakhir kali dikirim sekitar enam tahun yang lalu.


Pada postingan terakhir, tertulis status yang begitu mengharukan.


'Saat mengetahui jenis kelaminmu seorang laki-laki, Mama merasa sangat lega. Karena kamu hadir seperti yang diharapkan oleh papamu. Kami sepakat, memberimu nama Aziel Arsenio Jaya karena memiliki makna yang sangat indah. Kamu adalah kekuatan yang Tuhan berikan untuk kami berdua.'

__ADS_1


'Mulai hari itu juga, profil sosial media ini Mama ganti dengan nama yang akan kami berikan untukmu. Jadi lah baik, Nak ... jadi lah penyejuk bagi papamu ... Jika Mama tidak bisa menemanimu tumbuh menjadi dewasa.'


Axel tertegun hening beberapa waktu. Kembali ia teringat ucapan Aziel mengatakan mamanya telah tiada saat ia lahir.


"Surga menantimu, Mbak." gumamnya.


Axel melanjutkan mengecek komentar yang sangat banyak. Komentar yang berisi rentetan ucapan duka cita. Tidak hanya itu, banyak ucapan mendoakan bayi mereka yang baru lahir tumbuh kuat dan sehat hingga dewasa nanti.


"Berarti ini adalah kata-kata terakhirnya menjelang ia melahirkan dan saat itu lah meninggal dunia," gumam Axel kembali.


Dari dalam komentar, terlihat beberapa orang menandai sebuah akun dengan nama Jovita Cintaku. Saat di-klik, akun tersebut sudah tidak aktif lagi.


Axel menyandarkan kepalanya pada bagian belakang kursi. Ia merenung kembali hening dengan mata mengawang tanpa nyawa.


"Tapi, jika dia memang Yuvita, kenapa dia tidak mengenaliku?"


Axel menggelengkan kepalanya kembali. "Malam ini juga, aku harus membuat laporan, agar diizinkan untuk memeriksa rumah sakit itu sebagai pengacara Dokter Diki. Nama Dokter Diki harus kubersihkan. Ini adalah janjiku sebagai seorang kuasa hukum."

__ADS_1


Setelah beramsumsi, Axel membuka ponselnya. Ia telah berhasil mengumpulkan beberapa foto mengenai keadaan bangunan di rumah sakit yang terasa sangat mencurigakan. Ada ruangan khusus yang berisi alat pembeku dengan ukuran yang sangat besar.


"Foto Doni, yang tidur ditinggal sendirian pada tempat yang sangat mirip dengan ruang operasi ini pun, suasananya sangat mencurigakan."


Axel bangkit menarik tas kerja meninggalkan ruang kerja pada firma hukum miliknya. Ia segera membuat laporan kepada pihak kepolisian. Namun, raut wajah orang yang duduk di balik meja itu terlihat sedikit tegang.


"Apa Anda yakin dengan semua laporan ini? Ingat, Anda ini seorang kuasa hukum, bukan jaksa yang bisa memberikan laporan atas kecurigaan Anda!"


Axel menggebrak meja sang polisi. "Justru karena saya seorang kuasa hukum. Saya bertugas untuk membersihkan nama klient dan saya juga berhak untuk melaporkan kecurigaan ini."


"Saya memiliki beberapa bukti." Axel mengeluarkan foto-foto yang ia dapatkan.


Rekording yang tadinya udah dia pasang, tidak bisa membuktikan apa pun, karena yang terdengar hanya aktifitasnya saat menggeledah bangunan belakang gedung rumah sakit itu.


Polisi tanpa seragam itu memperhatikan foto yang diberikan satu per satu. "Dari mana Anda mendapatkan ini semua?"


"Saya sedang mencari anak yang ada dalam foto tersebut karena adik dari kenalan saya. Sangat mengejutkan bukan? Menemukan anak ini diculik oleh sekelompok orang ternyata dia berada di dalam sebuah rumah sakit dengan berkelas bonafide?"

__ADS_1


Brigpol Luki, orang yang berada di hadapan Axel saat ini terlihat memutar bola mata. "Anda jangan sembarangan membuat laporan seperti ini! Jika sembarangan, maka Anda akan dituntut dengan pencemaran nama baik terhadap rumah sakit itu!"


__ADS_2