
Kendaraan roda empat itu berputar-putar 360 derajat hingga sang supir menginjak pedal rem dengan dalam. Semua penumpang yang berada di dalam kendaraan tersebut terbentur ke arah depan.
Para pria yang menggunakan motor tadi turun dari kendaraan, segera mendekati mobil box yang membawa anak-anak tak bersalah itu.
Semua yang berada di dalam kendaraan itu terlihat lemas muka memutih. Pasukan Arsen menarik supir yang terkulai lemas.
"Mana mereka?!"
Sang supir mencoba melepaskan diri dari tarikan pria berpakaian hitam itu. Namun, satu hantaman membuat supir itu terpental membentur pada mobil.
Masyarakat yang mendengar suara tabrakan, berbondong mendekati lokasi. Melihat warga yang semakin ramai berdatangan, membuat kawanan berpakaian hitam itu memilih untuk mundur.
Suara tangisan anak-anak yang mulai plepas dari pengaruh bius, mulai terdengar.
Warga mengecek keadaan penculik yang dianggap sebagai korban kecelakaan. Orang-orang yang tadinya sudah lemah, satu per satu kabur menjauh dari kendaraan tersebut.
Arsen, Kano, dan orang-orang yang menggunakan kendaraan roda empat, baru saja sampai di lokasi. Arsen segera menarik gagang pintu mobil, tetapi Kano menghalangi. Partnernya menggelengkan kepala dengan tatapan tegas.
Arsen membatalkan rencana untuk turun dari kendaraan tersebut. Mereka hanya menonton dari kejauhan.
"Ada suara anak kecil menangis di dalam sini!" teriak warga yang mulai mengerumuni mobil box tersebut.
Lalu, pintu bagian belakang dibuka, alangkah terkejutnya mereka saat menemukan beberapa karung yang bergerak-gerak dan suara anak yang menangis.
__ADS_1
"Mamaaaa ...."
"Ibuuuuk ...."
"Bundaaaaa ...."
Tangisan berbeda membuat orang tersebut menyadari akan keanehan ini. Lalu, ia melihat supir yang tadi lemas, mulai bergerak.
"Tangkap dan tahan dia! Mereka ini penculik! Ada empat anak di sini!" teriaknya kepada warga yang berkumpul.
Warga segera menahan satu pria yang sudah keadaan lemah dihajar oleh anak buah Arsen tadi.
"Jadi elu yang membuat warga resah karena penculikan anak akhir-akhir ini?" tanya pria menarik pakaian supir tadi dengan geram.
"Ayooo!"
Sang supir yang tertinggal sendiri itu dihajar bersamaan oleh para warga geram.
Sementara sisi lain, warga membuka karung karung yang berisi anak-anak tersebut.
"Huwaaaaaa ...."
Lomba tangis pun terjadi menggema di sana. Polisi pun telah hadir pada lokasi.
__ADS_1
Di tempat lain, ponsel Axel bergetar. Pada layar ponselnya tertulis nama Bharada Jun.
"Ah, tumben sekali dia menelepon?" Axel menarik tombol hijau menempelkan ponsel pada telinganya.
"Selamat sore, Bharada Jun?"
"Sore, Pak Pengacara. Saya mau mengabarkan bahwa Aziel anak dokter Arsen saat ini berada di rumah sakit."
"Hah? Kok bisa?"
Beberapa waktu kemudian, Axel telah menggendong Aziel yang menangis dalam pelukannya. Beberapa bagian tubuh anak-anak itu terlihat membiru.
"Bagaimana kondisi mereka, Dok?" tanya Axel melihat jidat Aziel yang sedikit benjol dan lebam.
"Mungkin karena kecelakaan yang dialami mobil itu, membuat mereka mengalami benturan dan menderita beberapa luka bagian dalam. Nanti kami akan memberikan beberapa resep untuk mengurangi memar tersebut," ucap dokter yang menangani kasus anak-anak ini.
"Papaaaa, Aziel takut. Aziel main-main sama kawan baru. Tapi, Aziel tidak tahu, kenapa Aziel berada di tempat sempit. Badan Aziel sakit semua." Aziel masih sempat bercerita dalam sela tangisnya.
"Ssst, kamu tenang ya? Papa sudah ada di sini. Nanti sakitnya kita kasih obat, biar cepat sembuh." Axel mengusap-usap punggung Aziel.
Tanpa ia sadari, ia sedang direkam oleh salah satu pengunjung rumah sakit bergaya biasa. Rekaman tersebut ditonton langsung oleh Arsen. Ayah kandung Aziel itu, menonton aksi anaknya yang memeluk Axel dengan sangat erat.
Dia membisu dalam wajah yang datar. Ada rasa sesak di hati, yang tidak bisa ia ekspresikan sendiri. Ia memilih bungkam dalam wajah dinginnya.
__ADS_1