
"Hmmm ... ada-ada aja ni anak? Selama di sekolah, mah, gak pernah ngobrol. Lagian Feli suka sama dia. Apa katanya nanti jika tahu ni bocah ngasih-ngasih beginian padaku?" Lembaran surat itu kembali masuk ke dalam amplopnya dan disimpan dengan asal.
"Yang penting Feli tidak perlu tahu aja kan? Lagian, aku bener-bener tidak memiliki rasa sama sekali padanya."
Yuvi kembali menatap ponsel yang masih membisu semenjak tadi pagi. "Mas'e? Kamu ke mana?" Raut Yuvi kini berubah menjadi murung.
Saat malam tiba, Yuvi kembali bertapa di antara ponselnya yang sedang melakukan penambahan daya. 'Apa sekarang ini, buat nerima pesan masuk harus punya pulsa juga ya?'
Yuvi merenung memandangi ponselnya yang sedari tadi sepi tanpa panggilan masuk sedikit pun.
"Yuvi ... kamu lagi apa?" Ibu baru saja muncul usai menyiapkan menu makan malam di atas meja makan sederhana keluarga mereka.
"Aah, apa hape Yuvi rusak ya Bu? Kok dari tadi ga ada bunyinya?"
"Modus tu, Bu. Akal-akalan dia doang supaya dibelikan hape baru." April muncul dari arah dapur membawakan semangkuk sayur yang baru saja dimasak bersama Ibu di dapur.
"Yeeeii, Mbak? Yuvi kan cuma nanya doang? Lagian kalau Ibu punya duit buat belikan hape baru untuk Yuvi juga ga masalah kan? Masa Mbak aja yang punya hape baru? Giliran aku dikasih bekas semua?"
April mengernyitkan dahinya. "Aku membelinya dengan hasil kerja kerasku bekerja keles. Makanya, kamu habis tamat gini langsung kerja! Ini malah minta kuliah segala? Pikirin dulu orang tuamu itu bagaimana mencari uang untuk menghidupi kita sehari-hari! Ini malah kayak gak tau diri?"
__ADS_1
Wajah Yuvi memerah, diikuti kedua pipi yang menggembung. Terdengar deruan napas kesal dan Yuvi kembali masuk ke dalam kamarnya. Yuvi memilih segera bersembunyi di selimut tanpa ikut makan malam.
Keesokan harinya, ponsel itu masih belum juga berbunyi. "Ini bener-bener mengesalkan! Ternyata pacaran itu sungguh sangat menyebalkan!" teriaknya pada benda elektronik itu.
Yuvi membuka batrai ponselnya, dan melempar SIM card secara asal. "Ya udah! Kita putus kalau begitu!"
Yuvi memasukan ponsel dengan sim-card yang dilepas tadi ke dalam lemari. Ia memilih menuju ke rumah sahabatnya bernama Feli. Sahabatnya tengah mengikuti bimbingan belajar demi bisa masuk perguruan tinggi negeri.
"Kok gak ngabarin mau ke sini? Untung aja aku udah pulang kan?" Feli menyerahkan buku materi bimbelnya agar bisa dipelajari oleh Yuki juga.
"Untuk apa?" sungut Yuvi.
Yuvi mengembuskan napasnya kasar. "Sepertinya aku tidak ada harapan untuk berkuliah. Apa setelah ini aku hanya akan duduk di rumah tanpa kegiatan ya?" Yuvi mengembalikan buku itu tak berniat membacanya sama sekali.
"Hmm, coba tanya-tanya Dewi. Gimana cara agar bisa menjadi TKW. Terus kamu ambil negara Korea? Ketemu BTS, NCT, EXO ...." Feli sudah sibuk dengan angannya.
"Tapi, aku gak punya duit buat les bahasa asingnya." Yuvi nenyandarkan diri merenung lesu.
Feli turut lesu mendengar keresahan hati sahabatnya ini. Lalu, seakan teringat sesuatu, raut wajah Feli kembali berubah. "Tadi, saat di bimbel aku dengar kemarin kamu bicara berdua sama Zaki ya?" tanya Feli kembali.
__ADS_1
"Nggaaak, siapa yang bilang?"
"Aku dapat kabar, banyak yang bilang." Feli mengeluarkan nada selidik dan sedikit ketus.
"Nggak ah, bohong itu. Lagian urusan apa juga tu anak deket-deket sama aku. Aku bukan anggota OSIS, bukan anggota club basket juga, bukan aktifis ekskul ... hanya siswa mageran ngayal bisa cepet kaya raya nikahin pria kaya. Ngapain juga sama dia? Nggak level, cuma adik kelas modal tampang doang. Mana tulisannya jelek lagi—" Yuvi terdiam menyadari telah salah bicata. Sejenak melirik Feli yang mengerutkan kening kepadanya.
"Dari mana kamu tahu tulisannya jelek?"
"Aaa ... hmmm ..." Yuvi secepatnya memikirkan alasan.
"Ah, ya ... waktu itu kelihatan dia lagi corat-coret dinding belakang sekolah." jawabnya asal.
Kening Feli semakin mengerut. "Ngapain kamu sampai main di belakang sekolah?"
"Oooh, aku kan balik dari toilet. Jadi dia asik coret-coret dinding sama kawan-kawannya." jawabnya kikuk.
Feli, adalah sahabatnya yang ia tahu sangat mengidolakan Zaki yang sangat jago main basket itu. Beruntung saat Zaki mendekatinya kemarin, Feli sedang tidak ikut ke sekolah karena kurang enak badan.
'Ini siapa sih yang jadi bigos? Cepet amat nyebarin berita yang beginian,' batin Yuvi.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya kak readers semua 🙏 rate 5 dan vote.