
Arsen langsung melipat kaki tepat di atas perut dan menghentakkan tubuhnya hingga berada pada posisi jongkok. Wajahnya masih mengernyit, merasakan perih pada bahu yang tadi ditarik oleh lawan.
Arsen menendang kaki lawan yang ada di hadapannya lalu mengaitkan dengan pergelangan kaki membuat tubuhnya oleng dan terhempas ke belakang.
"Agghht!" ringisnya. Anak buahnya berlari ingin menolong sang pemimpin. Namun, anak buah Arsen menghalangi dan menyerang pasukan itu semua. Pertarungan hebat satu sama lain pun terjadi.
Tak sedikit yang menginjak taman milik warga yang tidak menggunakan pagar.
"Asyeeeem ... bunga gueee?" rutuk ibu-ibu yang menonton dari dalam rumah.
"Gaes ... ini gift-nya harus singa lho? Jarang banget kalian bisa tonton yang kayak gini. Kalau gak dikasi singa, nanti live-nya gue hentikan lho?" ucap yang lain dari rumah lain.
Ada komenan dari penonton untuk menghasut para penonton lain untuk 'Lapor' hingga diikuti yang lain menandai akun pihak kepolisian.
Kembali pada Arsen yang telah berdiri sembari memutar-mutar lengan dan melemaskan otot pada bahunya tersebut. Arsen tak mengulur waktu lebih lama, lalu mengangkat kaki menghunuskannya kuat tepat pada dada lawannya tadi.
"Kau telah salah memilih lawan!" Arsen menyeringai menghantamkan kakinya berkali-kali ke tubuh lawannya.
Sang lawan tidak terima dan merasa terhina, ia menangkis dan berguling menjauh, lalu mengeluarkan senjata yang terselip pada pinggang. Dengan cepat ia mengokang senjata itu dan langsung ditodongkan ke arah Arsen.
"Kali ini, mau di bagian mana?" Pemimpin penculik itu perlahan bangkit dan berdiri.
__ADS_1
Arsen mengangkat tangannya, tetapi wajahnya masih datar tanpa menyiratkan rasa takut. Lawannya itu terus berjalan mendekat dan menodongkan senjata tepat ke arah kepala Arsen.
"Kenapa? Mana kekuatan lu tadi yang bisa nginjak-nginjak gue? Lu pernah pikir gak? Berapa nyawa anak buah gue yang lu hilangin waktu nyerang markas gue?"
Arsen hening tak bergeming. Ia memperhatikan semua keadaan yang telah kacau karena pertempuran dua kubu ini.
"Gaes ... lihat, noh! Ada yang nodong pestol! Gue masih nunggu singa nih! Mawar doang kagak seimbang sama tontonan kalian hari ini!" Sang ibu milenial masih asik dengan rekamannya.
"Kenapa lu diam aja?" tanya pria yang masih menodongkan senjatanya.
Dalam diam, Arsen masih sibuk dengan pikiran apa yang harus ia lakukan setelah ini.
"Elu tahu, berapa nyawa anak buah gue yang melayang saat kalian menyerbu markas gue? Siapa yang ngurusin? Gue! Siapa yang mampusin? Elu!"
Arsen melirik lawannya itu di ujung mata.
"Kenapa? Lu takut? Gue udah tau siapa anak lu! Mulai hari ini, lu kudu siap-siap aje!"
Bugh
Kepalan Arsen telah melayang kuat di dagu lawan, membuat beberapa biji gigi lawannya ini melayang bersama cipratan air hujan yang berasal dari mulut musuhnya itu.
__ADS_1
Bruugh
Lawanya terhempas hebat, kali ini kepalanya ikut terbentur dengan kuat.
"Aaagghh ..." Beberapa waktu pria yang jadi lawannya itu, kejang dan pingsan.
"Gaes ... gaes ... lihat noh! Ada yang mampus kayaknye ye? Seru gak? Seru gak? Cepetan mana singa buat gue!"
Dari kejauhan terdengar suara sirine yang membuat para gangster itu menghentikan aktivitas tonjok-tonjokan mereka.
"Polisi woi, polisi!"
...****************...
yuhuuu ... Pada bagian ini Authornya bawa cerita lain lagi nih dari sobat Author. Ceritanya gak kalah menarik lhoh? Yuuk, intip-intip juga 🤣
Judul: Dokter Genius Milik Putri Konglomerat
Author: Siti Fatimah
__ADS_1
Jangan lupa di-subscribe + Like + Komentar yaaah 🥰🥰