
Setelah dicek kembali, status gadis itu sudah berubah off line. Axel menepuk jidatnya dan menghapus kembali semua pesan itu.
"Sampai terbawa suasana gara-gara ni anak."
Axel pun melanjutkan aktivitasnya mengerjakan skripsi. Kali ini, entah mendapat semangat dari mana ia bisa mengetik materi dari sumber-sumber yang telah berserakan di sekeliling kamarnya.
"Aku seorang laki-laki. Bagaimana pun juga akan menjadi kepala rumah tangga. Gadis tadi seakan menamparku dengan kenyataan ini."
Axel tak henti mengerjakan semuanya hingga menyeesaikan bab tiga yang menjabarkan metode penelitian.
"Tinggal bimbingan dan semoga segera ACC untuk seminar proposal."
Axel menghempaskan tubuh ke atas ranjang dan ia membuka ponselnya. Kembali ia mendapat tanda misscall yang sangat banyak. Siapa lagi kalau bukan dari gadis yang tadinya meninggalkan ia kala menuliskan pesan dengan sangat panjang.
"Bagaimana kalau ditelepon saja?"
Axel menekan tombol hijau. Akan tetapi, panggilannya tidak dijawab oleh yang di seberang. Axel mengulangi panggilan beberapa kali, tetapi tak kunjung dijawab juga.
Tak lama, sebuah pesan masuk pada ponselnya.
Yv: [ Beneran mau nelpon apa perang mc aja? ]
[ Angkat! ] balas Axel singkat.
Axel mengulangi panggilannya kembali. Menunggu panggilan dijawab, ada perasaan campur aduk dan deg-degan. Pikirannya melayang membayangkan bagaimana orang yang ada di balik sana. Ini untuk pertama kalinya ia menghubungi orang yang belum dikenal sama sekali.
Dari seberang, terdengar panggilan telah dijawab oleh orang yang diteleponnya.
"Hallooo ...."
Degh
Jantung Axel seakan keluar dari posisinya ketika mendengar suara itu.
"Halooooo ...." Sekali lagi orang di seberang memanggil karena yang memanggil sibuk menata hati dan menenangkan diri.
"Halo," ucap Axel singkat.
"Ini siapa yaaa? Kenapa nelpon-nelpon nggak jelas? Dari mana dapat nomorku? Kenapa misscall-misscall? Kamu di mana? Bersama siapa, sedang berbuat apa?" Tanya yang di seberang nyerocos tanpa titik koma.
Axel terkekeh dan memperbaiki posisinya. "Ah, ini ... gu-aku ..." ucapnya canggung.
"Gu-aku siapa?" tanya yang di seberang kembali.
"Ini nomor aku. Kaisar perang."
__ADS_1
Dari seberang panggilan terdengar tarikan napas panjang. "Ternyata Om-om ganteng?"
"Hush! Aku masih muda! Belum menikah dan masih kuliah!"
"Oh ya? Lalu aku manggil siapa? Abang, kakak, mas, blih, dang, atau siapa?" Yang di seberang kembali nyerocos tanpa henti.
"Aku pikir kamu sebar-bar pesan yang kamu tulis."
"Ah, masa sih? Aku ya gini."
Axel tertawa terpingkal sendiri. Dia sudah berpikir macam-macam tentang gadis yang tadinya sembarangan menulis pesan secara tidak sopan.
"Beneran mau nikah sama aku?"
Yang di seberang terdiam, dan cukup lama diamnya.
"Kenapa diam aja? Tadi kamu lhoh yang bilang?"
"A-aku bercanda kok. A-ku ...."
Axel kembali tertawa terpingkal. Ia baru menyadari bahwa orang yang bicara dengannya ini, hanyalah gadis pemalu, tak sesuai dengan karakter yang ia buat.
"Katanya mau nikah sama aku? Aku menelpon untuk itu lho?"
Suara di seberang terdengar gugup. "Hahaha, aku pikir kamu beneran bar-bar tau nggak? Nyatanya begini?"
Tut
Tut
Tut
Panggilan itu ditutup begitu saja. Axel memandang ponselnya kembali. "Tadi yang menelepon siapa ya?"
Namun, Axel melakukan panggilan ulang. Akan tetapi, kali ini panggilannya tidak kunjung masuk juga.
'Kenapa hapenya malah mati?' batin Axel.
Axel mencoba menghubungi sekali lagi. Panggilan benar-benar tidak masuk kembali. Namun, panggilan pun masuk. Layar ponselnya tertulis nama Dirga. Tanpa berpikir panjang, Axel menggeser tanda hijau.
"Gue tunggu di tempat biasa!" ucap yang di seberang.
"Tapi gue—"
Tut
__ADS_1
Tut
Tut
Panggilan telah dimatikan. Dia tak diberi kesempatan untuk berbicara. Axel pun langsung bangkit menarik kunci motor menuju tempat permainan di mana kawan-kawannya telah menunggu di sana.
Suasana di arena biliar ini terasa pengap oleh asap rokok yang memenuhi ruangan. Di sini, antara laki-laki dan perempuan tak ada perbedaan sama sekali. Mereka bebas bermain, bebas merokok, bebas memegang minuman ringan hingga keras.
Axel menebus kepulan asap putih yang berseliweran dalam ruangan luas dengan jejeran meja biliar sepanjang bangunan. Meja biliar itu dikelilingi oleh para penikmat permainan ini.
Akhirnya, ia menemukan dua sahabat yang telah berada di lokasi, asik mematut bola menimbang-nimbang supaya bola itu tepat sasaran masuk ke dalam lubang. Salah satu temannya bernama Dirga mulai menyodokkan stik pada cue ball (bola putih) yang menjadi bidak dalam permainan ini.
"Woi!" Axel menepuk bahu Dirga yang sudah berkonsentrasi penuh menyodok cue ball tadi, membuat bola bewarna putih yang seharusnya menggelinding dengan mulus, tapi malah melompat dan mengenai bok*ng seorang gadis yang berada di meja sebelah.
"Aaawww!" Gadis itu terkejut melihat ke arah bawah, menemukan bola putih yang menggelinding di atas lantai. Dengan wajah mengerut ia menerka pelakunya adalah para bujang yang berada pada meja sebelah.
Dirga menunjuk pada Axel, Adel menunjuk pada Dirga, Hendri menunjuk Axel. Karena dua jari mengarah pada Axel, gadis itu mendekat kepada tersangka utama.
"Aaiih, siapa yang nakal lempar-lempar bola sama aku?" teriaknya dengan jemari di pipi, dan suara diubah mirip anak kecil memegang cue ball yang tadi mendarat di bok*ngnya.
Axel bersama dua kawannya saling bertatapan. Dirga dan Hendri menelan saliva melihat keimutan gadis manis itu. Namun, Axel tak mengubris mengambil bola yang ada di tangan gadis yang telah menatap wajah Axel dengan berbinar.
"Sori," ucap Axel dan menaruh bola bewarna putih tersebut pada meja bewarna hijau yang ada di hadapannya.
"Aaah, yah. Kalau boleh tau, nama kamu siapa?" tanya gadis tadi. Matanya tak teralih sedikit pun dari Axel yang asik sendiri.
"Dirga." Tangannya telah terulur tepat di hadapan sang gadis.
"Hendri." Hendri pun tak mau kalah mengulurkan tangannya pada gadis manis yang terus memperhatikan Axel.
"Sori ya? Tadi sebenarnya aku yang gak sengaja membuat bola itu terlempar mengenaimu," ucap Dirga kembali.
Gadis tadi, langsung memutar kepala melirik pada Dirga yang baru saja mengaku. "Jadi, elu?" Gadis itu membelalakkan matanya siap-siap melayangkan tampolan pada Dirga.
...****************...
Yuhhuuu yuhuuu yuhuuu, ada lagi niih karyan keceh badai dari temen Author ... Tentunya gak kalah seru dari cerita lain yang Author kenalkan. Yuk, ceki-ceki dulu ...
Judul: Miss Jones & Mrs. Badman
Author: Azellea Rensima
Jangan lupa dukungannya yaaah ...
__ADS_1