Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
45. Penggeledahan


__ADS_3

"Apa?"


"Apa?"


"Apa?"


Semua anak buah Arsen langsung terlihat panik dan kabur luntang lantung. Ada yang langsung melompati pagar tinggi yang mengelilingi bangunan rumah sakit membuat suasana area belakang rumah sakit tersebut menjadi caos.


Pasukan polisi berpencar memasuki area rumah sakit tersebut. Ada yang lewat beranda, ada pula yang lewat samping.


Para perawat juga terlihat panik. Para anggota polisi mulai mencari-cari seseorang.


Briptu Gilang, Bharada Jun, Aiptu Leticya turut andil dalam pencarian tersebut. Satu polisi wanita mencoba memasuki bagian emergency. Ia melihat seorang wanita yang sedang ditangani oleh seorang dokter wanita.


Dokter wanita bernama Liani tersebut mengerutkan kening. Ia berjalan dengan gagah melihat kericuhan di rumah sakit ini. "Ada urusan apa pihak kepolisian diizinkan mengganggu fasilitas pelayanan umum ini?" tanya Liani tanpa rasa takut.


"Maaf, Dok. Kami sedang mencari seseorang yang semenjak tadi tak kunjung kembali," terang Leticya.


"Lalu, apa urusan rumah sakit ini jika ada orang-orang masuk tetapi tidak kembali? Jadi, semua orang yang menghilang adalah urusan rumah sakit ini?"


Briptu Gilang muncul langsung memperlihatkan surat tugas yang telah berada di tangannya. "Fasilitas pelayanan dipersilakan untuk tetap berjalan. Kami hanya melaksanakan tugas!"


Liani membaca surat tugas tersebut dan membaca nama yang dicari memiliki jabatan sebagai jaksa pengadilan negeri. "Axel? Sekarang menjadi seorang pengacara? Lalu, apa hubungannya dengan kami?"


"Saudara Axel tengah menyelidiki kasus seorang dokter terduga pada sebuah kasus ilegal. Orang yang ia tolong memberikan informasi mengenai rumah sakit ini. Kebetulan ia menemukan beberapa keganjilan pada rumah sakit ini. Apa Anda melihatnya?" Briptu Gilang kembali menarik surat yang ada di tangan Liani.


Liani menggelengkan kepalanya. Ia berjalan cepat mencari seseorang langsung ke dalam ruang kerja milik direktur utama rumah sakit ini.


Sementara itu, para pasukan dari kepolisian menyisir setiap lokasi yang memungkinkan bahwa orang yang mereka cari sedang disembunyikan di suatu tempat.


Bharada Jun masih jelas mengingat lokasi yang mencurigakan tadi. Ia segera menuju area belakang. Di sana, beberapa pasukan kepolisian terlihat menahan beberapa pria yang menggunakan pakaian serba hitam.


Bharada Jun dengan sigap membuka pintu bangunan tersebut. Namun, pintu itu terkunci membuat Bharada Jun berinisiatif untuk mendobraknya.


Ia mundur beberapa langkah dan saat mengantamkan tubuh pada pintu itu, ia malah terpental. "Sial, pintu dan kuncinya sangat kuat. Tidak bisa diterobos," ringisnya kesakitan.


Bharada Jun mendatangi orang-orang yang telah ditangkap itu. "Mana kuncinya?" bentak Bharada Jun.

__ADS_1


"Sa-saya tidak memegang kunci, Pak," ucapnya gugup.


"Ke mana anggota kalian yang lain?" bentak Bharada Jun kembali.


"Mereka sudah kabur, Pak."


"Ck!"


Bharada Jun memutar otak dengan cepat dan akhirnya menemukan sebuah ide. "Sekarang, kalian semua dobrak pintu itu!"


"Ta-tapi, Pak? Pintu bangunan itu sangat keras," tolak salah satu dari mereka.


"Saya tidak mau tahu!" bentak Bharada Jun.


Di ruangan direktur utama, wajah Arsen menegang mendapati bahwa rumah sakit yang dipimpinnya ini dipenuhi oleh polisi. Liani berdiri di hadapannya, baru saja melaporkan apa yang terjadi.


"Kami dari kepolisian akan menggeledah rumah sakit ini!" Briptu Gilang masuk begitu saja ke dalam ruang kerja Arsen.


"Dalam rangka apa pihak kepolisian diizinkan untuk menggeledah fasilitas pelayanan publik ini?"


"A-Axel—pria tadi yang dibawa anak buahmu adalah seorang pengacara Dokter Diki," bisik Liani ketakutan. Karena ia melihat sendiri apa yang telah dilakukan terhadap mantannya itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


'Jadi, dia lah yang dikatakannya? Ah, sial ... kenapa aku sampai t**idak tahu?' batinnya kesal.


Briptu Gilang berjalan mendekat menyerahkan surat perintah penggeledahan. Arsen membaca isi surat tersebut dengan bibir bergetar dan meremas surat itu lalu melemparnya.


"Kalian tidak berhak menggeledah rumah sakit ini hanya demi mencari orang yang tidak kami kenal!" teriaknya.


"Maaf, jika surat perintah ini sudah turun, maka kami tidak membutuhkan izin untuk melakukan penggeledahan!" Briptu Gilang keluar dari ruangan dan segera melanjutkan tugasnya.


Aziel terlihat ketakutan karena para polisi menggeledah seluruh bagian di ruangan tempat ia dipaksa bermain dengan perawat yang mengasuhnya.


"Mamaaaaaaa ...." Aziel berlari menuju tempat di mana Mila berada.


"Maaaamaaaaa ...." Aziel memanjat brangkar tempat Mila terbaring dan memeluknya.


Mila membalas pelukan Aziel meskipun ia belum kuat untuk bangkit meski sekedar duduk di atas brangkar.

__ADS_1


"Aziel takut, Ma. Aziel takuuut ...." tangisnya memeluk leher Mila.


"Tidak apa, Nak. Polisi tidak jahat. Polisi bekerja untuk menumpas orang-orang jahat." Mila mengusap punggung Aziel.


Aziel masih memeluk leher Mila dengan erat. Hal ini menjadi tontonan Aiptu Leticya, hingga dia tertarik untuk mendekati Mila dan Aziel.


"Apa kalian mengenal Pak Axel? Semenjak tadi ia belum juga keluar dari rumah sakit ini."


"A-xel? Dia ... Axel? Nama itu? Dia kenapa?" Mila mengernyitkan wajah. Jelas sekali matanya melihat bahwa pria itu diseret dengan kejam oleh orang-orang tadi.


Tangan yang tadinya mengusap pundak Aziel, beralih memijit kepalanya. "Aaaggh, kepalaku pusing," ringisnya.


"Kamu kenapa?" tanya Leticya ikut menjadi panik.


Di tempat lain, Bharada Jun bersidekap dada melihat para pria berpakaian hitam mencoba mendobrak pintu bersama-sama.


"Kalau tidak terbuka juga, maka kalian semua akan mendekam seumur hidup dalam penjara!" gertak Bharada Jun.


"Jangan, Pak? Jangan!" ucap mereka ketakutan.


"Satu dua tiga!" Orang-orang tersebut menghantamkan tubuh mereka yang telah kesakitan pada pintu yang kuat itu. Ini sudah kesekian kali mereka melakukannya.


Braaak


Terdengar suara deritan keras dari pintu tersebut menandakan bahwa kuncinya sudah mulai rusak.


"Sekali lagi!"


"Satu dua tiga!" Sekali lagi tubuh-tubuh bongsor itu dihantamkan pada pintu tersebut.


Braaak


Pintu terbuka dan para polisi langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Pria-pria berpakaian hitam itu mulai ketakutan dan berencana akan kabur.


Namun, Bharada Jun telah pasang badan menjadi tembok penghalang. "Mau ke mana kalian?"


Di dalam ruangan tersebut, para polisi membuka pintu satu per satu. Pada pintu terakhir, yakni dalam ruangan yang mirip sekali dengan ruang bedah, tampak Axel terikat pada sebuah kursi. Kepalanya masih terkulai dan ia tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Ikatan tersebut segera dilepas. "Pak? Pak? Apa Anda baik-baik saja?" Pipi Axel ditepuk beberapa kali.


__ADS_2