
Feli tampak berpikir sejenak. Raut wajahnya mengerut masih tidak percaya pada yang dikatakan oleh Yuvi. "Masa sih tulisannya jelek? Ganteng gitu juga? Biasanya orang ganteng tulisannya kan ganteng juga?"
Yubi tertawa terkekeh. "Entah lah Fel ... kamu bisa pinjam sendiri catatan dia."
Beberapa waktu mereka ngobrol, tiba-tiba hatinya merasa ada yang hilang. Yuvi tiba-tiba kangen dengan pesan dari seseorang. Hal ini membuat rautnya yang tadinya ceria kini berubah murung, tertangkap oleh Feli.
"Kamu kenapa?"
"Ah, enggak." elak Yuvi.
Namun, Feli yang diam-diam memperhatikan Yuvi, jelas sekali mengetahui perbedaan sikap sahabatnya ini. Yuvi terlihat tidak bisa berkonsentrasi dengan obrolan di antara mereka berdua. "Kamu kenapa sih? Ada sesuatu?"
"Ah, enggak ... tiba-tiba aku pengen eskrim," ucapnya asal.
Feli teringat sesuatu. "Aku udah lama gak main ke rumahmu. Gimana kalau kita ke sana?"
"Hmmmfff ... di rumahku ada orang menyebalkan. Mending nggak usah."
"Ayo lah, masa kamu larang-larang aku main ke rumahmu?" Feli bersiap sejenak lalu menarik Yuvi berjalan kaki ke rumah sederhananya.
"Assalamualaikum, Bu?" Yuvi celingak celinguk memanjangkan leher.
__ADS_1
"Walaikumsalam." balas ibunya.
"Mbak April udah pulang, Bu?" Yuvi mencium tangan sang ibu diikuti Feli.
"Udah ... Mbakmu lagi istirahat kayaknya kecapean pulang kerja."
"Ibu apa kabar? Sehat aja kan?" tanya Feli usai salim dengan ibu sahabatnya.
"Iya, alhamdulillah ibu sehat aja. Wah, ibu denger kamu mau kuliah ya? Moga nilai tes nya nanti bagus."
"Aaamiiin, makasi Bu.:
Yuvi menarik tangan Feli. "Kamu duduk dulu di kamarku sejenak ya? Aku mau buat minuman dulu sejenak."
Feli masuk ke ke dalam kamar itu, dan menemukan sesuatu di atas meja belajar Yuvi. Karena penasaran, dia membuka amplop yang berada di atas meja sabatnya ini.
Saat membuka dan mulai membaca isi surat tersebut, mata Feli membelalak dan roma wajahnya menjadi merah padam. Ia melirik ke arah pintu kamar, Yuvi masih belum terlihat.
"Jadi ini ... surat dari Zaki?" desisnya.
"Fel, ini Ibu lagi bikin tela rebus, makan yuk—" Yuvi terpernajat saat melihat lembaran kertas yang ada di tangan Feli.
__ADS_1
"Fel, ini tidak seperti yang kamu pikirkan!"
Feli masih membisu membaca isi surat yang ia dapat dari Zaki. Yuvi segera merebut dan meremuknya. Feli menatap nanar sahabatnya itu.
"Jadi, apa jawabanmu padanya?"
"Ooh, aku nggak jawab kan? Kan katanya kalau setuju aja kasih tau dia."
"Bohong!" suara Feli semakin tinggi.
"Sumpah! Aku tidak bohong! Aku tidak suka padanya! Aku udah punya pacar kok."
Feli tersenyum sinis. "Pacar? Katamu pacar? Begitu rupanya? Apa arti hubungan persahabatan kita bagimu? Diam-diam kamu pacaran dengan cowok yang aku suka."
"Apa maksudmu? Dulu kamu selalu nyinyir saat aku bilang suka sama Zaki. Kamu sindir mengatakan kamu gak level suka sama adik kelas. Kiranya kamu malah ... diam-diam—" Feli membuang mukanya.
"Stop! Aku harap kamu berhenti dulu menyimpulkan semua!" Yuvi menyela ucapan Feli.
"Bukan dia yang jadi pacarku." Yuvi mencoba untuk membela diri.
"Lalu, siapa pacarmu itu? Kenapa tidak pernah cerita apa-apa padaku?"
__ADS_1
"Ooh, aku ... bingung juga mengatakannya. Soalnya, dia jauh."
"Bohong!" bentak Feli.