Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
26. Sengaja Menjebak Arsen


__ADS_3

Axel pun keluar setelah merasa tidak nyaman dengan aroma tersebut. Ia maeraup aroma udara lepas yang segar memasukannya lewat rongga hidung hingga memenuhi paru-paru. Setelah merasa lega, satu tangan Axel berada di pinggang, yang satunya lagi menggaruk pelipisnya meskipun ia tidak merasa gatal.


Setelah berpikir beberapa waktu, Axel membuka kan pintunya. Ron pun segera turun dengan wajah kuyu yang masih tampak putih.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Ron menautkan kedua tangannya, mengangguk pelan. "Maaf, Pak. Aku mengotori mobil Anda."


Axel tidak bisa berkomentar banyak hanya menganggukkan kepala. "Semua itu masih bisa dibersihkan."


"Biar aku yang mencucinya, Pak. Aku akan membuatnya menjadi wangi kembali," ucap Ron merasa bersalah.


Axel menepuk lengan Ron  tersenyum tipis. Beni pun  telah berada dekat di sini mereka melirik Ron yang memasang wajah bersalah.


Bagaimana pun, ia merasa tidak kuat mencium aroma muntah tersebut. Mereka semua mulai memikirkan cara yang harus dilakukan setelah ini.


*


*


*


"Kenapa diam saja?" Dua orang yang duduk di belakang kendaraannya pun membisu. Arsen melirik mereka lewat spion depan. Tampak Mila masih melongo duduk di samping Aziel. Aziel telah terikat dalam car seat yang sengaja disiapkan untuknya.


"Kau pikir, aku ini supirmu? Aku yang yang nyetir, kamu duduk di sana sebagai Nyonya?"


Arsen melirik kembali lewat spion depan kendaraannya. "Cepat jawab!" bentaknya lagi merasa geram.


Tubuh Mila sejenak tersentak mendengar suara keras itu di dalam ruang sempit itu. Matanya mengernyit dan jantungnya berdebar dengan sangat cepat.


"Biasanya kan aku duduk di sini, Pak?" Setengah berbisik hampir tak terdengar.


"Mulai hari ini, kamu harus pindah!" Kepala Arsen bergerak memberi kode agar Mila duduk di sampingnya.


Namun, Mila masih mematung mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Arsen.


"Malah bengong? Buruan!"

__ADS_1


Kedua pundak Mila kembali bergetar. Dengan perasaan ragu, ia membuka pintu untuk keluar dan membuka pintu di samping sang pengemudi. Mila pun masuk dan duduk dengan gerak kaku bagai robot.


Arsen tersenyum tipis, tanpa sempat disadari oleh Mila. Ia memiringkan tubuh tepat di depan Mila menarik sabuk pengaman. Mila membuang muka dan menundukkan wajahnya. Ia merasakan ketakutan hebat hingga membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang.


Arsen memasang sabuk pengaman untuk Mila. Setelah itu kendaraannya dinyalakan memastikan Aziel sudah aman di bangku pengaman untuknya sendiri.


"Papa, Aziel kan tidak mau duduk sendiri? Aziel mau duduk sama Mama."


"Kamu diam dan duduk dengan tenang!"


Mulut Aziel maju membulat menatap Mila yang menoleh kepadanya. Mila memberi kode menganggukkan kepala. Aziel pun menganggukkan kepalanya  meski mulutnya masih membulat.


"Anak hebat!" bisik Mila kepada Aziel.


"Karena beberapa waktu gagal memeriksa keadaanmu, maka aku putuskan hari ini saja kamu memeriksakan kehamilanmu." ucap Arsen sembari melaju meninggalkan halaman mansion yang luas itu. Saat ia telah keluar, pintu gerbang rumah tersebut menutup dengan sendirinya.


Sekitar pagar mansion tersebut, telah berdiri beberapa orang yang menggunakan pakaian serba hitam dan kaca mata hitam. Orang-orang tersebut dilarang masuk ke area halaman rumah demi kenyamanan orang-orang yang menghuni mansion tersebut.


"Apa Bapak sudah menemukan siapa keluarga saya? Siapa suami saya? Dan, siapa saya sebenarnya?" Mila kembali memeluk perut dengan kedua tangannya.


"Apa itu masih perlu? Aku rasa suamimu telah meninggal dunia. Atau, bisa jadi kamu sengaja dibuang oleh suamimu ke laut."


Arsen tersenyum sinis. "Apa yang kamu pungkiri? Karena semua itu bisa saja terjadi."


Mila merasakan getaran-getaran syahdu dari dalam rahimnya. "Aku yakin, suamiku sangat mencintaiku. Dia pasti orang yang sangat baik."


Arsen merasa sedikit kesal mendengar ucapan Mila barusan. "Kita lihat saja! Jika memang dia mencintaimu, dia pasti tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukanmu."


Mila membuang muka memilih untuk menatap memandangan di luar sana. Di dalam benaknya, terlintas sebuah wajah yang beberapa kali terakhir dilihatnya. Pria yang membuat jantungnya berdebar tak tahu karena alasan apa. Pria yang telah memulangkan Aziel, tetapi malah dituduh oleh Arsen dan anak buahnya.


Apakah aku masih bisa bertemu dengannya lagi? Ah, aku kenapa? Mengingatnya saja, membuat jantungku berdebar tidak karuan.


*


*


*

__ADS_1


Axel, Ron, dan Beni saat ini sedang berada di pencucian mobil. Ia memilih untuk membersihkan kendaraannya ini.


"Sekali lagi, maafkan saya, Pak." Ron tertunduk malu dan merasa bersalah


"Iya, tidak apa. Sepertinya saya juga salah membawa kendaraan dengan ugal-ugalan tanpa memikirkan apa akibatnya."


Tiba-tiba, paha Axel tergelitik merasakan getaran pada ponselnya. Ia segera merogohkan tangannya menatap nama yang tertulis pada layar pipih tersebut.


"Briptu Gilang?" Ia segera menarik tombol berwarna hijau. "Bagaimana Briptu Gilang? Apakah berhasil menangkap mereka?"


"Gerakan mereka sangat cepat, saya kehilangan mereka." ucap seseorang di seberang panggilan.


Pandangan Axel mengawang dengan seketika. "Baik lah, saya memiliki sedikit urusan. Setelah itu saya akan melanjutkan pencarian. Karena mereka sedang membawa adik dari anak bernama Beni."


"Saya akan menaikkan laporan ini kepada atasan. Semoga saja perintah tugas pencarian, turun dengan segera."


Panggilan pun ditutup. Bola mata Axel mengambang menatap langit yang terlihat semakin kelabu. "Sepertinya, aku tahu tujuan mereka." Tangannya tergenggam erat. Namun, ia belum bisa bergerak karena harus menunggu agar kendaraannya ini selesai dibersihkan.


*


*


*


Pada sebuah rumah sakit, Liani menatap Mila dari ujung rambut hingga ke bagian perutnya. Wajahnya terlihat tidak ramah. Napasnya dihembuskan ke atas dengan kasar, membuat poninya sedikit terangkat. Kedua tangannya dilipat, menyandarkan diri pada kursi kerja yang bisa membuatnya berputar. Kakinya terangkat dan menyilang, sorot netranya pun tampak nyalang.


"Saya tidak menyangka kamu sebegitu murahan untuk mendapatkan Dokter Arsen?"


Mila tersentak gugup mendapat cecaran dari dokter spesialis kandungan ini. Mila diantarkan dengan begitu saja kepada Liani. Setelah itu, Arsen menghilang tanpa pamit membawa Aziel.


"A-apa maksud Dokter?"


Baaak


Liani memukul meja yang ada di depannya. Rasa marah dan cemburunya membuat ia lupa, bahwa saat ini jas putih dan stetoskop sedang melekat pada tubuhnya. "Jadi kamu sengaja, menyerahkan diri merayu Arsen? Setelah mengaku hamil, kamu akan menuntutnya untuk menikahimu dan menguasai semua harta miliknya?"


Mila menggeleng cepat. "I-ini bukan anak Pak Arsen, Dok."

__ADS_1


Liani mendengkus tertawa sinis. "Apa? Bukan anak Dokter Arsen? Lalu kau sengaja hamil untuk menjebaknya agar mau menjadi ayah bagi anak harammu itu?"


__ADS_2