Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
79. Ditinggal Sendiri


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, di malam syhahdu ... dua insan tengah memadu kasih lebih leluasa di rumah baru.


Aziel tidur terpisah di kamarnya sendiri. Hingga kali ini mereka tak terganggu lagi saat saling mencumbu.


"Hati-hati!" ringisan diantara des*han menemani malam panjang mereka.


"Nanti, gimana kalau udah besar ya? Gaya apa yang harus aku pakai?" Axel masih sempat menggoda istrinya, sehingga rona kemerahan yang sendu itu, menjadi tampak semakin menggairahkan.


"Sebenarnya aku ingin sekali merasakan pacaran dulu denganmu. Tapi, ternyata ... ini sangat topcer membuatmu langsung mblendung begini."


"Ngamong apa sih kamu? Bikin malu aja."


Axel menyumpal mulut sang istri dengan kecapan-kecapan terdengar saling taut dan saling lepas.


"Huwaaaa ... Mamaaaa ... Maaamaaa? Kenapa Aziel ditinggal sendiri?"


Teriakan Aziel terdengar menggema begitu saja dari kamar sebelah. Hal ini membuat Yuvi bangkit dengan seketika.


"Eiit, kamu nggak boleh ke mana-mana! Aku belum selesai." Axel menahan wanita yang berada di bawahnya untuk tidak bergerak.


"Itu Aziel ... kasihan!"


Axel memasang wajah kesal menatap pintu. "Tunggu ... aku selesaikan dulu."


Axel mempercepat gerakan, sementara suara tangisan dari kamar sebelah juga semakin kencang.


Lampu-lampu rumah tetangga yang ada di sekitar rumah mereka pun satu per satu mulai menyala. Leher mereka mamanjang mengintip lewat jendela.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


"Maaaamaaaa ... Paaaapaaa ...."


Terdengar suara gedoran dari arah pintu sekaligus tangisan kejer Aziel. Membuat Axel kalang kabut mempercepat dan menyelesaikan permainannya.


Setelah selesai, mereka berdua terburu-buru memasang pakaian. Yuvi membuka pintu tersebut melihat air mata dan air hidung memenuhi wajah Aziel.


"Duh, kamu kenapa? Kok nangis?"


Aziel segera menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Yuvi. "Aziel takut bobok sendirian."


Aziel melepaskan pelukannya. "Sekarang Aziel kan terbiasa bobok sama Mama." Aziel melirik Axel yang menggaruk kepala mondar-mandir, dengan raut sedikit mengerut.


"Ini gara-gara Papa Axel nih? Mama Mia dikurung terus sama Papa Axel." Aziel membulatkan bibirnya melirik Axel di ujung mata.


Axel semakin menggaruk kepala melihat tingkah Aziel. Akhirnya ia memilih keluar kamar mencari minum.


"Sudah ... jangan nangis lagi. Ayo bobok lagi."


Aziel memperhatikan tampilan Mama Mila dengan seksama. "Mama, rambut Mama kok gak disisir?"


Yuvi merenung sejenak. Ia langsung menggulung rambut dan menyanggulnya dengan asal. "Namanya orang tidur, rambutnya bisa ke mana-mana," jawabnya kikuk.

__ADS_1


Aziel memegangi rambutnya. "Aziel tidur, tapi gak berantakan kok?"


Yuvi tertawa kikuk, tatapannya tidak fokus memikirkan alasan selanjutnya.


"Rambut Aziel kan tidak sepanjang rambut Mama. Rambut Papa juga nggak kusut, nih!" Axel menyela memamerkan rambutnya.


"Huh, Aziel nggak nanya sama Papa Axel. Pokoknya Mama Mila bobok sama Aziel." Aziel menarik Yuvi kembali ke kamarnya membiar kan Axel sendirian.


Axel memasang wajah melas tidak rela ditinggal sendirian. Ia ikut masuk ke kamar Aziel merebahkan diri memeluk istrinya dari belakang.


"Maa, sempit," sungut Aziel di atas ranjang single yang mereka tempati bertiga.


*


*


*


"Berita hari ini, tersangka kasus penjualan organ dari oknum kesehatan telah sampai di tanah air. Tersangka akan dibawa ke Lapas Kelas II A di Kota C. Tersangka akan dibawa langsung dari bandara dengan pengamanan ketat ..." Televisi dimatikan.


Pria beserta beberapa anggota lain berpakaian hitam merapikan sarung tangan dan memasang penutup wajah. Beberapa senjata laras panjang dan senapan telah melekat pada tubuh mereka.


Dengan aba-aba anggukan tanpa suara, mereka berlari kecil masuk pada sebuah kendaraan berbodi kuat, anti peluru, dan tahan banting.


"Semuanya pegangan yang erat! Kita akan membebaskannya!" ucap seseorang yang duduk pada bangku kemudi.


"Baik."

__ADS_1


__ADS_2