Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
112. Paket Gratis


__ADS_3

Yuvi terduduk lemas di atas ranjang dipannya. Hatinya sungguh merasa perih. Sang Ibu keluar dari kamar membiarkan Yuvi sendirian.


"Bagaimana ini, Mas? Apakah mungkin kita bisa bersatu?" Yuvi menatap ponselnya yang masih dalam keadaan mati.


*


*


*


"Semoga selamat sampai tujuan!" ucap Axel setelah melakukan pemesanan benda elektronik mewah via e-commerce teruntuk sang pujaan hati yang dirindukan.


Selama seminggu ini, ia disibukkan bekerja sebagai freelancer di kantor ayahnya, demi membelikan sang pujaan hati, ponsel terbaik yang saat ini sedang trending.


"Setelah ini, tak ada lagi alasan dia menolak  videocall-ku dengan alasan takut kelamaan bayar warnet."


Sudah beberapa hari ini dari pagi ke pagi ia sibuk mengerjakan tugas lepas yang diberikan sang ayah. Beliau memberikan pekerjaan mengurusi bidang hukum dan surat-menyurat anak perusahaan yang baru dibuka oleh orang tuanya itu.


Saat malam hari, ia mengerjakan skripsinya yang hampir rampung. Namun di sela pekerjaan, Axel mencoba menghubungi sang kekasih, tetapi akhir-akhir ini, kontak itu tak pernah aktif lagi.


Axel berpikir bahwa ponsel kekasihnya itu rusak total. Sehingga membuatnya mempercepat memberikan kejutan bagi sang kekasih.


Axel memandangi foto sosial media yang katanya hanya hasil comotan. Padahal, di dalam foto profil itu memang dia. Ia mengusap foto yang diperbesarnya merasa gemas.


"Si bocah malah bohong segala? Masa aku gak kenal kamu? Wajah ini terus kena tag oleh kawan-kawanmu."


Tiba-tiba, profil gadis itu mendapat tag yang baru. Bunyi caption dari orang yang menandainya pun membuat Axel panas.


Katanya nggak suka? Ini kok berdua?


Di dalam foto tersebut tampak foto jarak jauh seorang siswa laki-laki sedang memegang sesuatu, melakukan sesuatu di punggung kekasihnya.


"Mereka ini lagi ngapain? Jadi, karena itu dia sengaja ganti nomor handphone, makanya gak pernah aktif lagi."


Axel kembali melirik ponsel yang baru saja ia pesankan untuk sang kekasih.


*


*


*


Telah satu minggu Yuvi tak menemukan sim-card ponselnya. Saat ini ia memang telah membeli sim-card yang baru. Hanya saja, ponsel kecilnya itu tidak memiliki fitur menyimpan kontak di memori ponsel.


Sehingga, saat kartu sim ponsel itu menghilang, maka ... semua kontak turut menghilang. Yuvi merenung memandangi ponselnya yang telah sepi mirip kuburan.

__ADS_1


"Kangeeen," gumamnya memasang wajah sedih.


Ketika mengecek keuangan, ia baru menyadari bahwa semenjak pengumuman kelulusan, orang tuanya sama sekali tidak memberikan uang saku. Karena, semejak kecil peraturannya sudah seperti itu. Uang saku hanya diberikan di saat sekolah saja. Jika sudah libur, maka uang untuk jajan pun ikut diliburkan.


"Gak tau harus bagaimana lagi. Yuvi kangen banget."


Perlahan, ia beringsut ke kamar kakaknya. Setahunya tadi, sang kakak sudah pergi bekerja. Ia mulai bergerilia mencari sesuatu, berharap ponsel saudaranya itu tertinggal karena sebuah keajaiban."


"Nah ... ini!"


Yuvi sumringah menemukan benda elektronik pipih di dalam laci di dalam kamar kakaknya. Dengan segera ia mencoba membuka kunci layar ponsel saudaranya itu.


"Aaah ... siial ... pakai pasword." Yuvi menggaruk pelipis memikirkan apa yang harus dilakukan untuk membuka layar ponsel kakaknya.


Pertama, ia mencoba menggunakan tanggal kelahiran, ternyata tak berhasil.


Kedua, ia mencoba merangkai sendiri secara random, tak berhasil juga.


Kesempatan terakhir. Ia mencoba menggunakan nomor lebih random lagi, dan ternyata ... ponsel terblokir.


"Hah? Gawat nih ... waduh ... ketahuan nggak ya?" Yuvi segera memasukan kembali benda pipih milik kakaknya itu ke dalam tas.


"Ekhem ..."


"Kamu ngapain?" bentak sang kakak.


Yuvi memutar bola matanya melongo. "Engga ... nggak ngapa-ngapain. Hanya lagi nyari Mbak aja. Tadi aku pikir Mbak udah berangkat kerja."


"Ooh, hapeku ketinggalan. Aku jemput lagi." Ia meraba-raba laci, tempat ia menyimpan ponselnya.


Yuvi beringsut dengan perlahan menuju pintu. Ia tersenyum kikuk dan terus beringsut tanpa mengatakan apa pun dan berhasil keluar dari kamar sang kakak.


"Wooii ... katanya mau cari aku? Kenapa malah kabur wooii?"


Yuvi segera masuk ke kamarnya, menutup pintu dan menguncinya.


"Ni anak semakin mencurigakan," gumam sang kakak, ia telah menemukan ponselnya. Ia melirik ke arah luar dengan kening berkerut. Dan mencoba menyalakan ponsel.


Ponsel terblokir, hanya bisa dibuka lewat finger print. April segera tahu apa yang baru saja dilakukan adiknya. Dengan segera keluar menggedor pintu.


"Kamu diam-diam mau pakai hape aku ya?" teriaknya. "Ternyata kamu butuh aku juga? Tapi kalau dibilangin selalu ngeyel."


Yuvi tidak menjawab ucapan saudaranya itu. Lidahnya keluar sebagai jawaban atas cecaran sang kakak.


Pada sore hari, gadis itu mengalihkan pikirannya dengan mencoba mencoba membuka-buka buku bahasa yang dipinjamkan oleh sang ibu dari tetangga.

__ADS_1


"Kayaknya, aku jadi kerja di Hongkong aja deh, biar bisa jadi kaya." Gumamnya mempelajari bahasa kanton.


"Pakeeeett ..."


Yuvi mendengarkan suara panggilan itu.


"Ah, palingan rumah tetangga. Di sini mah, nggak akan ada yang punya duit buat mesan-mesan online. Nanti setelah jadi orang kaya, mungkin tiap hari ada paket yang datang," gumamnya terkekeh.


"Pakeeeet ...."


Terdengar suara pintu rumah dibuka. "Paket, Bu ..." ucap seseorang di luar. Yuvi hanya mendengarkan.


"Mungkin salah alamat, Dek. Di rumah ini nggak pernah ada yang beli seperti itu." Terdengar suara ibu yang berbicara.


"Paket ini atas nama Yuvita Antarina, Bu. Saat saya mencoba menghubungi kontak yang tertera, tetapi tidak masuk juga."


Raut Ibu mengerut. Ia melirik pintu yang terkunci. "Yuvi, kamu memesan apa?"


"Nggak, Bu. Suruh balikin  aja. Mungkin salah alamat. Lagian mana mungkin aku mesan-mesan begituan?" Yuvi mengintip dari celah pintu yang dibuka kecil.


"Tapi ini paketnya atas nama Yuvita Antarina. Atas nomor kontak 08xxxxxxxxx."


Yuvi berpikir kembali. "Itu memang nomorku sih. Tapi itu kan udah hilang." Lalu dia terkejut.


"Jangan-jangan ada yang mengerjai aku? Pak, bawa lagi aja? Aku gak pernah mesan-mesan yang seperti itu." Yuvi menarik ibunya dan mendorong kurir keluar.


"Tapi, Dek?"


"Aku nggak punya uang buat bayar-bayar kayak gitu. Ini pasti ada yang sengaja usil." Yuvi hendak menutup pintu rumahnya panik.


"Tapi, ini sudah dibayar, Dek."


Kekisruhan Yuvi terhenti secara spontan. Tiba-tiba senyuman telah merekah di bibirnya. "Udah dibayar? Jadi ini gratis?" Yuvi membuka kembali pintu rumahnya itu dengan lebar.


"Iya, ini sudah lunas. Makanya saya harus mengantarkan ini tepat sasaran. Biasanya kalau COD jika kontak nggak masuk, maka akan saya batalkan aja."


Mulut Yuvi membulat menerima benda tersebut.


"Ayo foto dulu, bukti barang sudah sampai," ucap kurirnya.


"Oh, oke ..." Yuvi berpose dengan bermacam gaya, gaya dua jari sambil memegangi kotak. Gaya jempol, dan gaya sok imut.


Foto-foto laporan itu pun telah sampai pada orang yang mengirimkan benda tersebut. Namun, orang yang memesankan benda itu hanya menanggapi dengan wajah datar.


"Ck, ternyata dia begini," gumam Axel.

__ADS_1


__ADS_2