
*Beri vote dong Kakak, biar semangat lanjutin nulis ini 😮💨
Saat Axel mencari kembali dua sosok gadis belia itu, ternyata bayangan mereka telah hilang.
"Hmmmff, konon memang banyak sekali WNI yang berada di sini. Ada yang berkuliah, ada yang bekerja sebagai TKI, dan ada yang sekedar jalan-jalan ke sini. Orang Indonesia memang sedang berkiblat ke sini beberapa tahun terakhir. Jadi, ku pikir memang wajar ada WNI di sini." Axel menghela napas panjang lalu meninggalkan tempat itu.
Di sisi lain, seorang gadis tengah mengintari pandangannya, mencoba mencari sosok laki-laki yang terus menatapnya. Hal ini tentu membuat Mili terheran melihat tingkah Yuvi.
"Kamu ngapain sih? Kita udah ke sini, ayo ke tempat lain!" ucapnya.
"Tadi ada cowok ganteng banget," ucap Yuvi masih melongok ke kiri dan ke kanan.
"Cowok sini memang ganteng-ganteng kan?" ucap Mili mengalihkan pandangannya pada kelompok laki-laki muda yang berjalan bergerombolan.
"Tapi dia lebih ganteng dibanding cowok sini," gumam Yuvi, memasang raut kecewa menatap Mili. "Gara-gara kamu nih, aku kehilangan dia," celetuknya.
"Loh? Kok aku yang salah? Kita ke sini kan buat jalan-jalan, bukan buat nangkap cowok Korea kan? Kalau mau nangkap, kita tangkap bangtan atau NCT aja sekalian. Hayu aah, aku juga akan semangat kalau itu, mah." Mili menarik tangan Yuvi dan mereka berpindah lokasi.
Pada malam hari, di sebuah hotel, Yuvi tak bisa tidur karena teringat kembali akan wajah pria yang tadi terus menatapnya tanpa henti. "Duh, apa yang aku pikirkan? Kenapa cowo Korea malah aku panggil Mas? Tapi, dia bener-bener mirip Mas Axel. Bagaimana kabarnya saat ini?" gumamnya menatap ponsel.
Di dalam layar itu, tertera nomor kontak Axel terakhir dihubunginya. Namun, kontak itu tak bisa dihubungi sama sekali.
"Ah, kenapa juga mikirin dia? Dia kan sudah memutuskan hubungan denganku. Bahkan, dia mengganti kontak untuk menghindariku. Ayo lah, Yuvi! Kamu harus move on! Masih banyak ikan di laut sana!"
Yuvi menarik selimut hingga seluruh tubuhnya benar-benar tertutup.
Keesokan hari, Yuvi dan Mili melanjutkan destinasi wisata mereka. Namun, kali ini Yuvi tak lagi sesemangat beberapa hari pertama perjalanan mereka. Semalaman ia tidak bisa tidur, karena kenangan SMS-an, masa bermain game, dan video call bersama Axel kembali bergulir dalam ingatannya.
"Yuvi, ayo lah! Kita belum ke sana! Di menara itu, katanya kita bisa memasang nama seseorang yang kita cinta, lalu kita kunci pakai gembok," ucap Mili menarik Yuvi yang terlihat lesu.
"Ah, Namsan Tower? Aah, yaa ... Aah, sekarang ya? Tapi, aku sangat mengantuk," ucap Yuvi tidak bersemangat.
"Haduuh, jangan tidur lagi! Masa jauh-jauh ke sini cuma buat tiduran?" desak Mili yang terus menarik Yuvi.
Sementara itu, pada sebuah ruang perkuliahan di kampus yang ada di Kota Seoul, seorang dosen baru saja mengakhiri perkuliahan.
"That's all for today's material, Have a nice late spring day in this country and good afternoon." (Baik lah, materi hari ini kita akhiri. Selamat menikmati musim semi
__ADS_1
Kebanyakan mahasiswa di kelas ini memang masih warga lokal negara ini. Mereka berdiri lalu membungkukkan tubuh. Axel turut melakukan hal yang sama, karena memang begitu lah budaya negara yang ia tempati selama satu tahun terakhir ini.
Ia harus mengejar kelas yang padat selama menempuh kelas hukum internasional selamat dua tahun. Hingga hari ini berarti masih menyisakan satu tahun lagi untuk berada di Seoul.
"Axel, kami akan menuju Namsan Tower. Apa kau mau ikut?" Ajak salah satu mahasiswa yang ikut kelas internasional bersamanya.
"Oh, sure," ucap Axel setuju.
"Kita harus menikmati masa-masa terakhir musim semi tahun ini. Setelah dari sana, kita akan ke Festival Bunga di Yeouido." ucap kawannya itu.
"OK, looks like fun," ucap Axel.
Lalu beberapa anggota mahasiswa internasional yang terdiri bermacam negara itu, mengikuti Bae Nana, mahasiswi lokal yang berada di kelas sana. Bae Nana menawarkan diri menjadi Guide bagi mereka.
"Oh ... Axel-ah, ajig namsantawo-e kkoj-eul salang-ui jamulsoega eobs-eusingayo?"
Axel terlihat nge-blank mendengar hangeul (Bahasa Korea) yang dibawa oleh Bae Nana. Ia belum terlalu fasih memahami bahasa lokal.
"Oh, maaf. Saya pikir kamu sudah memahami bahasa sini," ucap Bae Nana dalam Bahasa Inggris.
Axel memberi kode isyarat antara telunjuk dan jempol dengan celah kecil menyipitkan matanya. Karena memang, selama berada di negara ini, ia tidak terlalu banyak bergaul dengan masyarakat lokal.
Jika ada bahasa yang tidak ia pahami, ia memilih diam dan tidak memberikan reaksi apa pun.
"Tadi, aku menanyakan, apakah kamu memiliki gembok cinta yang akan ditautkan pada pagar Namsan Tower?" tanya Bae Nana.
"Aah, ternyata begitu? Jadi, harus menggunakan gembok cinta?" balasnya dalam Bahasa Inggris juga.
"Tentu saja. Di sini, kami percaya bahwa cinta para pasangan akan terkunci untuk selamanya, jika dikunci di sana." terang Bae Nana.
"Oh, begitu. Baik lah," ucap Axel.
"Kecuali kalau kamu memang belum memiliki pasangan. Kamu tidak perlu melakukan hal itu," tamhah Bae Nana lagi.
Axel mengangguk. "Gamsahabnida."
Akhirnya pada sore hari, Axel memandangi kota Seoul dari menara ini. Ia memandangi semuanya dengan wajah datar.
__ADS_1
"Bro, kenapa kamu terlihat tidak menikmatinya?" tanya Brade, sesama pengikut kelas internasional yang berasal dari Eropa.
"Ah, bukan begitu."
"Lalu, apa yang kamu pikirkan?" tanya Brade kembali.
Axel tersenyum kecut dan menggeleng tipis. Suasana kota ini terlihat cukup semerbak bewarna-warni.
'Seandainya ada kamu di sini, aku pasti akan bahagia menikmatinya berdua denganmu. Atau, paling tidak aku bisa memperlihatkan semua ini padamu meski via video call. Namun, sepertinya hanya aku sendiri yang memiliki mimpi seperti itu.'batin Axel.
"Vi ... Vi ... Di sini! Ayo kita tautkan gemboknya di sini!"
Lagi-lagi, bahasa yang sangat dikenalnya itu membuat pria Indonesia ini refleks memutar kepalanya. Seorang gadis berjalan dengan sangat riang mendahului seorang gadis berambut panjang yang berjalan lesu. Rambutnya sampai menutupi wajah karena gadis rambut panjang itu terus berjalan menunduk tak bergairah.
"Ayo lah, Yuvi! Kamu udah tulis nama cowok yang kamu suka belum? Aku udah nih, tinggal dipasang aja," ucap gadis yang sangat bersemangat tadi.
Mendengar sebuah nama 'Yuvi' membuat Axel menoleh mencoba memperhatikan gadis yang lesu itu.
"Bro!"
Axel dikagetkan oleh sebuah tepukan pada pundaknya.
"Kau melihat siapa?" tanya Brade ikut menoleh pada sosok yang diperhatikan oleh Axel.
Axel menggelengkan kepalanya merasa malu ketahuan memperhatikan orang lain. "Bukan apa-apa jawabnya singkat."
"Ayooo, Vi! Buruan!" ucap gadis yang sedari tadi mengoceh menunggu temannya yang bergerak macam siput.
"Nah, aku udah memasang gemboknya, sekarang kuncinya mau aku buang!" Gadis itu terlihat mengambil ancang-ancang dan melempar kunci tersebut sejauh yang ia mampu.
"Sekarang giliranmu, Yuvi!"
Degh
Jantung Axel tersentak mendengar jelas nama itu disebutkan oleh gadis yang lain.
"Bro! Masih ingin di sini?" tanya Brade.
__ADS_1
Axel kembali menggelengkan kepala. "Ayo pergi!" ucapnya. Mereka sepakat untuk pergi dan mulai menuruni anak tangga.
"MAAAASSS! AKUUU KANGEEEEEN!"