Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
119. Putus dan Pergi


__ADS_3

Axel mencoba melirik ke belakang. Memang terlihat ada salah satu mahasiswi adik kelas terus senyum-senyum kepadanya.


"Ya, biarkan saja. Orang di sini mahasiswanya kan banyak banget."


📲"Tapi dia senyum-senyum sama calon suami aku nan ganteng ini? Ini sungguh tidak bisa dibiarkan. Tolong kasih ke dia, aku mau ngomong sama dia."


"Eh, kamu mau apa?" cegah Axel.


📲"Aku mau melabrak pelakor. Nanti kalau dibiarin malah malah makin berani."


Axel mengerutkan keningnya kembali. "Kamu ngomong apa sih? Udah ah, aku mau ketemu dosen pembimbing dan penguji dulu."


📲"Mau ngobrol dengan dia kali?" sungut Yuvi.


"Ih, kamu nih? Belum apa-apa udah kayak gini. Harusnya kamu kasih semangat, bukan bikin rusuh kayak gini, di waktu aku mau ujian penentuan."


📲"Ya udah, moga sukses komprenya." Panggilan pun ditutup duluan oleh orang yang di seberang. Axel termangu mengerjapkan mata beberapa kali.


Dia menghela napas dan menggelengkan kepala. "Oke ... tenang Bro ... harus tenang! Sekarang harus fokus dulu!"


Meskipun tiba-tiba menjadi blank gara-gara si pacar bocah baru saja berulah. Ia segera menyandang tas dan melewati adik kelas yang terus memperhatikannya sedari tadi.


Axel mendapat pengarahan oleh dosen pembimbing. Dengan seksama ia memperhatikan dengan baik. Lalu, tak lama kemudian ia mulai menampilkan hasil penelitian tugas akhir sebagai mahasiswa.


Selama satu jam ia dijajar dengan cecaran pertanyaan dari temuan dosen penguji mengenai hasil karya ilmiah yang ia tulis. Dengan percaya diri ia menjabarkan secara detail hasil temuan yang ia dapatkan.


"Nah, pertanyaan yang terakhir. Ini karena Anda membahas mengenai Penyelidikan oleh Inteligen Kejaksaan Terhadap Kasus Tindak Pidana Korupsi."


"Seperti yang kita ketahui, saat ini negara kita sudah  memiliki KPK untuk menindaklanjuti penyelidikan kasus korupsi. Kenapa Anda mengambil judul bahwa jaksa juga memiliki wewenang untuk menindak tersangka korupsi?"


"Karena semenjak 1983, Kejaksaan telah memiliki wewenang sebagai penyidik, tertera dalam Pasal 284 ayat (2) jo Pasal 17 Peraturan Pemerintah Nomor 27 yang menyebutkan bahwa jaksa mempunyai wewenang untuk melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu (menurut ketentuan khusus berdasarkan peraturan perundang-undangan). Ini termasuk pada kasus korupsi."


"Kita semua tahu, tindak kasus korupsi ini telah terjadi jauh hari sebelum berdirinya KPK yang baru diresmikan pada akhir tahun 2003."


"Pada masa sebelum KPK didirikan, maka yang bertindak dalam menangani kasus korupsi, termasuk penuntasan kasus 1998, adalah tugas kejaksaan."


"Sementara, saat kasus korupsi memang sebagian besar sudah berpindah alih tugas ke tangan KPK. Hingga saat ini, hubungan kerja sama antara Kejaksaan dengan KPK masih sangat baik, ketika menangani masalah korupsi ini. Jika kasusnya masih cukup kecil, bisa ditangani oleh Kejaksaan. Jika sudah besar, maka akan diambil alih oleh KPK."


Tim penguji mengangguk mendengar penjelasan Axel yang tepat sasaran.


"Baik lah, uji komprehensif Anda telah usai. Anda boleh meninggalkan ruangan ini, dan kami akan berembuk untuk penentuan hasil atas kerja kerasa Anda. Nilai akhir akan kami serahkan kepada dosen pembimbing Anda, dan bisa Anda tanyakan langsung kepada Beliau."


Axel tersenyum mantap menyalami para dosen yang telah mengujinya dalam sidang akhir ini. Di luar ruangan, dua kawannya telah menanti Axel dan mereka menyalami mengucapkan selamat.


"Gimana, Bro?" tanya Dirga.


"Masih belum, tunggu dosen pembimbing dulu."


Sembari menunggu, Axel mencoba menghubungi sang kekasih. Beberapa waktu, panggilannya tak kunjung dijawab juga. Setelah putus asa, ia membatalkan rencana menghubunginya, apalagi perasaannya masih berdebar kala menanti hasil ujian akhir penentu ini.


Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar. Ada panggilan video dari Yuvi. Dengan semangat dia menjawab panggilan.


"Kenapa tadi nggak diangkat?"

__ADS_1


📲"Aku lagi ribet ngurus sesuatu. Bagaimana hasilnya, Mas? Lulus kan? Nilainya A plus plus kan?"


"Ooh, aku pikir tadi kamu masih kesel. Ini aku masih menunggu, dosennya lagi menilai—"


📲"Waah, Mas ... udah selesai ya sidang kompre-nya? Selamat ya?"


Mahasiswi yang tadinya terpantau terus tersenyum kepada Axel, tiba-tiba menyelonong mengulurkan tangannya.


Axel merasa tidak enak, menyambut tangan adik kelasnya itu dengan ragu. "Terima kasih." Lalu pandangannya teralih kembali pada layar, ingin melanjutkan obrolan dengan yang tersayang.


"Nilai kamu pasti bagus, aku yakin deh. Soalnya kamu kan kesayangan para dosen," ucap gadis itu lagi.


"Oh ya, amin. Makasi." Axel menunjuk ke arah ponselnya berharap si adik kelas tidak mengganggunya lagi, karena ia sedang berbicara dengan seseorang.


"Maaf ..." celetuknya dan beranjak.


"Siapa itu?" desis Yuvi dengan nada sumbang.


Saat itu lewat lah tim dosen penguji yang baru saja keluar. "Yang, aku mau cari dosen dulu sebentar," ucapnya terburu-buru. Panggilan ditutup begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari gadis yang berada di balik panggilan.


Axel segera menuju ke ruang ujian tadi ingin mengetahui hasil kerja kerasnya barusan. Sang dosen melihat kehadiran Axel, langsung memulas senyuman yang sangat lebar pada bibirnya.


"Selamat, Saudara Axel. Tim penguji sangat puas dengan hasil yang Anda tampilkan tadi. Anda lulus dengan nilai A+." Dosen pembimbing menyalami Axel.


"Alhamdulillah, terima kasih, Pak." Axel menghela napas lega.


"Saya punya berita baik juga untuk Anda. Karena hasil studi Anda sangat bagus, maka saya ingin menawarkan kelas hukum internasional ke luar negeri kepada Anda."


Axel mengerutkan keningnya. "Maksudnya, Pak?"


Axel merenung sejenak. "Korea ya, Pak?"


"Yap, benar sekali."


Axel sebenarnya sangat tertarik dengan penawaran tersebut, akan tetapi, ia teringat pada seseorang yang berada di sana. Jarak mereka yang sudah cukup jauh, malah menjadi semakin jauh.


"Ini adalah kesempatan langka. Kesempatan tidak akan datang dua kali." tambah dosen pembimbingnya.


"Oh ya, Pak. Terima kasih."


Beberapa waktu Axel merenung, dan ia mengecek ponsel. Bola matanya seakan keluar ketika membaca pesan dari sang kekasih.


[ Kamu selalu melarang-larangku selingkuh. Ternyata kamu yang selingkuh. Ya udah deh, kita putus aja ]


Membaca itu, Axel yang tadinya berharap mendapat pujian dari kekasihnya, ternyata malah mendapat sesuatu yang berada di luar pikirannya. Biasanya ia tidak akan memedulikan ucapan kekasihnya yang masih kekanakan ini. Akan tetapi, kali ini berbeda. Ia merasa sangat kecewa.


[ TERSERAH! ]


Axel mencari dosen pembimbingnya tadi. "Pak, saya akan mengambilnya."


...****************...


Sesi 2 kehidupan setelah putus. Saat Yuvi menjadi TKW di Hongkong dan Axel melanjutkan kuliah di Korea. Apakah mereka akan bertemu? Tunggu yaah kelanjutannya.

__ADS_1


Mampir yuk sama cerita yang bikin darah tinggi: Hanya Aku yang Mencinta—Cerita di Ranah Minang Tacinto.



"APA? ABI MASUK RUMAH SAKIT?" Seorang mahasiswi berkerudung segera menarik tas ransel yang berada di atas meja pada salah satu ruangan perkuliahan di Fakultas Teknik, sebuah universitas negeri di Kota Padang.


Namun, seseorang mencegat langkahnya. Tangan yang sengaja disembunyikan di belakang tubuh, tampak memegang sekuntum bunga berhiaskan pita satin bewarna putih. Ia ingin menyatakan cinta kepada adik kelas yang menawan hati, semenjak menjadi panitia pengenalan mahasiswa baru, bernama Humaira Fii Jannah.


"Da, jangan sekarang! Abi Ala baru saja masuk rumah sakit. Ala harus ke sana," ucap gadis itu berbelok memilih memutari senior yang terus berusaha mendekatinya.


Tangkai bunga yang tergeggam di belakang tubuh pemuda bernama Rafatar itu patah. "Aaaggh," ringisnya melirik pada benda di balik punggungnya itu.


Ala berjalan cepat setengah berlari, dengan raut sendu menyisir lorong kampus yang sangat luas ini. Rafatar akhirnya memasukan bunga patah itu ke dalam tong sampah dan memilih mengejar Ala. "Ala, biar aku saja yang mengantarmu?" tawarnya.


Ala langsung setuju, karena ia tahu bahwa seniornya ini selalu menggunakan kendaraan roda empat untuk ke kampus yang ada di wilayah perbukitan ini. Tanpa perlu menunggu waktu yang lama, Ala pun sampai lah di rumah sakit tersebut.


Ia melirik dua adik perempuan yang masih berseragam, satu bawahan abu-abu, dan satu lagi bawahan dongker. Mereka berdua menangis tersedu-sedu pada bangku-bangku yang ada di lorong rumah sakit tersebut.


"Uni, Abi?" tangis adiknya yang masih SMP, bernama Aulia.


Ala mengaggukan kepala mengusap pundak kedua adiknya untuk menguatkan.


"Cepat lah, Abi-mu sudah menunggu semenjak tadi," ucap wanita paruh baya yang melahirkannya.


Ala dengan cepat masuk ke dalam ruangan itu. Dan, entah kenapa Rafatar malah turut masuk bersamanya. Dalam diam, pria muda itu menyaksikan segala yang terjadi dalam ruangan ini.


"Assalamualaikum, Bi," ucap Ala menggenggam tangan sang ayah, duduk pada sebuah bangku yang ada di samping brangkar.


"A-Ala, kamu sudah datang, Nak?"


Tanpa terasa air mata Ala jatuh melihat betapa susahnya sang ayah dalam berbicara.


"Nak, kamu adalah anak Abi yang paling dewasa. Abi hanya ingin mengatakan kepadamu bahwa dulu, Abi sudah berjanji akan menyatukan keluarga Abi dengan sahabat Abi, Faisal."


Ala mengerutkan keningnya, dan akhirnya bersuara. "Maksud Abi? Abi mengatakan apa? "


Ayahnya melirik sebuah benda yang ada di atas nakas di samping brangkar. Ia menunjuk ponsel yang tergeletak di atas sana. Ala yang mengerti, segera mengambil benda itu dan menyerahkan ke tangan ayahnya.


"Tolong Abi!" pintanya meyerahkan ponsel kembali ke tangan Ala.


"Telpon seseorang bernama Fajar yang dalam daftar kontak ponsel Abi!"


Dengan patuh, Ala melakukan permintaan sang ayah. Setelah disambungkan, Ala menyerahkan kepada Abi. Sang ayah menaruh benda itu di telinganya, meskipun tangannya tampak bergetar.


"Assalamualaikum."


"Se-sepertinya kita lakukan saja. Waktuku sudah tidak banyak lagi."


"Ya, aku hanya bisa meminta tolong padamu untuk mempertemukan mereka dan segera nikahkan mereka. Hari ini mungkin adalah hari terakhir saya. Tak banyak yang bisa saya lakukan, karena semuanya saya serahkan kepadamu. Tidak hanya itu, pesan saya pada anakmu untuk menjaganya seperti saya yang menjaganya dengan sepenuh hati."


Ala hanya mencoba menebak isi obrolan yang ia tidak bisa ia pahami hingga panggilan berakhir. Namun, air matanya tiada henti mengalir membanjiri pipi memandangi kepayahan yang dialami sang ayah.


"A-Ala, Abi tahu kamu pasti akan keberatan. Tapi, Abi harap kamu mau memenuhi permintaan Abi."

__ADS_1


Ala menggenggam tangan sang ayah. "Abi mau minta apa?"


"Menikahlah dengan Syauqi, anak teman Abi, Ustadz Fajar."


__ADS_2