Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
70. Terpaksa Kembali ke Rumah Mertua


__ADS_3

"Bagaimana, Jun? Sudah bisa dihubungi?" tanya Komandan Aji kepada Bharada Jun.


"Belum, Komandan. Ponselnya sedang tidak aktif," jawab Bharada Jun dalam saluran telepon.


"Nanti, kalau dia sudah menghubungimu, segera suruh menghadap! Berita ini berkaitan erat dengan putra Dokter Arsen, pimpinan rumah sakit yang disegel pihak kejaksaan. Anak itu harus bersama orang yang bisa dipercaya, supaya aman dari gangguan massa."


"Baik, Komandan! Jika dia sudah menghubungi kembali, maka saya pastikan dia harus menghubungi Anda.


Berita yang disebarkan oleh wartawan bernama pena Sulung Kuat dalam berita online, kini menjadi tranding topic dalam waktu singkat membuat netizen mengeluarkan bermacam komentar.


Ada yang memberikan komentar netral, ada yang positif, dan tak sedikit yang memberikan komentar negatif. Tanggapan negatif yang menyudutkan Aziel pun tak sedikit.


'Biarkan saja anaknya yang merasakan karma yang diperbuat bapaknya.'


'Cerdas juga Pak Pengacara Dokter Diki itu. Jatuhkan bapaknya, sikat anaknya. Nanti, giliran anaknya yang dieksekusi.'


'Biar saja anaknya merasakan hasil kekejaman dari ayahnya. Nyawa dibalas nyawa!'


Membaca berbagai macam komentar tersebut membuat Sulung Kuat itu menyeringai. "Setelah ini, gue harus mendapatkan potret wajah yang bagus dari pengacara itu. Supaya semua orang tahu, siapa pahlawan kesiangan yang sok-sok an mengejar dokter gila hingga ke benua Amerika."


Berita itu terus beredar dengan view yang terus meningkat pesat. Wartawan pun telah ramai menunggu di depan hotel tempat Sulung Kuwat menunggu semalaman.


Mereka tengah menanti, pengacara yang membawa keturunan dokter berdarah dingin tersebut. Peralatan telah siap berupa kamera dan alat lain yang bisa digunakan untuk merekam berita yang sedang menjadi perbincangan hangat ini.


Sementara itu, pada sebuah kamar hotel, dua insan tengah berpagut dalam lelapnya mimpi, setelah menghabiskan malam panjang melepas buncahan rindu kini saling menyatu.


Axel semakin memeluk Yuvita yang tertidur berbantalkan lengannya dengan senyuman memenuhi bibir. Mereka sengaja memakai busana kembali sesaat sebelum tidur. Khawatir jika Aziel terbangun nanti, mendapati hal-hal aneh yang tidak pantas ditonton.


Aziel terbangun kala subuh, kembali mendapati dirinya yang terpojok sendirian di bagian kepala ranjang. Aziel mengernyitkan wajah menatap dua orang itu berpelukan tanpa mengajak dirinya.


"Huwwaaa, Papa Axel naakaaal!" teriaknya langsung berpindah posisi menyelip masuk di tengah mereka.


Axel tersentak, duduk terbangun. "Hati-hati, Cah. Nanti adek dalam perut Mamanya keinjek?"

__ADS_1


"Papa Axel suka gitu sama Aziel, huwaaaa ..." tangisnya kejer membuat Yuvi yang merasa kesakitan, jadi terbangun.


"Ahhh, kenapa Ziel?"


"Papa Axel nakalin Aziel lagi, Ma. Harusnya yang dipeluk kan Aziel, bukan Papa."


Axel memutar wajah memandangi waktu yang tidak tahu sudah pukul berapa. Kini, ia beringsut turun.


"Aziel mau ikut Papa mandi nggak?" tawarnya.


Aziel memanyunkan bibir membuang muka. "Gak mau."


"Oh, ya udah ... Papa mau mandi dulu bareng Mama Yuvi ya?" godanya.


"Nggak boleh!" Pekiknya.


Axel mendekati Yuvi yang masih tiduran mengumpulkan nyawa. Ia tampak lelah, tanpa pikir panjang Axel langsung mengecup pipinya.


"Kenapa, Sayang?"


"Gara-gara udah lama gak ketemu loli sih, jadinya gitu. Tapi, kalau udah biasa gak akan sakit lagi kok."


"Hmmmfff," ringisnya.


"Aku mau mandi dulu, habis itu kamu yang mandi. Lalu kita sholat subuh bareng."


"Terima kasih untuk malam yang indah tadi, Sayang. Akhirnya, permen loli ini nggak karatan lagi," candanya kembali mengecup pipi Yuvi.


Aziel ikut mencium pipi Yuvi. "Iiih, Mama bauk," sungut mulut kecilnya membuat Axel terkekeh menggelengkan kepala menuju kamar mandi.


*


*

__ADS_1


*


Setelah semua usai Axel teringat akan ponselnya yang sudah dinonaktifkan semenjak tadi malam. Ketika ponsel tersebut sudah aktif, rentetan pesan chat dalam sosial media masuk menanyakan keberadaannya.


Setelah membaca bermacam pesan tersebut, Axel pun membuka berita yang dimaksud. "Ah, sial," desisnya.


Axel melakukan panggilan terhadap atasanya, dan sang atasan memberikan resolusi sementara untuk mengamankan Aziel dari dunia luar. Wajah Aziel tidak boleh tereskpos.


Setelah itu, ia berjalan menuju Yuvi yang telah bersiap untuk meninggalkan hotel bersamanya. Axel ingin pulang terlebih dahulu, karena harus berganti seragam kerja.


"Sayang, apa kamu mau menaiki kendaraan online membawa Aziel ke rumah orangtuaku sejenak? Kita ketemu di sana aja nanti."


"Kenapa tidak barengan aja?" Wajah Yuvi tampak cukup kecewa.


"Mereka sudah menandai kendaraanku. Jadi, aku harus mengalihkan perhatian para wartawan terlebih dahulu. Mereka sudah mengelilingi lokasi ini semenjak tadi malam. Jadi, hari ini dengan terpaksa kamu pulang ke rumah Mamaku dulu memakai jasa taksi online."


Yuvi menghela napas panjang. "Lalu, setelah ini harus bagaimana? Apakah kita akan terus bersembunyi seperti ini?"


"Tidak, kamu tenang saja. Kita hanya perlu meminta bantuan kepada Komisi Perlindungan Anak, agar mengeluarkan surat edaran agar massa tidak mengganggu, Aziel." Axel memandangi Aziel yang kali ini asik loncat-loncat di atas kasur.


"Tunggu sebentar! Aku mau mencari benda yang bisa menutupi identitas kalian dulu."


Axel keluar mengendap, memperhatikan keadaan yang sedang ramai diisi oleh para pemburu berita. Axel pun kembali masuk bagian dalam hotel mendekati pelayanan kebersihan yang sedang bertugas mengepel lantai.


"Maaf, Mbak? Apa saya bisa membeli topi dah masker yang masih bersih milik hotel ini?"


Lalu, wanita yang memakai masker itu terkekeh. "Buat apa, Mas ganteng?"


"Oh, saya hanya membutuhkannya untuk menjaga privasi. Jika ada, akan saya beli."


"Tidak perlu beli, saya akan memberikannya. Mau berapa, Mas ganteng?"


Tak lama kemudian, seorang wanita berseragam kebersihan hotel dengan wajah tertutup topi dan masker sedang menuju lobi menggandeng anak kecil yang juga tertutup oleh masker.

__ADS_1


Di sana, telah berdiri taksi online yang dipesan Axel. Wartawan tertarik memanjangkan leher melihat dua orang itu.


__ADS_2