
"Bi, aku mau makan di sini saja ya? Aku ingin bicara dengannya." Mila masih memegangi pipinya yang terasa panas.
Sesuatu janggal yang selama ini membuatnya penasaran, tak luput dari mata Axel. Sebuah benda bermanik permata berwana putih, melingkari jemari Mila. Benda itu tak asing lagi baginya. Namun, ia tidak berani menyimpulkan begitu cepat. Karena, siapa pun bisa membelinya. Apalagi membeli dengan mendadak karena Bapak Yuvi memintanya untuk menikahi gadis itu.
'Cincin itu memang sangat mirip dengan yang aku beri kepada Yuvita, tetapi ... aku harus lebih memastikannya lagi.'
Sate pesanan Axel pun mendarat sempurna di atas meja tepat di hadapannya.
"Non, pulang yuk? Jika Tuan Arsen pulang duluan, semua bisa berabe. Bibi pasti akan dimarahi Tuan Arsen. Tidak hanya itu, takutnya tuan muda Aziel kebangun lalu mencari Nona, gimana?"
Mila memutar kepalanya menatap sang asisten rumah tangga Arsen. Wajahnya terlihat pasrah membenarkan apa yang baru saja disampaikan oleh wanita paruh baya itu. "Baik, Bi."
"Jadi, satenya mau dibawa pulang atau makan di sini?" Tanya sang penjual kembali.
"Makan di sini yuk? Temani aku?" sela Axel penuh harap.
"Ah, aku juga mau ... aku sangat ingin berbicara berdua denganmu. Tapi, sepertinya aku tidak bisa," jawab Mila sendu.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa mengatakannya." Mila menatap panjang manik Axel yang penuh harap. "Kamu sudah mengetahui namaku, kalau boleh tau, namamu siapa?"
Axel memutar otak dengan cepat. "Apa aku boleh meminta kontak ponselmu?"
"Aah, ya ... tapi aku gak punya hape," desisnya.
Axel mengerutkan keningnya kembali. "Hari gini gak punya hape?"
Mila menggelengkan kepalanya. "Aku dilarang pakai hape oleh Tuan Arsen."
Aklxel melirik penjual sate yang masih menunggu keputusan Mila. "Mas, punya kertas dan pulpen?"
__ADS_1
"Ooh, tentu ..." Sang penjual segera menyerahkan sesuatu yang diinginkan oleh Axel. Tanpa berlama-lama, ia menuliskan sesuatu ke dalam kertas tersebut.
"Mas, bungkus aja ya? Jangan lama-lama! Nanti, dedek bayi yang ada dalam perutnya bisa ileran saat lahir nanti."
Degh ....
Axel telah menyelesaikan aktifitasnya. Ia kembali melirik kepada Mila. "Kamu beneran lagi hamil?"
Penjual sate dengan cepat menyiapkan pesanan Mila dan telah memasukkan bungkusan sate tersebut ke dalam kantong plastik. Satu bungkus sate itu, kini telah berada di tangan Bibi.
"Ayo, Non ... keburu Tuan Arsen pulang.
Mila masih diam belum menjawab pertanyaan pria yang ada di hadapannya. Netranya terpaku kepada kertas yang tadi ditulisnya. Dengan cepat, Mila menarik kertas itu dan pergi segera menuju kendaraan yang tadinya mengantarkan mereka.
"Tunggu!" cegat Axel mengejar Mila dan wanita paruh baya yang menemaninya.
Akan tetapi, Mila telah masuk ke dalam mobil dan pergi. Axel hanya bisa menatap kendaraan itu yang semakin menjauh.
Ia kembali teringat saat Mila marah-marah ketika Arsen mengaku bahwa ia adalah istri dari pria itu. "Tapi, kenapa ia malah hamil anak dia?" Axel kembali duduk tepat di hadapan makanan yang tadinya ia pesan.
Wajahnya dingin memandangi makanan yang itu. Wajahnya yang tadi terlihat bahagia, telah berubah datar.
Di dalam mobil, Mila terus melihat ke arah belakang. Tangannya masih menggenggam potongan kertas yang direbutnya dari pria yang terus bermain di hatinya.
"Nona mengenalnya?" tanya Bibi.
"Entah lah, Bi. Aku selalu berdebar saat melihatnya."
"Apa kah mungkin dia adalah salah satu orang yang ada dalam kehidupan Nona, sebelumnya?" tanya Bibi lagi.
Mila menggeleng dan wajahnya masih terlihat bingung.
__ADS_1
Saat mereka memasuki halaman rumah yang sangat luas itu, mata mereka terbelalak. Kendaraan yang dibawa oleh Arsen telah terparkir di depan beranda.
"Gawat, Non. Tuan sudah pulang." Wajah Bibi terlihat ketakutan.
Mila juga mulai ketakutan dan berjalan menunduk menggenggam kantong yang berisi makanan yang diinginkannya. Mereka berdua berjalan dengan sangat hati-hati, berharap tidak terdengar oleh Arsen.
Namun, bayangan Arsen tidak terlihat sedikit pun. Mereka menuju ke ruang makan. Di sana juga tak terlihat penampakan yang sudah membuat mereka berdebar duluan
"Sepertinya Tuan lelah, Non. Mungkin saja Tuan langsung masuk ke dalam kamar dan beristirahat."
Mila menghela napas panjang. Kertas yang diambilnya dari tangan Axel, dimasukkan ke dalam kantong celana yang ia pakai. "Sekarang, aku bisa menikmati sate ini dengan tenang," gumamnya mengeluarkan makanan itu dari dalam kantong.
Bibi menyerahkan piring sebagai alasnya, dan sendok sebagai alat bantunya.
"Aku bener-bener kangen makan sate ini." Mila menarik sate tersebut tusuk demi tusuk tak lupa juga dengan potongan lontongnya.
"Enak banget, Bi. Ayo dicoba juga!" ajaknya.
"Tidak usah, Non. Bibi sudah sering memakannya. Buat ibu hamil yang lagi ngidam aja."
"Kenapa kalian berisik sekali?"
Suara dingin yang tiba-tiba muncul membuat Mila yang sedang menikmati makanannya terbatuk mengusap dada. "Huk ... huk ... huk."
Mila melihat air yang ada di depannya dan meneguknya dengan cepat. Beberapa saat ia hening, masih meringis merasakan sakit karena makanan itu salah masuk ke jalur pernapasan.
"Kalian dari mana?" Suara dingin itu kembali mengintimidasi kedua orang yang telah ketakutan tadi.
"Ka-kami beli sate, Tuan. Nona Mia ngidam sate," terang Bibi.
Arsen melirik makanan yang tergeletak begitu saja tanpa dialasi piring. "Kalau kau macam-macam, siap-siap lah! Aku bukan orang yang pemaaf!"
__ADS_1