
"Jangan! Ini pemberian orang! Apalagi pemberian pacarmu. Jangan dijual!" ucap Feli setengah berteriak.
Yuvi menatap Feli sendu. Ia merasa Feli tak memahami kegundahan yang dirasakannya. Ia tidak tahu gimana rasanya hidup dalam garis kemiskinan yang tidak bisa berbuat apa-apa dalam situasi sulit seperti ini.
Sebenarnya apa yang dikatakan Feli itu memang benar. Harusnya Yuki tidak boleh menjual benda pemberian, apalagi pemberian dari kekasihnya. Namun, semua sungguh terasa berat. Ia sungguh tidak tahu harus bagaimana untuk membantu ibunya karena ia sendiri tidak memiliki dana lain, kecuali jika bisa menjual ponsel itu.
"Sepertinya, aku harus bekerja untuk meringankan beban orang tua."
*
*
Yuvi segera mencari informasi ke Agen Penyalur TKI ditemani oleh sahabatnya yang selalu setia, yakni Feli. Ternyata, ada banyak hal yang harus ia persiapkan agar bisa bekerja di luar negeri sebagai TKI.
Setelah tau semua syarat yang ada sebagai TKI, Yuvi mulai mempersiapkan segala dokumen yang dibutuhkan. Meskipun demikian, ia terus memberi kabar kepada kekasihnya, tetapi Yuvi belum menceritakan keinginannya untuk kerja ke Hongkong.
Yuvi memasuki kamar orang tua yang memang tak terlalu besar. Di atas ranjang, ibu tengah terbaring lemah. "Bagaimana sekarang, Bu? Ada yang sakit?" tanyanya sendu menggenggam tangan wanita yang melahirkannya ini.
Ibu memaksakan senyumnya. "Ibu baik-baik saja, Ndok. Kamu jangan terlalu khawatir."
"Bu, jangan bilang baik-baik terus," tangisnya mulai terisak. "Maafkan aku, Bu," tangisnya kembali.
"Kamu kenapa, Ndok?"
"Maafkan aku. Aku hanya menjadi anak yang terus menyusahkan Ibu. Bahkan, aku pun tidak bisa membawa Ibu ke rumah sakit. Ibu, harus segera pulih. Aku akan mencarikan uang untuk Ibu," tangisnya terisak memeluk sang ibu.
Ibu mengusap punggung Yuvi dan mengembangkan senyum pada bibirnya. "Kamu jangan khawatir, Ibu baik-baik saja. Besok Ibu sudah bisa kembali bekerja kok."
__ADS_1
"Jangan! Ibu tidak usah bekerja. Biar aku yang mengerjakan segalanya buat Ibu. Aku akan menjamin kesehatan Ibu dan Ayah. Aku akan berusaha mengangkat derajat keluarga kita, Bu."
Ibu hanya tersenyum tipis, mengusap punggung anaknya yang tiba-tiba berubah karakter menjadi lebih lembut. Setelah menyuapi ibunya dengan bubur yang sengaja dibuatkan, Yuvi pun merenung memandangi ponselnya. Pesannya belum dibaca, apalagi dibalas.
Yuvi merebahkan diri di atas ranjang. Ia sedikit bingung memikirkan bagaimana cara mengatakan bahwa ia akan berangkat keluar negeri. Paling tidak dalam waktu satu bulan ke depan setelah pelatihan, ia akan berangkat.
Masih jelas dalam ingatannya Axel melarangnya untuk pergi jauh. Pria itu telah berjanji akan segera menjemputnya.
"Mamas ke mana ya? Kenapa belum dibaca juga pesanku?"
Namun, setelah dipikirkan kembali, kalau pun Yuvi hanya sekedar menjadi seorang istri, tentu ia tidak bisa dengan mudah memberikan uang kepada orang tuanya. Jika ia bisa menghasilkan uang yang banyak, tentu saja semua uang miliknya bisa digunakan untuk membahagiakan orang tua.
"Mas, bagaimana ini? Apakah aku boleh pergi bekerja di luar negeri?" gumamnya menatap ponsel yang masih belum ada jawaban.
Di tempat lain sang kekasih tengah berjibaku mempersiapkan sesuatu yang penting. Esok adalah hari penting baginya untuk meninggalkan kampus ini. Hal ini membuatnya tak sempat untuk menghubungi sang cinta yang sedih karena orang tuanya sedang sakit.
Sesaat akan beristirahat, ia baru sempat membuka ponselnya kembali. Ada banyak panggilan tak terjawab, dan banyak chat yang masuk dari yang tercinta.
Axel menekan tanda mikrophone meninggalkan voice note untuk Yuvi.
"Kamu yang sabar ya, Sayang. Semoga Ibu segera sembuh. Aku akan mengirimkan uang untuk membawa Ibu ke rumah sakit. Kamu kirim nomor rekening ya?"
"Maaf ya, baru balas pesan kamu jam segini. Esok adalah hari penting bagiku untuk menyelesaikan perkuliahan empat tahun ini."
"Doakan aku, yah? Semoga mendapat hasil yang terbaik."
"Nanti, setelah semua selesai, aku akan mengirimkan uang untuk pengobatan ibu kamu yaa."
__ADS_1
"Setelah tamat, aku akan bekerja, mengumpulkan uang untuk menjemput dan memilikimu. Kita akan hidup bersama, Sayang."
"Duh, aku nggak sabar menunggu waktu di mana kita akan bertemu. Love you."
Setelah pesan suara dikirim, Axel menatap foto tangkapan layar sang kekasih saat video call dengannya. Setelah cukup lama dipandangi, foto itu dikecup dan lampu dimatikan.
*
*
*
Keesokan hari, sebelum melaksanakan sidang komprehensif Axel menyempatkan untuk menghubungi sang kekasih yang merajuk karena seharian tidak dihubungi. Meskipun ia telah mengirimkan voice note, tetapi Yuvi tetap saja merajuk. Bahkan, nomor rekening yang ia minta pun tidak diberikan membuatnya heran.
Namun, ekspresi yang tadinya manyun berubah seketika setelah melihatnya berpakain rapi dengan jas dan dasi untuk kompre hari ini, membuat ekspresi gadis itu tampak lucu. Axel memasang headset terlebih dahulu.
π²"Mas, kenapa ketampananmu terlihat semakin maksimal?" sejenak ia melupakan kesedihannya. "Apa memang harus seperti itu kalau sidang mahasiswa? Keren banget, pakai jas, pakai dasi, kayak orang kantoran."
"Kalau di kampusku, memang begini kalau kompre. Katanya biar berasa masuk dunia kerja. Oh ya, kok nomor rekeningnya belum dikirim juga?"
π²"Hmmm, nggak usah Mas. Aku nggak mau disangka memanfaatkanmu. Aku akan berusaha sendiri sebagai anak."
"Kenapa kamu berkata demikian? Macam kayak siapa gitu? Ibu kamu itu artinya ibu aku juga kan? Kalau ibumu sakit, aku juga turut sedih."
Yuvi mengangguk tetapi wajahnya mengerut seakan tidak fokus dengN obrolan mereka.
π²"Coba dijauhkan dikit? Aku ingin lihat secara menyeluruh."
__ADS_1
Axel memanjangkan tangannya hingga memperlihatkan view yang cukup luas. Hingga mata Yuvi menangkap sosok yang dirasanya aneh berada di belakang kekasih.
π²"Siapa yang di sana deket-deket kamu? Dia lihatin kamu sambil senyum-senyum terus."