Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
44. Menyelamatkan Axel


__ADS_3

Mila kembali menggelengkan kepala. "Sudah aku bilang kepadamu, jika aku tahu siapa suamiku, aku tidak akan bersama dengan pacarmu itu!" ringisnya masih mengernyitkan wajah karena rasa sakit yang luar biasa.


Axel melirik Liani merentangkan kedua tangan mengangkat kedua bahu. Wajahnya menyiratkan meminta penjelasan akan apa yang dimaksud oleh Mila barusan. Liani mengedikkan bahu dan merasa puas mempermalukan Mila.


Namun, berbeda dengan Axel. Ia tampak semakin penasaran dan mendekat ke sisi brangkar. "Apa maksudnya?" Mata Axel menatap Liani dan Mila secara bergantian. Ia juga melirik benda yang ada di jemari manis yang melekat di tangan kiri Mila.


"Apa tidak ada yang mengatakan kepadamu bahwa dia ditemukan dalam keadaan am—"


"Cepat bawa dia!" bentak Arsen tiba-tiba membawa pasukan berpakaian hitam.


Tubuh Axel ditarik kasar oleh pria-pria itu. Mila yang melihat Akel ditarik oleh pria-pria berwajah mengerikan mencoba untuk bangkit.


"Jangaaan!" Tangannya, mencoba menggapai pria yang memesona hatinya ini.


"Aaaagghhh ..." ringisnya. Perut Mila kembali merasa keram.


"Sudah saya katakan! Kamu itu tenang aja!" geram Liani.


"Jangaaan! Jangan sakiti dia!" Mila masih menggapai bayangan-bayangan yang telah menghilang.


"Kau mengenalnya?" tanya Liani heran.


"Selamatkan dia, Dok. Selamatkan dia!" pintanya berputus asa.


"Kenapa kamu bisa mengenal Axel?"


"A-Axel?"


"Sudah! Kamu tenang dong? Jangan stress mulu!"


Mila kembali melirik pintu yang telah kosong tanpa bayangan pria yang selalu menari dalam pikirannya. Jantungnya berdebar, bercampur antara takut dan penasaran.


"Aaaaggghhh!" Perutnya semakin mengejang gara-gara rasa sakit yang semakin meningkat.


"Tenang! Kamu harus tenang! Kecuali kamu sudah tidak menginginkan bayi yang ada di dalam rahimmu ini?"

__ADS_1


Mila tersentak mendengar bentakan Dokter Liani ini.


"Coba tarik napas dalam-dalam!"


Mioa menarik napasnya dengan dalam seperti panduan Liani.


"Lepaskan pelan-pelan!"


Mila melakukan seperti apa yang diperintahkan.


"Lakukan itu beberapa kali hingga perasaanmu menjadi rileks! Kamu harus tenang! Tidak boleh tegang dan panik seperti tadi!"


Mila menarik napasnya dengan panjang, lalu melepaskannya dengan perlahan seperti yang diminta oleh Liani. Ia melakukan hal yang sama beberapa kali hingga benar-benar merasa tenang.


Sementara itu, Axel terus diseret oleh orang-orang tadi dengan cara yang tidak manusiawi.


"Lepas!" Axel meronta, tetapi tenaganya kalah oleh orang-orang yang telah memeganginya dari segala sisi.


Arsen tersenyum sinis memandangi pengganggu yang diseret oleh anak buahnya itu. "Setelah ini adalah giliranmu!"


"Bagaimana keadaannya?" tanya Arsen kembali.


"Sepertinya, kamu selalu membuat dia stress," gumam Liani menutup tubuh Mila dengan selimut.


"Kamu seorang dokter, tetapi tidak mengerti bagaimana psikis wanita hamil. Kecuali jika kamu memang ingin melenyapkan janin dalam kandungannya? Terserah nanti mau kamu apakan dia!" Liani beranjak. Saat ini, Mila mulai tampak sedikit lebih tenang.


"Bapak membawanya ke mana?" tanya Mila sendu di antara menahan rasa sakit dan sedih.


"Kamu tidak perlu memikirkan hal yang lain. Lebih baik, kamu beristirahat saja! Liani pasti menyuruhmu untuk rileks. Jadi, kamu jangan memikirkan apa pun dan siapa pun."


"Tapi orang tadi dibawa ke ma—?"


"Sssssttt! Sudah aku katakan, kamu istirahat saja!"


*

__ADS_1


*


*


"Kenapa dia lama ya?" Bharada Jun tak berhenti melirik jam tangannya semenjak kepergian Axel kembali masuk ke dalam area rumah sakit tersebut.


Briptu Gilang keluar dari posisi penumpang di samping Aiptu Leticya dan mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi Komandan Aji.


"Sepertinya kami membutuhkan pasukan, Pak?"


"Apakah situasi di luar kendali?" tanya Komandan Aji.


"Pengacara Axel semenjak tadi berada di dalam. Namun, hingga saat ini ia belum juga keluar dari sana kembali bergabung bersama kami. Saya khawatir sesuatu yang buruk menimpanya di dalam sana," jelas Briptu Gilang.


"Baik lah, saya akan mengirimkan pasukan. Sepuluh menit lagi, pasukan kita akan sampai di lokasi. Bersiap lah!"


"Siap, Pak." ucap Briptu Gilang dengan tegas.


Pada sebuah lokasi, seorang pria tak sadarkan diri terikat dengan lebam memenuhi wajahnya. Di sudut bibirnya, terlihat bercak merah dan kepalanya terkulai tak berdaya.


"Setelah ini, gimana?" tanya salah satu anggota yang berpakaian hitam.


"Tunggu perintah selanjutnya dari Boss Arsen. Mau kita eksekusi atau mau diapakan itu tetap harus menunggu dia." Temannya memandangi pria berkemeja putih itu dari atas hingga ke bawah.


"Jika kita sembarangan, kita bisa dalam bahaya. Dia bukan gembel yang biasa menjadi makanan kita sehari-hari."


Tulit tulit tulit tulit


Terdengar suara sirine yang sangat banyak memasuki area rumah sakit.


"Suara ambulance kali ini kenapa berbeda dari biasanya?" tanya salah satunya kembali.


Yang lain mengedikkan bahu. "Itu bukan urusan kita! Tugas kita hanya bagian belakang."


Seseorang berpakaian hitam persis mereka terlihat lari pontang panting dari bagian depan bangunan rumah sakit. "Gawat! Gawat! Polisi datang!" teriaknya.

__ADS_1


__ADS_2