
Yuvi membolak-balik kotak itu. Ia tak tahu itu sejenis benda apa karena tidak ada keterangan sama sekali. Hanya ada nama dia dan kontaknya yang telah menghilang.
"Heh, itu apa?" Tiba-tiba April muncul daru arah luar baru pulang dari pekerjaannya, masuk menyelonong ke kamar sang adik.
"Iiih, kepo aja?" Yuvi mendorong kakaknya itu keluar dari kamar. Setelah itu, pintu kamar langsung dikunci.
Yuvi mulai membuka kotak dengan bubble warp yang sangat tebal. Perlahan tapi pasti, plastik bewarna hitam itu dilepas hingga meninggalkan kotak yang membuat matanya terbelalak.
Sebuah kotak bergambar ponsel berlambang apel kena gigit ulat. Tangannya bergetar saat memegangi benda yang tak pernah ia pikirkan sama sekali untuk dimiliki.
"I-ini ... siapa yang mengirimkan??"
Yuvi kembali mencari nama customer, dan memang itu namanya, alamatnya, dan kontak ponselnya.
Yuvi melirik ke arah luar, ingin bertanya kepada sang ibu. Saat sampai di gagang pintu, ia mengurungkan. Takut sang Ibu malah menyuruh menjual benda yang tak teridentifikasi tersebut.
Duuuh, gimana ya?
"Masa sih ada yang mau belikan ini untukku?"
Yuvi menaruh benda itu di atas meja. Ia mengumpulkan kembali bublewarp yang sudah hancur berkeping.
"Atau jangan-jangan ... ini ...? Masa sih? Mamas?"
Ia segera membuka kotak tersebut. Memasukan simcardnya ke dalam benda mewah berbahan metal padat itu.
Tapi, ketika diaktifkan, ia tak bisa mengakses apa-apa?
Yuvi mengerutkan keningnya. "Kenapa internetnya gak mau jalan? Rasanya sih Mbak waktu baru beli dulu mulus-mulus aja?"
__ADS_1
Ponselnya bergetar dan masuk pesan pemberitahuan.
Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk menggunakan layanan internet non-paket data. Silakan melakukan pengisian ulang!
Yuvi kembali terduduk lemas. Kartu yang baru ini memang tidak memiliki pulsa, hanya beberapa perak sebagai modal yang diberi pihak operator selulernya.
Ia teringat pulsa di kartunya yang sebelumnya memiliki pulsa yang cukup banyak karena selalu diisikan oleh sang kekasih, tetapi saat ini entah berada di mana.
"Apa dicari dulu aja kali ya?"
Yuvi membongkar-bongkar isi dalam lemarinya. Mengeluarkan semua hingga menimbulkan suara yang cukup gaduh. Sang kakak yang berada di sebelah mengernyitkan kening.
"Tuh anak lagi apa? Kok makin ke sini makin ngeselin?" Ia kembali mengecek pintu kamar sang adik. Ternyata pintu itu terkunci.
April menggedor pintu kamar sang adik. "Ngapain sih woi?"
"Jangan ganggu aku!" teriaknya.
April mengernyitkan keningnya. "Dih, adik kurang ajar. Awas ya, kalau minta bantuan? Nanti nggak akan aku bantu!"
Yuvi mencibir tanpa suara, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. "Ini benda ke mana yah?" Ia mengusap pelipis yang meninggalkan noda bewarna coklat debu.
"Padahal pulsa di sana banyak banget diisikan sama Manas." Ia menghela napas panjang.
Akhirnya, Yuvi menghempaskan dirinya pada kasur yang tidak empuk itu, meninggalkan derit ranjang yang terbuat dari bahan metal.
Ia menarik ponsel dan memeluknya. "Anggap saja ini memeluk mu, Mas. Aku kangen banget," ucapnya sendu.
Keesokan hari, ia baru saja merapikan merapikan kamar yang telah hancur bagai kapal pecah karena mencari benda kecil. Dengan wajah memelas, Yuvi beringsut mencari sang ibu. Namun, ternyata ibunya sudah tidak ada.
__ADS_1
"Apa Ibu ke kebun ngantarin makanan buat Ayah?"
Dia memelas kembali ke kamar. "Kasian sekali kamu, Mas? Padahal ini sedikit lagi, tapi pulsa pun aku tak punya."
Seakan mengingat sesuatu, ia melirik ke dinding sebelah kamarnya, di mana sang kakak sedang bersiap untuk berangkat bekerja. "Mbak pasti punya paket data, kan? Boleh minta tethering kali ya?"
Ia kembali bergerak sembari mengintip ke kamar sang kakak. Beruntung, pintu kamar April tidak ditutup. Kakaknya terlihat sibuk merapikan kamar.
April menyadari kehadiran seseorang yang terus memantaunya. "Hmmm, sepertinya ada sesuatu yang kamu butuhkan 'lagi'?"
Yuvi tersenyum kikuk. "Aaah, Mbak—"
"Nggak ada!" Potong sang kakak dengan cepat.
"Lah? Aku kan belum bilang apa-apa?"
"Oh ... jadi memang ya? Mbak-mu ini hanya kau cari di saat butuh doang? Ini tiap dibilang malah ngeyel mulu." April melirik sang adik di ujung mata lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.
Yuvi melihat ponsel saudarinya ini tergeletak menganggur begitu saja. "Gimana Mbak? Udah bisa dibuka hapenya? Kenapa dikunci segala?"
"Udah dong, aku kan pemiliknya. Gampang buka blokiran. Justru karena tahu kamu kayak gimana, makanya aku kunci."
Yuvi memanyunkan kembali bibirnya. "Mbak ... boleh—"
"Nggak boleh!" Kembali April memotong ucapan Yuvi dengan cepat.
"Aku cuma mau minta—"
"Nggak ada!" April terus menyela ucapan Yuvi.
__ADS_1