Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
50. Permintaan


__ADS_3

Informasi tersebut disampaikan oleh Bharada Jun, ia tampak sangat terburu-buru ingin menarik Axel. Meskipun ini berita yang sangat menyenangkan, tetapi ia merasa urusan bersama Komandan Aji belum selesai. Ia melirik pimpinan divisi kriminal tersebut.


"Silakan! Anda bisa mengikuti Bharada Jun. Karena saya, akan melanjutkan kasus Brigpol Luki. Dia akan ditindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku." Komandan Aji memandang Brigpol Luki yang kali ini sudah tertunduk lemas.


Axel menyetujui saran Komandan Aji langsung mengikuti Bharada Jun berjalan cepat mengikuti langkahnya menuju ke ruang IT.


Di sana, terlihat seorang berseragam, duduk di hadapan beberapa unit komputer. Bharada Jun pun duduk di samping pria yang belum dikenal oleh Axel itu.


"Saudara Axel, beliau ini adalah salah satu perwira muda yang sangat cerdas pada Divisi IT kami. Kami semua memanggilnya dengan Mas Imam. Tadi saya hanya sekedar iseng bertanya apakah kita bisa melacak tujuan jet pribadi yang tanpa informasi sama sekali."


"Terus, Mas Imam ini bilang, bisa ... katanya kita bisa menggunakan Flightradar24. Jadi, flightradar24 ini merupakan salah satu layanan untuk memantau dan melacak informasi penerbangan pesawat terbang secara real time. Meskipun informasi penerbangan jet pribadi dirahasiakan oleh ATC (pemandu lalu lintas udara) tetapi, layanan ini bisa membuat kita mengetahui tujuan keberangkatan pesawat tersebut." terang perwira muda bernama Imam itu.


Axel pun duduk di sisi lain pria yang memiliki keahlian di bidang IT ini.


"Tadi Mas Jun sudah memberikan perkiraan waktu keberangkatan perjalanan menggunakan pesawat jet pribadi tersebut. Setelah saya otak-atik ... mereka beberapa kali melakukan transit. Terakhir kali, pesawat itu berhenti di Bandara John F. Kennedy."


Monitor yang menampilkan bentuk bumi yang bulat, semakin lama semakin fokus menampilkan kotak-kotak memperlihatkan satu titik. "Bandara itu berada di New York."

__ADS_1


Axel tercengang mendengar penjelasan anggota kepolisian yang jago IT itu. "Yakin, Mas? New York?"


Axel menatap Bharada Jun tanpa berkedip. Namun, Bharada Jun mengedipkan matanya beberapa kali dan menepuk lengan pria yang dalam keadaan shock tersebut.


"Begitu lah adanya Mas," terang perwira muda itu.


Pada benua yang berselang waktu dua belas jam dari Indonesia, tampak seorang wanita sedang mengendap di tengah redupnya penerangan di rumah itu. Tadinya setelah Mila memastikan Arsen dan Aziel tidur, ia kembali menyusun potongan-potongan kertas tersebut diam-diam dalam kamar.


Namun, ia baru menyadari bahwa potongan tersebut tidak cukup. Ada satu bagian yang hilang, membuat Mila diam-diam mengendap di antara cahaya remang lampu menuju meja tempat dia menyusun pecahan kertas  tadi siang.


Mila memfokuskan penglihatannya memperhatikan setiap inci pada meja itu. Beberapa kali ia mengucek mata karena merasa tidak nyaman pada indera penglihatannya dalam cahaya yang minim ini.


"Tu-Tuan?"


"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini di luar kamar sendirian?" Tangan Arsen bersidekap dada memperhatikan polah Mia yang terlihat cukup aneh dan mencurigakan.


"Aaah, aku haus ... ucapnya." Mila menggaruk rambut dengan kikuk melirik ke kiri dan ke kanan. Lalu matanya terfokus pada botol air mineral yang ada di dapur.

__ADS_1


"Nah, itu airnya ...." Mila buru-buru mengambil botol itu memindahkan sebagian isinya ke dalam gelas.


Di Indonesia, pada waktu yang sama Axel sedang menghadap kepala kejaksaan tinggi meminta untuk mengusut lebih tuntas lagi dugaan kasus penculikan, penghilangan nyawa, dan penjualan organ manusia secara tidak manusiawi. Dan anehnya, hal itu dilakukan oleh seorang dokter sekaligus sebagai direktur rumah sakit.


"Dia sudah kabur keluar negeri, apa masih perlu dikejar?" tanya Kepala Kejaksaan Negeri di provinsi ini.


"Memang benar, Pak. Namun, saya harap, Bapak mau membantu saya dan menuntaskan kasus ini hingga ke akarnya. Hal ini bisa membuat efek jera kedepannya. Sehingga, tak akan ada lagi yang berani melakukan hal yang sama lalu dengan mudahnya kabur begitu saja keluar negeri."


"Jika selalu dibiarkan karena alasan dia sudah kabur keluar negeri, maka akan membuat efek buruk di masa depan. Semua kejahatan dilakukan dan dengan mudah kabur begitu saja. Jangan heran hal yang sama akan terjadi berulang kali."


"Jika hukum negara ini bisa menumpaskan kejahatan sepenuhnya hingga tuntas, maka negara-negara adi daya lainnya tidak akan memandang negara kita dengan sebelah mata."


Kepala Kejaksaan Negeri bernama Arifin, menyimak dengan seksama. "Namun, ini sudah bukan wewenang kejaksaan negeri lagi. Jika sudah merambah keluar negeri, maka ini sudah masuk pada ranah kejakaaan agung." terang Arifin.


"Lagian, ini urusan pihak kejaksaan. Kamu tidak ada hubungannya dengam semua ini. Kamu jangan mencampurkan urusan pribadi dengan masalah hukum seperti ini."


"Bagaimana jika hal ini terjadi pada istri Anda, Pak? Apakah akan tetap berpangku tangan?" tanya Akel kembali.

__ADS_1


Arifin menghela napas panjang. "Huuff ...." Ia tampak kebingungan dengan pertanyaan intimidasi yang dilemparkan oleh Axel barusan.


__ADS_2